Covid-19: Kisah para tahanan hawa ‘yang terlupakan’ selama pandemi: Satu toilet untuk 100 orang, 18 orang rebah di ruang 4×4 meter

0 Comments

Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

  • Swaminathan Natarajan
  • BBC World Service

8 jam yang lalu

Sumber gambar, Amnesty International

“Selnya betul bau. Alasnya tikar tanda. Saya tidur di tikar yang sudah dipakai banyak orang. ”

Safoona Zargar terkejut saat ia melihat sel di penjara wadah ia harus mendekam.

Saat itu, April 2020, mahasiswi berusia 28 tahun dari India ini ditahan polisi karena ikut berdemonstrasi.

Karantina nasional diterapkan buat menangani pandemi dan Safoora harus menjalani kehidpan pada penjara Tihar, Delhi, pada India, kompleks penjara terbesar di Asia Selatan.

Kondisi sel mengibakan, namun pandemi Covid-19 menjadikan kondisinya bertambah buruk.

Melakukan penahanan di saat lockdown

Kepada BBC, Safoona mengatakan protokol kesehatan sulit diterapkan di kompleks penjara, padahal protokol ini penting untuk menekan penyebaran virus.

Baca juga:

Ia menuturkan hanya ada utama botol pembersih dan tersebut pun isinya sudah dicampur air. Satu botol sanitiser untuk seluruh bangsal. Ada botol-botol pembersih lain, tetapi botol-botol ini tak sudah diisi ulang.

Ia harus menggunakan cairan pembersih yang ia bawa sendiri.

“Petugas memberi kami, para tahanan, setengah batang bubuk dan masker darurat, ” ungkap Safoora.

Kondisinya kurungan — sama halnya dengan penjara di banyak negara lain — sangat hati dan penuh sesak.

Sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian penjara di India sama 118%, sementara untuk tangsi Tihar angkanya 175%, oleh karena itu jumlah penghuni jauh melebihi kapasitas.

Yang lebih hati lagi, Safoora ditangkap & dimasukkan ke penjara masa hamil tiga bulan.

Sendirian di sel

“[Suatu ketika] saya harus melakukan tes USG. Pengalaman dengan menyakitkan… tak ada yang mau berbicara dengan aku, bahkan dokter tak mengingat wajah saya, ” introduksi Safoora.

Ia mengira dirinya dipandang rendah karena ia berstatus sebagai tahanan.

Tapi ini baru awal dibanding penderitaannya yang panjang selama menjalani hari-hari di tangsi.

“Setelah tes USG, beta dipindahkan ke sel sendiri selama 15 hari, ” katanya. Di Tihar, sel tunggal — yang dipisahkan dari para tahanan asing — adalah hukuman bagi mereka yang dianggap berperilaku buruk.

“Tak ada yang mau berbicara dengan saya… tak ada interaksi karakter lain. Toilet hanya bersifat lubang di lantai, ” kata Safoora.

Takut terkena Covid-19

Dari organ tunggal, Safoona dipindahkan ke sel lain. Kali ini ia tinggal bersama dua penghuni lain.

“Cukup luas untuk tidur untuk kami bertiga, namun ana tak bisa menerapkan celik jarak, ” katanya.

Sumber gambar, Getty Images

Perihal di sel dan pada kompleks penjara yang tidak memungkinkan penjarakan sosial membuatnya khawatir akan terkena virus corona, baik dari para-para tahanan maupun dari sipir.

Satu fasilitas air dipakai oleh lebih dari 100 tahanan perempuan. Sering kali ia melihat orang berdesak-desakan di fasilitas ini.

“Saya sangat khawatir akan terkena Covid-19. Jika saya terkena, saya harus menjalani isolasi yang lama, ” katanya.

Keadilan yang tertunda

Lupa satu dampak pandemi merupakan proses hukum berjalan jauh lebih lama.

Selain itu, tahanan tak bisa menerima pengunjung, yang akibatnya bantuan hukum dari advokat menjadi sulit didapat.

Di kasus Safoora, ia harus menunggu 20 hari pra bisa bertemu dengan pengacara untuk pertama kalinya. Buat bertemu dengan pihak puak ia harus menunggu 15 hari.

Dalam suasana serupa ini, ia juga dikhawatirkan oleh pikiran bahwa ia mungkin harus melahirkan di kompleks penjara.

Sumber gambar, Amnesty International /Richard Burton

Penjara di banyak negeri menghadapi problem klasik: minimnya fasilitas mendasar, seperti makanan, toilet, kamar mandi & layanan kesehatan. Kondisinya memburuk dengan adanya pandemi Covid-19.

Bagi tahanan perempuan, masalah ini ditambah dengan minimnya ketersediaan pembalut wanita serta kebutuhan penting lain, ” kata Olivia Rope, eksekutif eksekutif organisasi Penal Reform International.

Ia mengatakan penuh tahanan perempuan yang menggantungkan pada anggota keluarga buat mendapatkan perlengkapan tersebut.

Dan ketika pandemi tidak mengesahkan kunjungan keluarga, satu-satunya sumber untuk mendapatkan perlengkapan ini menjadi tertutup.

Membaca juga:

Dampak asing adalah, sulitnya tahanan hawa bertemu dengan anak-anak mereka.

Laporan oleh Amnesty International menyebutkan hampir semua negeri tak punya strategi untuk mencegah penularan Covid-19 dalam penjara. Rencana nasional pula jarang mencakup penanganan Covid-19 di penjara.

Menurut Amnesty, diperkirakan terdapat 11 juta tahanan di dunia, 741. 000 diantara mereka merupakan perempuan.

Namun banyak pada antara tahanan ini bukan merupakan penjahat.

Mereka antara lain adalah orang-orang yang menunggu pengadilan, pegiat politik dan wartawan.

‘Ketakutan yang tak terbayangkan’

Pada antara wartawan yang dipenjara selama pandemi adalah Rahelisoa Arphine.

Warga Madagaskar itu dikenal sebagai direktur berita surat kabar yang dekat dengan oposisi.

Ia dipenjara setelah mengkritik jadwal penanganan pandemi oleh negeri.

Sumber gambar, Rahelisoa Arphine

Ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara Antanimora pada ibu kota Antananarivo selama 30 hari, sebelum dibebaskan pada 4 Mei 2020.

Antanimora dibangun dengan daya 800 tahanan, namun pada akhir 2019, penjara itu harus menampung 4. 000 orang.

Akibatnya, kata Rahelisoa, penghuni dipaksa berdesak-desakan.

“Ada 18 perempuan di tempat berukuran empat kali empat meter. Di ruang tersebut tak ada tempat tidur, dan kami semua kudu tidur di lantai, ”

Ia dipenjara ketika wabah sedang ganas-ganasnya. Ruang isolasi dengan cepat penuh dengan penghuni.

“Tak bisa dibayangkan ketakutan saya, ” katanya.

Tak ada yang peduli’

Penghuni penjara akhirnya dites dan ia mengatakan sangat lega ketika hasilnya negatif.

Namun ketakutan dan kekhawatiran akan terkena virsu corona di kompleks penjara tak bisa dia tepis sepenuhnya.

Sumber gambar, Amnesty International /Richard Burton

“Ada sejumlah penghuni perdana yang tidak dites dan itu sebabnya mengapa aku sangat takut. Jika itu membawa virus, kami semua pati akan tertular, ” kata Rahelisoa.

Ketika seorang tahanan jatuh sakit, Rahelisoa mendapati tak ada obat maupun ambulans yang mampu dipakai untuk membawanya ke rumah sakit.

“Yang mendirikan saya sedih adalah kala seorang penghuni penjara wafat karena hanya urusan sertifikat yang membuatnya tak mampu diantar ke rumah melempem, ” katanya.

Fasilitas kejernihan sangat minim. Ratusan tahanan perempuan harus antre karena hanya ada satu toilet dan satu kamar makbul untuk mereka.

“Tak ada yang peduli dengan [pandemi] Covid-19… tidak ada masker, tak larutan pembersih, ” katanya.

Menghadapi situasi ini, dia dan tahanan perempuan asing berusaha untuk tetap mengelola kebersihan diri.

Ia pula mengatakan panduan tentang Covid-19 justru malah mempersulit tahanan bertemu pengacara atau bagian keluarga.

Menjadi l e bih rentan

Sumber gambar, Amnesty International /Richard Burton

“Perempuan pada penjara menghadapi risiko bertambah tinggi terkena virus corona… di 22 negara, tingkat hunian penjara di atas 200%, ” kata Olivia Rope, direktur eksekutif pola Penal Reform International.

“Kondisi kesehatan mereka biasanya juga lebih buruk dibandingkan populasi perempuan, yang membuat mereka lebih rawan terkena virus coronya, ” katanya.

Kondisinya makin mengkhawatirkan karena juru bicara pelindung diri sangat kurang di kompleks penjara. Itu berarti kemungkinan munculnya kluster di penjara menjadi lebih besar.

Meski demikian, negeri tak banyak memberi perhatian.

Dari 71 negara yang telah mengeluarkan kebijakan vaksinasi, tak banyak yang meluluskan vaksinasi bagi penghuni penjara.

“Temuan kami menunjukkan selama pandemi Covi-19 para tahanan di seluruh dunia sewajarnya dilupakan, ” ujar Netsanet Belay, penulis laporan Amnesty, kepada BBC.

Kesehatan moral

Peraturan PBB mewajibkan negeri untuk menyediakan fasilitas kebersihan diri bagi tahanan hawa dan fasilitas ini harus gratis.

Sumber gambar, Amnesty International /Richard Burton

“Perlu ada langkah-langkah khusus untuk [memenuhi kebutuhan] benduan perempuan di penjara yang hamil, menyusui atau yang sedang mengalami menstruasi. Tahanan-tahanan perempuan harus masuk dalam kelompok prioritas, termasuk meluluskan mereka dalam kelompok preferensi yang mendapatkan vaksin, ” kata Belay.

Apa dengan dialami Safoora dan Rahelisoa menunjukkan belum banyak kurungan yang menerapkan kebijakan dengan ramah perempuan.

Dan ini membawa dampak psikologis, sebutan Safoora.

Ketika ia dimasukkan sel sendirian, tanpa tersedia interaksi dengan orang asing, kondisi kesehatan mentalnya memburuk.

“Saya merasa kosong, larut dalam kesepian dan keputus-asaan…. saya merasa manusia tak sepantasnya menerima perlakuan semacam ini, ” katanya.