AWAK bantah tunggangi demo omnibus law: ‘Ini pola lama’, polisi mengambil Jumhur Hidayat dkk

0 Comments
AWAK bantah tunggangi demo omnibus law: 'Ini pola lama', polisi mengambil Jumhur Hidayat dkk

Polisi menangkap sejumlah anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) terkait demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja pekan lalu.

Besar Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol. Awi Setiono mengonfirmasi bahwa empat anggota KAMI di Kawasan dan empat di Jakarta telah ditangkap tim siber Bareskrim.

Penangkapan bagian KAMI, salah satu kelompok dengan kritis terhadap pemerintah, terjadi pada tengah polemik soal “aktor intelektual” di balik kerusuhan dalam unjuk rasa menentang omnibus law Undang-Undang Membikin Kerja.

KAMI membantah tudingan bahwa mereka berperan dalam kerusuhan, menyebut interpretasi ini merupakan bagian dari “pola lama” mengambinghitamkan kelompok yang bertentangan dengan pemerintah.

Siapa saja yang ditangkap dan apa alasannya?

Melalui pesan teks kepada BBC News Indonesia, Brigjen Pol. Awi Setiono mengungkapkan nama-nama anggota KAMI yang ditangkap tim siber Bareskrim.

Mereka adalah Juliana, Devi, Khairi Amri, dan Wahyu Rasari Putri dari KAMI Kawasan; Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Kingkin di AWAK Jakarta.

Sebelumnya, kepolisian mengatakan kepada media bahwa Anton Permana ditangkap pada keadaan Senin, sedangkan Jumhur dan Syahganda pada hari Selasa.

Khairi Amri ditangkap Polrestabes Medan pada keadaan Senin. Adapun waktu penangkapan bagian lainnya belum diungkap.

Awi membenarkan bahwa penangkapan mereka terkait dengan pertunjukan besar menolak RUU Cipta Kerja pekan lalu.

Awi juga mengungkap bahwa mereka ditangkap atas sangkaan “memberikan informasi yang menimbulkan rasa kesumat atau permusuhan terhadap individu ataupun kelompok tertentu berdasarkan SARA & penghasutan”.

Ketua Komite Eksekutif KAMI, Ahmad Yani mengatakan belum tahu bukti penangkapan Syahganda dan Jumhur. Adapun penangkapan Anton, diduga karena unggahan di media sosial – namun ia belum bisa memastikan daya unggahan tersebut.

Apa tanggapan KAMI?

Ahmad Menjalankan mempertanyakan penangkapan sejumlah anggota KAMI oleh polisi. Ia juga dengan khusus mengungkapkan kekhawatiran atas suasana Jumhur, yang disebutnya baru keluar dari rumah sakit setelah melakukan operasi empedu.

Ia membantah bahwa kelompoknya punya andil dalam kerusuhan di ujung demo menolak omnibus law , mengklaim bahwa mereka adalah “gerakan moral, putaran intelektual” yang sangat menentang kebengisan.

Bertambah jauh, Ahmad menyebut penangkapan anggota KAMI sebagai “pola lama” sebab upaya mendiskreditkan gerakan yang serius terhadap pemerintah.

“Ada gerakan massa, sesudah itu ada [tindakan] anarkis; bukannya mengusut anarkis itu tapi malah mencari kambing [hitam], ditujukan kepada pihak-pihak laksana KAMI ini, ” ujarnya.

Pada Kamis pekan lalu, Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan akan menindak tegas situasi yang disebutnya “aktor intelektual & pelaku aksi-aksi anarkis dan berbentuk kriminal” dalam demonstrasi menolak UU Cipta Kerja.

Mahfud tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang dimaksud secara “aktor intelektual” itu, namun dakwaan seperti ini berulangkali dibantah oleh pimpinan buruh dan mahasiswa.

Bagaimanapun, diskusi tentang keberadaan aktor intelektual pada balik demonstrasi menolak UU Membangun Kerja yang diwarnai kerusuhan dalam sejumlah daerah terus bergulir.

Mantan presiden RI itu meminta negeri segera mengungkap siapa aktor yang disebut-sebut “menunggangi” demonstrasi.

“Kalau tidak (disebutkan aktor intelektual itu), nanti dikira negaranya melakukan hoaks, tidak rupawan, karena kita harus percaya secara pemerintah kita, ” kata SBY dalam video tanya jawab yang diunggah di laman Facebook resminya.

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Pada hari Senin, ditemukan sebanyak spanduk yang menuduh KAMI menunggangi aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Detik melaporkan bahwa spanduk bertulisan “KAMI Terbukti Menunggangi Aksi Demo Buruh & Pelajar” sudah terpasang sebelum massa Pakta Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) menggelar aksi di lokasi tersebut.

Ketua Komite Eksekutif KAMI, Ahmad Yani membantah tudingan itu. “Kalau kecocokan ide bahwa kita menolak peraturan omnibus law iya. Pertanyaannya, apakah kita melawan hukum kalau kita menolak itu?… Hak menyatakan aksioma kan boleh, ” ujarnya.

Siapa SAYA?

Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia dideklarasikan dalam bulan Agustus lalu. Gerakan ini diinisiasi antara lain oleh Keyakinan Syamsyudin.

Beberapa orang yang ikut mendirikan kelompok ini pernah mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019, seperti Said Didu, Malem Sambat Kaban, Rocky Gerung, dan Ichsanuddin Noorsy.

Ada pula Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI dengan pernah mendapat dukungan untuk menjelma bakal calon presiden pada Pilpres 2019.

Namun demikian, mereka membantah mempunyai motif politik terkait pemilu 2024 mendatang.