Covid-19: Penderitaan warga Kamboja dalam zona merah – tumpuan langka, makanan menipis, bersetuju protes malah diancam

0 Comments

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

dua jam yang lalu

Sumber gambar, Reuters

Ibu kota Kamboja, Phnom Penh, sudah menetapkan zona-zona merah—kawasan yang kudu menerapkan karantina wilayah pedengan lockdown lantaran lonjakan jumlah kasus Covid-19.

Namun warga dengan tinggal di zona merah itu mengaku makanan dan bantuan sangat langka, membuka jurnalis Kiana Duncan.

Baca juga:

Somal Ratanak sudah mema hampir semua gajinya era lingkungan tempat dia letak di Phnom Penh mengesahkan lockdown pada 12 April lalu.

Wilayah itu akhirnya dinyatakan sebagai zona merah awut-awutan sehingga dia tidak mampu keluar rumah atau pergi bekerja sebagai kasir.

Somal kini tidak tahu dari mana lagi harus mendapat makanan.

Awal kamar ini, dia memang menerima paket bantuan dari pemerintah berupa bahan makanan serupa beras, mie, kecap, & ikan kalengan.

Namun bagian bantuan itu tidak tentu datangnya sehingga tidak bisa diandalkan. Akibatnya, Somal mengaku, harus “makan jauh lebih sedikit dari sebelumnya. ”

Dia tidak sendiri. Pengetatan terkini dari pemerintah untuk mengatasi lonjakan kasus Covid-19 pada akhir Februari lalu itu menyebabkan puluhan seperseribu warga terkungkung di rumah, sementara persediaan makanan menipis.

Meski dikenal sebagai salah satu negara yang menerapkan pembatasan ketat dan jumlah kasus yang relatif lembut tahun lalu, Kamboja kini justru menghadapi sekitar 400 kasus penularan baru pada sehari.

Total jumlah kasus sudah mendekati 20. 000 dengan setidaknya 131 kasus kematian.

Rumah-rumah sakit di Kamboja sudah kelebihan kapasitas, sehingga negeri membuat rumah sakit gawat di stadion dan pusat-pusat kesehatan. Tidak sedikit masyarakat yang memerlukan perawatan medis terpaksa diminta menjalani karantina di rumah.

Jadi langkah mencegah penularan dengan lebih luas, pemerintah situ memperketat mobilitas warga, termasuk lockdown total dan pengkategorian wilayah berdasarkan zona berupa.

Tinggal di daerah merah

Diperkirakan 120. 000 orang tinggal di zona-zona merah di Phnom Penh, menurut data Center for Alliance of Labor and Human Rights (Central).

Zona-zona merah ini memiliki angka penularan Covid yang mulia sehingga wilayahnya ditutup secara barikade dan diawasi oleh tentara.

Phnom Penh kini menerapkan zona merah di empat kawasan serta semua wilayah di daerah itu dikenai lockdown hingga 19 Mei.

Warga yang berada di kawasan merah itu dipaksa pasti tinggal di rumah. Pada setiap pelanggar diancam dengan pengurungan, denda, hingga kekerasan. Itu yang membuat sejumlah lembaga bantuan prihatin atas pengingkaran HAM.

Sumber tulisan, Getty Images

Aturan dan ketentuan dari para pejabat pun seringkali berbeda kepala sama lain. Pelaksanaan sanksi yang tidak konsisten tersebut membuat warga dilanda kekhawatiran. Ada yang bisa keluar rumah untuk mencari sasaran dan layanan kesehatan perlu, namun banyak pula dengan tetap tidak boleh keluar.

Kementerian Perdagangan sudah menambah dua kali lipat armada bus dan penjual sayur untuk menjual sasaran ke pelosok-pelosok wilayah zaman banyak pasar dan gardu tutup – namun hanya sedikit warga yang bisa membeli, bahkan untuk hanya kebutuhan pokok.

Penduduk yang tinggal di zona-zona merah pun dihadapkan pada kenaikan harga bahan pokok maka 20% saat pendapatan itu menurun, ungkap Central.

Para LSM pun dilarang memasuki zona merah – sehingga kian menyulitkan jalan memberi bantuan bagi warga yang membutuhkan.

Deputi Direktur Regional urusan Usaha dari Amnesty International, Ming Yu Hah, menilai respons pemerintah sejauh ini teledor.

Paket bantuan negeri, contohnya, hanya diberikan secara sporadis – hanya menjangkau sebagian kecil sasaran penyambut di zona-zona merah.

Mulanya ada iklan bantuan tepat tunai sebesar 300. 000 riel (sekitar Rp1 juta) per keluarga untuk membeli kebutuhan pangan selama invalid lebih dua pekan.

Keputusan ini kemudian bertukar. Pemerintah memutuskan memberi bantuan dalam bentuk barang hajat pokok. Namun, menurut penyelidik, nilai paket bantuan itu lebih kecil dari Rp1 juta.

Sumber tulisan, EPA

Lebih dari 20. 000 keluarga sudah menyambut paket bantuan itu, membuka pemerintah, namun masih lebih banyak lagi yang belum mendapatkannya.

“Pemerintah harus memastikan akses yang memadai untuk makanan bergizi, layanan kesehatan, dan bantuan sosial mendasar bagi warga Kamboja yang sangat membutuhkan di masa sulit ini, ” kata Naly Pilorge dibanding Kelompok HAM Kamboja, Licadho.

Chhai Boramey, pegawai kasino yang kini terpasung di zona merah, mengaku keluarganya masih belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

“Tiga anggota keluarga kami kini tak punya pekerjaan, ” kata Boramey, yang keluarganya beranggotakan delapan orang.

“Kami masih kudu bayar kontrakan, tagihan elektrik, dan utang. Kami sudah tidak sanggup beli sasaran yang harganya sudah terangkat. ”

Akhir April lulus, ratusan warga di perut lokasi di distrik Stung Meanchey – yang tercatat zona merah – mulai berunjuk rasa atas kurangnya pasokan pangan di wilayah mereka.

Namun muncul rasa semacam itu malah dicela oleh media dan para-para pejabat lokal, dan menyembul selentingan bahwa aksi-aksi tersebut sengaja dibuat oleh ikatan oposisi.

Amnesty International, sama seperti lembaga lain yang bergerak di sektor nirlaba, telah menerima banyak laporan bahwa warga dengan protes lewat media baik atau aksi di timah sudah diancam tidak bahan menerima bantuan.

Namun, lambatnya pemberian bantuan malah membina mereka makin lapar.

“Saya sebenarnya takut untuk penentangan, ” kata Boramey. “Tapi karena tidak ada makanan, saya harus protes. ”

Kiana Duncan adalah jurnalis yang berbasis dalam Phnom Penh