Belanda menghadapi masa lalu sebagai penjajah melalui lukisan dan artefak

0 Comments

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

  • Cath Pound
  • BBC Culture

forty-four menit yang lalu

Sumber gambar, Rijksmuseum

Sebuah pameran pada Rijksmuseum berupaya menjelajahi kisah kelam perbudakan dengan menampilkan karya-karya seni yang dibuat di era Zaman Keemasan Belanda. Cath Pond menelisiknya.

Potret berukuran besar karya Rembrandt yang memunculkan Oopjen Coppit dan suaminya, Marten Soolmans, adalah dua di antara sederet harta tak ternilai milik Rijksmuseum di Amsterdam—museum seni serta sejarah Belanda paling bergengsi.

Dengan balutan busana stylis dan dilukis menggunakan metode yang hanya bisa dipesan orang-orang kaya zaman tersebut, pasangan tersebut adalah struktur nyata era kemakmuran ekonomi dan kejayaan artistik yang biasa disebut ‘Zaman Keemasan Belanda’.

Namun, jika diselami lebih dalam, kedua potret ini juga membeberkan kisah yang rumit serta meresahkan. Pasangan Soolmans menumpuk kekayaan dengan berinvestasi pada pemurnian gula yang diproduksi para budak di sejumlah perkebunan di Brasil.

Lebih dari two hundred and fifty tahun Belanda menjajah beberapa wilayah yang kini jadi Indonesia, Afrika Selatan, Curaçao, dan lain sebagainya. Pada tempat-tempat inilah, Belanda memperlakukan budak pria, perempuan, serta anak-anak tidak selayaknya manusia.

Baca juga:

Perbudakan kerap disangka sebagai sesuatu yang diaplikasikan sekelompok kecil komunitas pada luar negeri Belanda. Namun, sebuah pameran baru pada Rijksmuseum membuat terobosan oleh mengungkap bagaimana perbudakan menyebar ke setiap bidang penduduk, baik di wilayah jajahan maupun di Belanda. Perbudakan pun menjadi warisan yang masih berimbas ke masyarakat Belanda hingga kini.

Sumber gambar, Rijksmuseum

“Bukan sebatas elite (yang terlibat perbudakan), tapi juga para tukang yang hidup sebagai subkontraktor, seperti pandai besi / tukang kayu yang bekerja di galangan kapal, atau juru tulis yang menyajikan kontrak. Jika Anda melihat seluruh rantainya, maka (perbudakan) meresap lebih dalam di masyarakat Belanda dari yang kita kira sebelumnya. Ya pikir penting untuk memberitahu para pengunjung bahwa sejarah bukan hanya terjadi di tempat yang jauh pada wilayah jajahan, tapi ini adalah sejarah nasional kami dan melibatkan kita semua, ” kata kurator sejarah Rijksmuseum, Eveline Sint Nicolaas, kepada BBC Culture.

So gut wie keine Protestan Belanda awalnya enggan melibatkan diri ke di dalam perdagangan budak. Bahkan, seorang pendeta menyebut perbudakan sebagai “penyimpangan kepausan” yang dilakukan orang Spanyol dan Portugis.

Akan tetapi sikap ini mulai berubah ketika Belanda meluaskan penjelajahan ke luar negeri.

“Menjadi jelas jika kita ingin bersaing lalu merebut dari Portugis, maka Belanda harus berpartisipasi dalam perdagangan budak. Itu menyebabkan perubahan dalam pesan yang disebarkan gereja, ” kata Sint Nicolaas.

“Mereka (pihak gereja) mencari kisah-kisah dalam Alkitab untuk membenarkan perbudakan dan berargumen bahwa Perjanjian Lama menyebutkan perbudakan diterima ketika Nabi Nuh mengutuk keturunan Ham menjadi budak, ” sambungnya.

Dalam kisah itu, Alkitab sama sekali tidak menyebut bahwa Pork adalah kulit hitam.

“Argumen ini sedemikian pelik sehingga saya selalu susah memahami mengapa itu dimungkinkan… tapi hanya sedikit pendeta yang mempertanyakannya, padahal wujud bagian menurunkan derajat ‘kaum lain’ sebagai manusia, inch ujar Sint Nicolaas.

“Saya pikir penting untuk menyebutkan rasialisme bukanlah sesuatu yg selalu eksis, ” kata kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders.

“Diskriminasi bersifat universal, namun melegalisasinya sebagai sistem yang membikin sebuah kelompok manusia tertentu melayani kelompok lainnya, tersebut adalah sesuatu yang diterapkan penjajahan. Pada akhirnya penjajahan dikuatkan oleh gagasan-gagasan rasis yang ‘ilmiah’. Rasialisme dilahirkan penjajahan, bukan sebaliknya. inch

Bagi rakyat Belanda, memahami sejarah ini sama oleh menghadapi kebenaran yang menyakitkan. Apalagi rakyat Belanda lama menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang toleran.

Pihak Rijksmuseum sendiri menyadari bahwa mereka lamban dalam mengisahkan cerita-cerita perbudakan. “Kami pikir tidak ada obyek untuk menceritakan kisah ini dan itu adalah batu penarung besar di awal, ” jelas Sint Nicolaas.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Sejarah yang personal

Pameran ini telah direncanakan selama bertahun-tahun. Bahkan, Rijksmuseum sampai harus memperkerjakan sejumlah staf baru yang profesional di bidangnya serta punya riwayat keluarga yg relevan.

Ambil contoh kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders. Dia lahir di Curaçao, kemudian hijrah dri Belanda ke Suriname pada 1976 ketika negara itu merdeka.

“Nenek moyang saya berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia. Mereka orang yang memperbudak, diperbudak, serta pekerja migran. Sejarah kolonial rumit ini diterima pada Karibia pada laju yg lebih cepat ketimbang di Eropa. Namun kini kami mengikuti hal serupa, inch katanya.

Pihak museum kemudian memutuskan untuk fokus dalam kisah-kisah individu yang terlibat dalam sistem perbudakan—mereka yg diuntungkan, mereka yang menderita, dan mereka yang memberontak melawan.

Fokus pada aspek sosial, alih-alih sejarah ekonomi perbudakan, adalah sesuatu penting ketika hendak memaparkan kisah mereka yang diperbudak, “orang-orang dengan nama dan kisah, ketimbang ‘budak’ sama sekali tanpa nama yang dilabeli ‘kargo’ dalam arsip, ” ujar Sint Nicolaas.

Kesaksian langsung dari orang-orang uang diperbudak sungguh jarang mengingat membaca dan menulis dilarang di sebagian besar wilayah jajahan. Karena itu, tim art gallery harus memeriksa ulang semua objek koleksi secara kritis, memaknai sumber tulisan kontemporer secara hati-hati, dan memanfaatkan sejarah lisan guna memaparkan kisah mereka.

Koleksi benda-benda di museum, contohnya “troncos” yang digunakan buat membelenggu kaki budak serta “kappa” yang digunakan sebagai ceret di perkebunan gula, membantu orang-orang memvisualisasikan pengalaman mereka yang dperbudak.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Kappa terkait dengan kisah Wally, seorang budak pria yang dipaksa bekerja di perkebunan gula di Suriname.

Kisah bermula ketika pemilik baru meniadakan libur hari Sabtu sembari menerapkan sistem izin untuk meninggalkan perkebunan. Tindakan ini memicu seluruh budak kabur beramai-ramai ke wilayah hutan di sekitar perkebunan.

Saat para budak ditangkap, 19 orang diampuni. Namun, pemimpin mereka, termasuk Wally, disiksa hingga meninggal perlahan.

Kehororan kisah ini menjadi lebih mengena karena bersifat personal. Apalagi Wally dan rekan-rekannya diperlakukan secara keji atas dasar argumen agama yang diciptakan untuk kekayaan.

Baca juga:

Mengingat Marten Soolmans membeli bahan baku gula dari makelar, apakah dia mengetahui kebrutalan sistem yang memproduksinya?

Seberapa jauh rakyat Belanda memahami penyiksaan di wilayah jajahan diakui Smulders perlu dikaji lebih dalam.

“Orang-orang bisa tahu melalui keluarga. Orang-orang kelas atas yang pergi ke wilayah jajahan dapat melihat perbudakan dan awak kapal bisa melihat perbudakan dari dekat. Jadi khalayak bukannya tidak tahu apa yang sedang terjadi ketika itu, ” kata Smulders.

Kalaupun dia dan istrinya, Oopjen, awam kekejian perbudakan, mereka mestinya tahu wujud orang-orang yang lolos dari perbudakan karena mereka kemungkinan melihat mereka saat menuju studio Rembrandt. Pasalnya, facilities milik pelukis tersohor tersebut berada di area yang dihuni komunitas orang-orang kulit hitam terbanyak di Amsterdam pada abad ke-17.

Bahwa ada populasi orang kulit hitam sangat mungkin mengejutkan banyak individu. Secara resmi, perbudakan ilegal dan tidak diperbolehan di Belanda, namun ada saja jamaah yang membeli budak pada wilayah jajahan dan membawa mereka ke Belanda. Saat itu, memiliki pembantu berkulit gelap menandakan sang majikan berasal dari kalangan orang dengan pengaruh besar.

Paulus Maurus sangat mungkin adalah salah satu orang semacam itu. Kisahnya terungkap melalui kalung tembaga yang dapat dilacak ke rumah majikannya.

Kalung itu sejatinya digolongkan sebagai kalung anjing ketika menjadi koleksi museum pada 1881. Namun, detailnya tidak pernah dicermati secara saksama, walaupun kalung serupa juga dikenakan para budak dasar Afrika di lukisan-lukisan. Pihak museum kini mengira kalung tersebut dipakai Paulus.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Bagaimana rasanya hidup sebagai pria kulit hitam yang bebas di tengah masyarakat Belanda?

“Lebih rumit dari yang kami kira, ” kata Smeulders. “Di satu sisi mereka diterima, mereka punya keluarga dan anak… namun pada saat sama jika Anda minoritas dan Kamu melihat penggambaran stereotipikal di sekitar Anda, rasanya pasti sangat tidak enak. inch

Paulus menikah dan punya anak. Keturunannya mungkin masih bermukim di Amsterdam saat ini meskipun sulit untuk diketahui.

“Setelah beberapa generasi sulit dilihat yakni orang punya DNA Afrika, ” kata Smeulders.

Pria kulit hitam pada umumnya menikahi perempuan kulit putih. Itu mungkin mengejutkan, tapi saat itu tidak ada larangan menikah lain ras. Kita hanya bisa berasumsi bahwa prasangka kurang menonjol di kalangan ekonomi bawah.

Smeulders mengira-ngira apa akibatnya jika sampel-sampel DNA diambil dari kumpulan banyak orang Belanda.

“Yang paling membikin saya ingin tahu apa dampaknya pada masyarakat begitu orang-orang menyadari mereka terhubung secara pribadi dengan kisah dari kedua sisi, inch ujarnya.

Pemandangan dari kapal

Perilaku sosial bisa tertentu diubah jika bidang-bidang lain dalam sejarah Belanda dikaji lebih dalam.

Catatan sejarah tentang berakhirnya perbudakan kerap memberi tempat terpuji dalam kalangan pendukung penghapusan perbudakan di Eropa. Akan tetapi para pemberontak di dalam sistem jarang disoroti.

Sebagaiselaku, ala, menurut, khusus ini relevan dalam sejarah Belanda mengingat keengganan negara ini untuk turut menghapus perbudakan. Ketika Inggris menghapusnya pada 1833, Prancis pada 1848 (awalnya ditiadakan pada 1794 namun Napoleon mencabut aturan itu pada 1802), Belanda baru meniadakan perbudakan pada 1863.

Acara ini menyoroti kisah Tula, pejuang kebebasan di Curaçao yang terinspirasi Revolusi Prancis.

Ketika Belanda tunduk dalam kekuasaan Prancis pada 1795 dan menjadi Republik Batavia, Tula berpendapat bahwa petunjuk Prancis harus diterapkan di wilayah jajahan Belanda. Salah satu aturannya adalah para budak bebas secara hukum.

Namun, kisah Tula kurang diketahui di Belanda karena era Republik Batavia jarang dikaji dalam sejarah Belanda.

“Bagi kami, era Gemeinwesen Batavia adalah periode Prancis… masa itu tidak menjadi bagian dari siapa kami dalam imajinasi kami lalu peranan orang Afrika-Karibia di dalam era revolusi itu bukan pernah menjadi narasi kami sehingga orang seperti Tula benar-benar hilang, ” jelas Smeulders.

Cara memandang sejarah secara sempit ini diistilahkan sejarawan Alex van Stipriaan sebagai “pemandangan dari kapal”, sejarah yang didominasi akademisi hingga 1980-an.

“Sejarah ini dilihat dari kapal, dari atas menatap ke bawah—secara harfiah—terhadap negara jajahan serta rakyat jajahan. Tidak ada kata-kata apapun dari orang-orang yang dijajah, ” ujarnya.

Meskipun dunia akademisi telah bergerak jauh dari cara pandang tersebut, sikap terkait masih berada dalam benak publik karena sejumlah sejarawan yang menilai dengan pandangan itu disukai oleh press.

“Mereka selalu dikutip, ” kata Van Stipriaan sembari mengangkat bahu.

Dia menilai hal ini sebagai nasionalisme populis yang terlihat di seantero Eropa. “Pemikiran yakni ‘mereka’ mencoba mengambil sejarah ‘kami’ dan toleransi ‘kami’, ” sambungnya.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Museum juga punya dampak pada apa yg disebut van Stipriian, “warisan mental kami”.

“Semua koleksi ini adalah perwakilan dari cara pandang yg sangat Eurosentis, cara pandang sejarah yang sangat prejudice, sejarah ‘superioritas’ kulit putih dan ‘inferioritas’ kulit hitam. ”

Untuk memahami betapa berbahayanya pengaruh narasi ini, tengoklah pawai tahunan Santo Nikolas. Dalam pawai itu, pria dan perempuan kulit putih memakai riasan hitam untuk menjadi Piet Hitam.

Menurut Van Stipriann, selama berpuluh tahun rakyat Belanda memandang diri “kami tidak bisa disebut rasis karena kami toleran…[pawai] itu hanya kelakar, tradisi kami. ”

Namun ulah itu mulai berubah. Salahsatu perdebatan nasional soal Piet Hitam dimulai pada 2011 setelah dua seniman/aktivis muda Afrika-Belanda, Quinsy Gario and Jerry Afriye, memakai kaos oblong bertuliskan “Piet Hitam adalah Rasisme” saat pawai di Dordrecht.

Kemudian tahun lalu, sebuah survei menunjukkan 50% responden memilih mengubah karakter dalam pawai Natal. “Mengubah pandangan setengah populasi dari 10 tahun…dengan kondisi Belanda, itu cepat, ” papar Van Stipriaan.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Agar sikap dan cara pandang benar-benar berubah, Van Stipriaan meyakini sejarah perbudakan dan penjajahan perlu menjadi periode dari sejarah nasional. Ketika ini dia menjadi bagian dari sebuah tim pada Museum Perbudakan Belanda Trans-Atlantik.

Dia meyakini museum itu akan menjadi “penanda di Belanda|, meskipun museum itu sepertinya tidak akan buka sampai 2030.

Bagaimanapun, dia ingin menekankan yakni “ada banyak pergerakan, keadaan berubah, mungkin tidak terlalu cepat tapi berubah. ” Dia memandang penunjukan Smeulders—yang dia mentori untuk meraih gelar doktor—sebagai kepala bidang sejarah Rijksmuseum adalah bagian dari perubahan itu.

Latar belakang Smeulders sudah barang tentu membuat dirinya dapat menghadapi tantangan.

“Merangkul apa yang sudah terjadi lalu membuka dialog tentang sesuatu tersebut adalah satu-satunya panduan untuk bergerak maju. Masa lalu tidak bisa diubah, namun kita bertanggung jawab untuk saat ini: terletak dalam kita untuk berbuat lebih baik dengan mengakuinya sebagai sejarah nasional dan sesuatu yang memprihatinkan kita semua, ” kata Smeulders.

“Secara umum museum punya tugas yang sangat penting—menghadirkan pengetahuan dengan cara yang menyentuh orang, membuatnya secara private sehingga orang bisa menempatkan diri pada posisi jamaah lain yang hidup ketika itu, ” ujarnya.

“Yang saya harapkan secara tulus adalah kami bisa melakukan hal tersebut dengan acara ini dan pekerjaan kami adalah menunjukkan bahwa awd sejarah punya sisi berbeda. Kami sebagai museum perlu menghadirkan kisah yang lebih kompleks, yang membawa sepenuhnya suara ini. ”

Pameran bertema perbudakan dibuka di Rijksmuseum pada 5 Juni 2021.

Anda dapat membaca artikel ini dalam cara bahasa Inggris melalui situs BBC Culture