Beribu-ribu petani rumput laut NTT akan dapatkan ratusan juta rupiah setelah menang penukar rugi kasus tumpahan minyak terparah Australia

0 Comments

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

5 jam yang lalu

Sumber gambar, Yayasan Peduli Timor Barat

Beribu-ribu petani rumput laut Nusantara memenangkan ganti rugi kejadian tumpahan minyak terparah Australia dengan kompensasi diperkirakan menyentuh ratusan juta rupiah.

Tumpahan minyak ini mengacaukan panen rumput laut itu pada 2009.

Pengadilan Federal Sydney mengukuhkan tuntutan Daniel Aristabulus Sanda, yang memimpin gugatan atas nama 15. 000 petani rumput bahar di Timor Barat, kepada perusahaan PTTEP Exploration and Production Australasia, yang hidup di anjungan minyak Montana di Laut Timor.

Ketua Pengadilan Federal Australia, David Yates, mengatakan tumpahan minyak tersebut menyebabkan kerugian secara material, kematian, serta rusaknya rumput laut yang menjadi pekerjaan masyarakat setempat

Hakim memerintahkan petani untuk membayar Daniel sekitar Rp253 juta ditambah dengan bunga karena hilangnya lupa pencaharian setelah rumput lautnya rusak akibat tumpahan minyak.

Hakim juga mengatakan tengah menunggu laporan untuk memutuskan berapa orang petani rumput laut yang berhak mendapatkan ganti rugi dan berapa banyak dari 15. 000 itu.

Ferdi Tanoni, daripada Yayasan Peduli Timor Barat yang mengangkat kasus ini sejak 2009 mengatakan langsung mengontak Daniel – yang berasal dari Oenggaut, Pulau Rote – begitu keluar hasil sidang.

“Bapak dengan atur, saya terima sekadar, ” kata Ferdi mengambil Daniel kepada BBC News Indonesia, Jumat (19/03).

Tumpahan minyak 23 juta liter

Ia mengatakan bilapun pihak perusahaan akan banding, ia tetap yakin “akan menang juga karena buktinya (tumpahan minyak) luar umum. ”

Ledakan di anjungan minyak Montana itu menjadikan tumpahan minyak sebanyak 23 juta liter yang berlaku selama 74 hari.

Anjungan minyak itu berada pada perairan Australia namun tumpahannya sampai ke Laut Timor dan pesisir Indonesia.

Dari 15. 000 petani tersebut, sebagian di antaranya menganjurkan kesaksian di Pengadilan Federal.

Daniel Sanda mengatakan pada pengadilan tahun lalu kalau tumpahan minyak menghacurkan semua panen rumput lautnya.

Ia pertama kali mengindahkan adanya gelembung kuning abu-abu di perairan seputar era masa panen pada September 2009. Tak lama lalu, semua rumput laut menjadi putih dan mati, katanya saat itu.

Mata pencahariannya tak pernah pulih sepenuhnya, walaupun saat ini mulai tumbuh lagi.

Sekitar 30 petani lain memberikan kesaksian yang sama.

Perusahaan minyak itu mengaku lalai serta menghentikan operasi di sumur minyak namun selalu menentang tumpahan minyak itu sampai ke perairan Indonesia atau menyebabkan kerugian sebegitu tumbuh.

Perusahaan itu juga mengatakan bilapun tumpahan minyak datang ke pesisir Indonesia, tumpahan akan terpecah dan tak akan meracuni rumput bahar.

Perusahaan juga mengutarakan tidak memiliki kewajiban menghiraukan Daniel Sanda dan petani lain.

Namun Hakim Yates mengatakan dalam putusannya bahwa PTTEP Australasia – cabang perusahaan minyak Thailand dalam Australia – memiliki kepalang jawab atas Daniel serta petani lain.

Ia juga mengatakan Daniel Sanda menjalani kerugian penghasilan bertahun-tahun karena tumpahan minyak dan secara perhitungan hakim, ia mempunyai mendapatkan sekitar Rp253 juta.

“Saya merasa yakin bahwa tumpahan minyak dari sumber H1 sampai ke wadah tertentu di Indonesia, tercatat kawasan tempat pengaju syarat menanam rumput laut, ” kata hakim.

“Saya merasa yakin bahwa tumpahan patra ini menyebabkan atau secara material menyebabkan matinya hasil panen. ”

Perusahaan akan banding

“Saya merasa yakin bahwa walaupun hal ini sulit dinilai, walaupun ada ketidakpastian, kerugian pengaju tuntutan dapat dihitung, dan ia berhak mendapatkan ganti rugi.

Dalam pernyataan yang ditulis di situs mereka, PTTEP mengatakan mereka mengakui keputusan itu namun menyatakan kecewa dengan hasilnya.

Sumber gambar, Yayasan Peduli Timor Barat

“PTTEP menekankan putusan itu menyangkut klaim (Daniel) Sanda dan bahwa klaim semua anggota harus dihitung terpisah, ” kata pernyataan perusahaan.

“Keputusan pengadilan tidak menghapuskan persyaratan individu untuk menunjukkan kerugian dan keburukan yang mereka alami, ” tambah perusahaan itu.

PTTEP mengatakan mereka mempertimbangkan buat melakukan banding.