Covid-19: Karut marut isolasi mandiri, ‘terpaksa keluar rumah, tak diawasi petugas, hingga picu klaster keluarga’

0 Comments
Covid-19: Karut marut isolasi mandiri, 'terpaksa keluar rumah, tak diawasi petugas, hingga picu klaster keluarga'

Kebijakan isolasi mandiri di rumah untuk pasien Covid-19 disebut tidak efektif dalam membendung penyebaran virus corona, bahkan berkontribusi besar dalam menciptakan klaster keluarga, kata epidemiolog.

Sejumlah pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di berbagai daerah menceritakan pada BBC Indonesia, dengan jalan apa mereka dapat keluar kamar apalagi keluar rumah dengan leluasa. Itu juga ada yang mengklaim tidak mendapat pengawasan serta kontak tracing (penelusuran kontak) dari petugas.

Hingga kini kebijakan isolasi mandiri pada rumah masih diterapkan. Kendati serupa itu, pemerintah lebih mendorong para anak obat tanpa gejala hingga bergejala ringan untuk menjalani isolasi di sarana yang disediakan oleh pemerintah.

Negeri lalu mengambil strategi meningkatkan pusat karantina dan isolasi mandiri pada daerah, salah satunya melalui kegiatan sama dengan pihak hotel serta memanfaatkan fasilitas publik.

Rizal-Bandung, Jawa Barat: ” Tidak dipa n tau petugas

Setelah dinyatakan positif Covid-19 pada September lalu, Rizal seorang warga Bandung melakukan isolasi mandiri selama lebih dari utama pekan di rumahnya atas masukan petugas kesehatan.

“Selama isolasi di rumah, ternyata tidak dipantau cocok petugas, tidak ada yang bergurau kabar. Bahkan tahu positif sebab teman-teman, bukan petugas, ” kata Rizal kepada wartawan Yuli Saputra di Bandung yang melaporkan pada BBC News Indonesia akhir September lalu.

Rizal menambahkan, petugas pula tidak melakukan penelusuran kontak seusai ia dinyatakan positif.

Tracing contact [tidak ada] dari petugas. Tidak ditanya pernah kontak dengan sapa saja, melakukan aktivitas di mana, tidak ditanya. Bahkan yang minta tracing itu isteri yang nanya, bagusnya bagaimana buat keluarga. Soalnya kalau sudah dinyatakan positif, ditanya rumpun kontak tidak, ini tidak ditanya, ” kata Rizal yang saat ini hasil tesnya telah negatif.

Saat terkonfirmasi positif terjangkit virus corona, Rizal yang tidak menunjukkan petunjuk Covid-19 masih bekerja di ruang terbuka dan bertemu dengan orang lain. Keesokannya, ia memutuskan isolasi mandiri.

Setelah menjalani isolasi pada rumah, Rizal melanjutkan ke kemudahan pemerintah selama 5-6 hari. Selama di sana, ia mengaku memiliki fasilitas yang lebih baik dipadankan isolasi di rumah, dan menciptakan gaya hidup sehat serta taat protokol kesehatan.

Karenanya ia meminta agar setiap pasien Covid-19 sanggup menjalani isolasi di fasilitas negeri, dibandingkan isolasi di rumah.

Martin (bukan nama sebenarnya)-Bandung, Jawa Barat: “Untung saya tidak bodoh-bodoh amat”

Senada, warga Bandung yang lain, Martin (bukan nama sebenarnya) mengaku, tidak mendapatkan nomor kontak petugas kesehatan bila ada kejadian kritis, dan juga tidak ada instruksi apa yang harus dilakukan masa menjalani isolasi di rumah.

Dia mengkritik ketiadaan standar operasi pengerjaan bagi pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah yang kemudian memunculkan anggapan adanya “pengabaian”.

“Untungnya pemahaman saya tidak bodoh-bodoh amat. Saya baca-baca, sebisa jadi jaga jarak dengan orang di sekitar rumah, segala macam dilakukan sendiri. Akhirnya cari-cari informasi sendiri, ” kata Martin yang tak menunjukkan gejala Covid-19.

Ia membicarakan mendapatkan penelusuran kontak dari petugas kesehatan dan hasilnya ibu Martin -tinggal bersama- dinyatakan negatif. Martin kini sudah beraktivitas setelah hasil tes swab kedua dinyatakan negatif.

Protokol yang ‘kurang tersampaikan’

Kementerian Kesehatan sebenarnya telah mengeluarkan tulisan edaran protokol isolasi diri sendiri dalam penanganan Covid-19. Namun protokol itu disebut “kurang tersampaikan” pada masyarakat.

Dalam protokol tersebut, poin di antaranya adalah pasien tanpa pergi bekerja dan ke bagian publik, gunakan kamar terpisah, lakukan pengukuran suhu harian, dan terapkan perilaku hidup bersih dan bugar, serta hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit memburuk.

Daud Achmad, Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat mengucapkan, pasien isolasi mandiri di vila dipantau oleh puskesmas setiap keadaan, dan membantah jika tidak ada tim pemantauan yang bergerak ketika seorang pasien dinyatakan positif.

“Dipantau oleh puskesmas setempat melalui HP atau apa, dipantau suhu tubuhnya seperti apa, kemudian diingatkan minum vitamin apa, itu dipantau sebab puskesmas setempat. Lalu mengenai tracing , kami sesudah dapat informasi dari pasien, langsung dilakukan tes kontak erat semacam keluarga di rumah, ” kata Daud yang tidak mengetahui berapa jumlah pasien isolasi mandiri dalam rumah.

Daud memang mengakui adanya kelemahan sistem isolasi di rumah awut-awutan pasien hilir mudik, “tapi jika ada laporan, tim kesehatan tepat segera membawa ke pusat isolasi, ” katanya.

Di Kabupaten serta Kota Bandung, tingkat keterisian wadah tidur pasien tanpa gejala di pusat isolasi sebesar 33, 82% dari total 1. 020. Tatkala di Bogor, Depok dan Bekasi terdapat 315 kapasitas kamar (tiga hotel). Artinya, masih banyak tempat bagi pasien untuk menjalani isolasi di fasilitas pemerintah.

“Isolasi mandiri di rumah boleh, kita lihat punya kamar isolasi sendiri, daerah mandi sendiri, itu bisa akan tetapi diupayakan isolasi di pusat-pusat isolasi kita, ” katanya.

Berdasarkan keterangan pada akhir September lalu, jumlah pasien tanpa gejala di Jawa Barat sekitar 70% dari dari total hampir mencapai 24. 000 kasus.

Putri (bukan mana sebenarnya)-Surabaya, Jatim: “Terpaksa keluar rumah”

Di Surabaya, seorang pasien positif Covid-19, Anak (bukan nama sebenarnya), melakukan isolasi mandiri di kamar kos sebelum menjalani isolasi di fasilitas negeri.

Selama isolasi di kos, ia mengungkapkan terpaksa keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti membeli makan.

“Mau tidak sedia [keluar], apalagi saya letak di kos, semua sendiri, kulak sendiri, masak sendiri. Sebisa jadi saya lakukan pakai masker, sarung tangan, hand sanitizer, kalau di luar itu ada kelolosan, sedia bagaimana, ” katanya.

“Ada juga saudara saya yang merasa badannya segar padahal positif dan lagi isolasi di rumah, tapi ia tak jaga diri, keluar rumah, ke tempat keramaian. Tidak merasa takut dan bersalah dan tidak ada pemantauan. Itu lemahnya isolasi rumah, sulit diawasi, ” cerita Ananda.

Di kosnya, tetangga Putri dinyatakan terinfeksi virus corona pada saat dikerjakan penelusuran oleh petugas kesehatan. “Tim menelusuri siapa saja yang kontak erat dengan saya, ” katanya.

Putri beranggapan isolasi di sendi tidak efektif untuk dilaksanakan sebab selain bisa keluar rumah, serupa memunculkan beban sosial.

“Ada beban sosial dan psikologi kalau dalam kos karena ada ibu kos yang punya anak kecil, teman-teman kos. Kalau menurut saya semesta pasien dirawat di fasilitas pemerintah, jangan ada lagi yang isolasi di rumah. Selain menutup daya penularan, layanan kesehatan, vitamin serta makanan juga dijamin, ” katanya yang kini sedang menjalani isolasi di rumah sakit.

Parto (bukan nama sebenarnya)-Makassar, Sulsel: ” Isolasi di vila lebih baik

Namun di sisi lain, terdapat beberapa warga yang lebih memilih melakukan isolasi di vila dibandingkan di fasilitas kesehatan pemerintah.

Parto (bukan nama sebenarnya), warga Makassar, Sulawesi Selatan, yang menjalani ulangan swab usai bapak mertuanya tentu Covid-19 mengatakan, kondisi rumahnya memungkinkan dilakukan isolasi mandiri.

“Makan dikirim dan pesan online selama 12 hari. Dalam rumah kosong, hamba sendiri, keluarga di rumah dengan lain, Isolasi di rumah alternatif terbaik buat saya, ” sekapur Parto yang dinyatakan positif dua minggu sebelum pernikahannya kepada kuli Darul Amri di Makassar dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Parto yang tidak menunjukkan petunjuk Covid-19 itu mengatakan, tidak pernah keluar rumah selama isolasi. Ia juga mengatakan, selama isolasi tidak ada pendampingan dari petugas kesehatan.

“Tidak tersedia yang biasanya mengawasi positif ataupun bagaimana itu tidak ada, tidak ada sama sekali, murni sendiri, ” kata Parto yang diduga terinfeksi Covid-19 saat mengurus metode pernikahan.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Makassar Farid Wajdi juga memilih melakukan isolasi di vila setelah dinyatakan positif Covid-19 karena rumahnya memiliki fasilitas yang penuh dan dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan, dibanding di tempat lain.

“Saya memilih rumah karena kudu membaca, olahraga tiap hari, dengan menyenangkan di rumah. Saya khawatir kalau di tempat lain bakal kesulitan, ” kata Farid.

Farid menambahkan, selama isolasi, ia letak sendiri di rumah dan sudah mengungsikan anggota keluarganya ke tempat lain. Tim kesehatan pun rutin melakukan pemantauan ke rumahnya.

Mengapa isolasi mandiri ” tak efektif”?

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Jawatan Kesehatan Sulawesi Selatan, Husni Thamrin mengaku isolasi mandiri di rumah tidak efektif.

“Mereka [pasien] itu rata-rata bandel, invalid disiplin, tetap berkeliaran bahkan merembes kantor, terus kondisi sosial sendi mereka banyak yang tidak tampan untuk isolasi mandiri, misalnya utama rumah hanya memiliki satu zona mandi yang dipakai bersama, tersebut tidak layak. Yang ketiga khusus masyarakat di pemukiman kumuh yang padat, kontrakan, petak-petak tidak mungkinlah isolasi mandiri, ” kata Husni.

Jadinya kata Husni, isolasi di vila jadi salah satu penyebab lahirnya klaster keluarga yang berkontribusi terbesar penularan Covid-19.

“Bapaknya dulu [terinfeksi], dua hari berikutnya ibunya, cerai-berai istrinya juga, dan anaknya. Tersebut akibat apa? Karena akibat isolasi mandiri, ” kata Husni dengan mengatakan hingga kini Makassar masih masuk dalam zona merah.

Menyadari kelemahan isolasi mandiri di vila, Pemprov Sulsel telah bekerja sama dengan hotel sebagai tempat isolasi terpusat yang dinamai “Wisata Duta Covid”.

“Jadi seluruh pasien minus gejala di Sulsel didorong untuk ke hotel. Tidak boleh tersedia penderita Covid berkeliaran, biaya seluruhnya ditanggung pemerintah, ” kata Husni.

Isolasi mandiri ‘ciptakan’ klaster panti tangga

Senada dengan itu, epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, peningkatan klaster vila tangga salah satunya disebabkan sebab gagalnya isolasi mandiri.

“Isolasi di rumah hanya boleh dilakukan kalau memenuhi syarat ketat yaitu vila layak, keluarga dan lingkungan vila mendukung isolasi. Tapi sekarang batal karena syarat itu tidak dipenuhi. Untuk itu, sebaiknya isolasi dilakukan di fasilitas pemerintah, ” katanya.

Sesuai di Bogor, klaster keluarga menjadi peringkat tertinggi – sekitar 34% – penyebab penularan Covid-19. Spesialis epidemiologi menyebut klaster keluarga tersebut bisa berkontribusi hingga 85%.

Lalu dalam Kota Bekasi, data hingga Senin (28/09), terdapat 351 klaster tim dengan total 881 jiwa.

Kemudian di Bandung, terdapat 299 orang dibanding 109 kepala keluarga yang membangun Covid-19, data hingga Kamis (24/09).

Yunis menambahkan, klaster keluarga juga pegari akibat kurangnya aktivitas penelusuran & pemantauan tim kesehatan kepada para pasien isolasi rumah tersebut. Semacam contoh, di Jakarta penelusuran kontak menurun drastis dari 20-30 kasus pada April lalu menjadi pada bawah 10 kasus saat tersebut.

“Pengawasan, pendampingan, dan pemantauan kepada pasien yang isolasi di rumah betul minim yang berdampak mereka oleh sebab itu tidak patuh, ” katanya.

Strategi Luhut pusatkan isolasi mandiri

Kerja sesuai antara pemerintah dengan pengelola hotel merupakan salah satu strategi Gajah Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sejak ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk menekan penyebaran Covid-19 di 10 provinsi prioritas dan menghentikan bertambahnya klaster keluarga.

“Di pemerintah, semua Satgas terlibat penanganan Covid-19, kita mendorong penambahan pusat karantina dan isolasi mandiri bekerja sama dengan satuan hotel. Kita juga menyediakan tempat-tempat isolasi mandiri di berbagai hotel di daerah, ” kata Juru Kata Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi.

Menurut Jodi, di Jakarta sudah ada 10. 161 kamar hotel dengan keterisian 4. 985 unit. Kemudian di Jawa Tengah, ada 6. 899 kapasitas dengan keterisian 64 kamar, termasuk juga dalam provinsi prioritas lainnya.

“Karena banyak penularan di klaster keluarga maka daerah diperintahkan oleh Pak Menko untuk segera mempersiapkan tempat-tempat isolasi mandiri, antara lain kerja persis dengan perhotelan yang dijadikan khusus menapung orang-orang yang akan diisolasi secara terpusat, ” katanya.

Jodi pula mengatakan pemerintah akan mendorong pengembangan tim penelusuran dan jumlah tes karena kondisi sekarang belum teoretis – seperti Jakarta baru tersedia sekitar seribu orang dari kebutuhan 3. 300 orang.

“Di Jakarta itu tiga perempat kapasitas tes tersebut tes mandiri, sementara tes surveillance buatan penelusuran hanya 3-4 ribu bola lampu hari, itu akan ditingkatkan dan Pak Menko juga menekan biar harga tes lebih terjangkau, ” tambahnya.

Terdapat tiga strategi sari pemerintah di bawah komando Luhut yaitu perubahan perilaku masyarakat agar disiplin protokol kesehatan, peningkatan testing dan tracing , serta peningkatan jumlah pusat isolasi terpusat yang diikuti dengan peningkatan tadbir perawatan pasien Covid-19.

Berdasarkan data pada akhir September lalu, ada 106 hotel yang dibiayai negeri sebagai pusat karantina mandiri.

Kemudian tenggat Senin (05/10), total kasus pasti di Indonesia terus meningkat menjadi 307. 120 kasus dengan objek meninggal mencapai 11. 253 orang yang menempatkan Indonesia berada pada urutan 22 total kasus terbanyak di dunia.

Korban meninggal terbesar terjadi di Jawa Timur (22 orang), DKI Jakarta (16 orang) dan Jawa Barat 15 orang.