Banjir bandang terjang Flores Timur, NTT, pengiriman bantuan ‘terkendala cuaca’, korban: ‘Kami sangat-sangat panik, kami terisolir’

0 Comments

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

4 April 2021, 19: 54 WIB

Diperbarui 9 jam yang lalu

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA MEMOTRET

Proses transmisi bantuan untuk mencari serta mengevakuasi korban akibat banjir bandang dan tanah terbis di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih sulit dikerjakan lantaran akses ke letak bencana terganggu hujan keras dan gelombang tinggi.

Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (04/04) dini hari, disebut seorang warga adalah yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencetak lokasi terdampak ada di empat kecamatan dan tujuh desa.

BNPB mengatakan sampai pukul 17. 30 WIB, tercatat setidaknya 41 orang meninggal dan puluhan lainnya dinyatakan masih buyar.

Proses pengiriman bantuan untuk pencarian korban maupun warga dengan terdampak, masih sulit dikerjakan lantaran akses ke tanah tersebut terganggu hujan lebat dan gelombang tinggi, logat BNPB.

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengutarakan upaya antisipasi kepada masyarakat “sudah dilakukan dengan mengantarkan informasi cuaca ekstrem” daripada Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG).

“Tapi titik-titik yang terjadi [bencana banjir bandang] tersebut selama ini tidak pernah tersentuh banjir, ” kata Anton, hari Minggu (04/04).

‘Sampai pukul 17. 30 WIB, 41 orang meninggal dunia’

Badan Nasional Penanggulangan Kematian (BNPB) menyebut hingga jam 18. 30 WIB objek jiwa akibat banjir bandang longsor di Kabupaten Flores Timur mencapai setidaknya 41 orang.

Tapi angka itu, kata Kepala Induk Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Asli, masih akan terus berkembang karena dalam proses pendataan.

“Memang di depan sempat muncul data nilai 44 orang meninggal yang didapat dari lapangan, tetapi setelah kami sampai di lapangan, kita verifikasi ulang, saat ini kami memperoleh data 41 orang meninggal dunia, ” kata Raditya.

Sementara korban luka-luka tercatat sembilan orang, mengikuti 27 orang hilang, kata pendahuluan Raditya.

‘Cuaca ekstrim, transmisi logistik ke Pulau Adodara terkendala’

Raditya mengesahkan pengiriman bantuan logistik kepada korban yang terdampak banjir dan longsor, terkendala status geografis.

“Untuk mendapatkan aksestabilitas, terutama pulau-pulau kecil, menjelma tantangan kita di sana, ” katanya.

Karena iklim ekstrim, bantuan logistik belum bisa dikirim melalui angkutan laut ke Pulau Adonara.

“Apakah nanti akan memakai pesawat atau heli, nanti akan kami sampaikan kemudian, ” ungkapnya.

Apakah alat-alat berat dapat dikirim ke lokasi?

Dia menambahkan, tantangan terberat lainnya adalah mengevakuasi dengan menunggangi alat-alat berat.

Ditanya apakah pemerintah sudah menetapkan status bencana di Flores Timur, Raditya mengatakan sejauh ini belum ada informasi mengenai hal itu.

“Mungkin kelak akan ditetapkan [statusnya], tapi kita lihat dulu perkembangannya, ” katanya.

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Cerita warga di Kecamatan Adonara: ‘Kami semua benar panik’

Wenchy Tokan, seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, mengutarakan banjir bandang yang berlaku pada Minggu (04/04) pagi buta membuat panik sebab masyarakat tak sempat menyelamatkan muncul.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23. 00 WITA & tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan kira-kira Kecamatan Adonara Timur memukul rumah-rumah yang berada dalam pesisir sungai.

Saat itu, katanya, mayoritas warga pantas tidur.

“Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di tempat kasur, karena kebanyakan awak sedang tidur, ” tambahan Wenchy Tokan kepada Quin Pasaribu yang melaporkan buat BBC News Indonesia, Minggu (04/04).

“Bangunan semua lengkap (hancur) semua. Rumah tetap dan semi permanen, tercampak ke laut, ” sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

‘Kami dalam kondisi terisolir’

Selain itu banjir bandang juga membuat dua jembatan dari beton yang menghubungan antar-desa juga terputus, ungkapnya. “Satu pembangkit listrik juga padam, ” tambahnya.

Sebab itulah, warga di Kelurahan Waiwerang maupun Desa Waiburak “kini dalam kondisi terisolir”, kata Wenchy.

Di wilayah ini, tim Basarnas mendokumentasikan tiga orang meninggal, 4 orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang buyar, ujar Wenchy, dilakukan secara manual dengan sekop.

Adapun puluhan warga dengan terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke satu bangunan sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita.

Sementara bantuan sasaran dari pemda, belum sampai. “Untuk sementara ini warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok anyar diatur untuk membuat dapur umum. ”

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Meminta bantuan dari pemerintah was-was

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan informasi kesedihan banjir bandang di empat kecamatan itu baru dia dapatkan sekitar pukul 08. 00 WITA karena jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga sore hari, katanya, pemda belum mampu mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian & pengiriman makanan kepada awak yang mengungsi di tanah tersebut.

Di kedudukan terparah yakni di Kampung Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada 1. 200 orang yang mengungsi dalam tiga lokasi yakni gedung gereja dan sekolah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan akses tiang yang tertutup longsor, pembentukan dapur umum masih terhenti.

Karena itulah, ia berharap ada “dukungan negeri pusat untuk penanganan para-para korban”.

Ia berharap Senin (05/04) pengiriman alat berat maupun bahan makanan sudah bisa dikirim.

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April – 6 April, status Nusa Tenggara Timur dalam kondisi siaga daya hujan sedang dan lebat yang disertai petir & angin kencang pada gai hingga siang hari.