Covid-19: Setahun pandemi virus corona, Indonesia belum aman masih ‘stadium empat’

0 Comments

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

  • Aghnia Adzkia
  • BBC East Asia Visual Journalism

tujuh jam yang lalu

Pas setahun pagebluk Covid-19 pada Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, oleh karena itu kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus timbil rantai dengan penelusuran serta tes usap dinilai belum maksimal.

“Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak! “Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya dengan terbaring di kasur kawasan sebuah rumah sakit punca covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang era itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya telah dua hari menunggu dalam Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis kemudian.

Sehari sebelumnya, di 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes belai Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum muncul dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah rendah tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman pelik.

Sedikitnya 40 orang tampil melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di jarang mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kaum, serta tiga petugas dengan memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman sudah, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit lekas melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakang, bapak, serta dua ahli iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

“Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau tersedia yang bergejala, ” perkataan Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan karakter yang melayat karena tak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan derma pribadi.

Tes pun pula termasuk pada orang tak bergejala. Barangkali, mereka tercatat kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada juga orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi akan tetapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Semusim, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

“Rumah sakit seharusnya menyampaikan panduan, harus menghubungi sapa dan kenapa, ” ujar Alex ketika dihubungi dalam Minggu (28/02).

Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran relasi erat.

“Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya menyelenggarakan tracing mandiri dan men orang-orang yang berinteraksi secara saya dalam beberapa hari sebelumnya. ”

Ia kendati segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota anak. “Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif, ” katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Hati menilai pemerintah Indonesia sedang minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

“Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 mematok 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya tumbuh, ” ujar Nuning masa diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

“Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan status yang demikian. ”

Daya penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka peristiwa Covid-19 masih tinggi dalam Indonesia. Merujuk analisis dengan dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0, 89.

Artinya, semakin banyak yang dites oleh sebab itu cenderung bermunculan kasus terakhir yang lebih banyak. Sejenis juga sebaliknya.

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, “potensi penyaluran Covid-19 di Indonesia sedang tinggi. ”

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir pada Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke “stadium 4”.

“Kalau tak disiplin (protokol kesehatan) tersebut sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab, ” ujar Nuning.

Indonesia mampu dianggap aman dan peristiwa mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yaitu sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang nyata semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate dalam Indonesia masih di angka 18, 5% dari total 7, 1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya dalam Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih memasukkan urutan pertama.

Nalar orang terkonfirmasi positif menyesatkan rendah yakni di Singapura, senilai 0, 82%. Bagi 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah memeriksa PCR sebanyak 7. 290. 760 kali dengan jumlah kasus positif 59. 925. Grafik kasus harian terakhir pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio membuktikan hampir empat kali lebih rendah dari angka pada Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali bertambah rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi ‘kiblat’ tes usap lantaran menjemput gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat dalam awal pandemi.

Studi sebab Brigham and Women’s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk mengabulkan tes usap bekerja pas dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15. 000 hingga 20. 000 tes saban harinya.

Selain itu, menuntut gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijaksanaan Korea Selatan dibuat dibanding pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 cerai-berai.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji enam. 649. 006 orang serta mendapati 89. 676 kejadian positif.

Kurva masih hidup

Dengan tes usap dengan belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara yang lain?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kejadian baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Departemen Kesehatan untuk melihat gaya penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Nusantara masih dinamis. Dari lima orang yang dites, bakal ditemukan satu kasus tentu.

Negara secara kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus tentu.

Baik Indonesia maupun Malaysia, mengalami puncak pandemi dalam Januari 2021.

Korea Daksina, Jepang, Amerika Serikat, dan Vietnam, setidaknya mengalami 3 kali gelombang penyebaran virus ini dalam setahun. Kurva ketiganya cenderung menurun di beberapa pekan belakangan.

Besar negara yang sudah mengalami ‘gelombang besar’ yakni India dan Filipina; di mana pertengahan tahun sampai kuartal ketiga mereka mengalami kemajuan kasus yang signifikan, kemudian mulai menyusut.

Beda dengan negara lainnya, kurva China dan Singapura cenderung lebih stagnan. Mereka berhasil menekan munculnya kasus baru pada negaranya.

Di Singapura, pada setiap 121 tes, ditemukan utama kasus positif Covid-19.

Mengantre kasur RS

Dengan sistem tes usap & penelusuran yang belum maksimal, mata rantai penyebaran menjadi semakin sulit diputus.

Asalkan penyakit ini menyerang orang dengan penyakit bawaan ataupun dengan daya tahan tubuh yang rendah, ancaman moralitas menjadi dekat.

Ibunda Adit, harus menunggu dua keadaan di UGD untuk mendapatkan kasur. Kadar oksigen pra meninggal, sempat menyentuh nilai 74 atau di kolong batas orang normal, 92.

“Perawatan tidak maksimal & lambat, karena banyak pula pasien yang harus dirawat dan dipantau, ” perkataan Adit.

Saat kamar jaga inap sudah berhasil diperoleh, tak lama nyawa telah tak tertolong.

Merujuk masukan Sistem Informasi Rawat Inap Kementerian Kesehatan yang diolah BBC dari 1. 775 rumah sakit rujukan Covid-19 di 34 provinsi, hanya tersedia 40, 57 tempat isolasi bertekanan negatif, per 26 Februari 2021. Kamar bertekanan negatif dibuat untuk menghambat transmisi virus.

Jika menilik data bohlam provinsi dengan rasio total kasus per 1. 000 penduduk yang tinggi, semacam DKI Jakarta, ketersediaan tikar kosong tak banyak.

Sebanyak tujuh dari 10 kasur di kamar isolasi bertekanan negatif sudah penuh, dan enam dari 10 kasur di kamar isolasi tanpa tekanan negatif terisi.

Untuk mendapatkan tiga kasur isolasi di rumah sakit, pasien mesti berebut. Sementara penggandaan kasus baru pada 27 Februari 2021 yakni satu. 737 kasus.

Aktifkan Javascript untuk melihat ini.

Penelaahan di level desa

Pemimpin Joko Widodo dalam pidato virtualnya pada sebuah konferensi pada Kamis (25/02), dengan dilansir dari laman setkab. go. id, menyebutkan penguatan 3T ( testing, tracing, treatment ), pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kesibukan Masyarakat (PPKM) level mikro, vaksinasi COVID-19, dan penerapan protokol kesehatan, menjadi bagian penting menyelesaikan pandemi.

PPKM skala mikro mulai diterapkan dan didukung dengan pembangunan Posko Covid-19 di golongan desa dan kelurahan pada seluruh Indonesia. PPKM valid mulai 9 Februari 2021 lalu.

Dalam posko itu, aparat TNI/Polri bekerja cocok dengan Puskesmas setempat mengabulkan penelusuran kontak erat & tes usap.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan penelusuran kontak erat oleh para anggota Korps Bhayangkara dan militer dimulai pada Jumat (26/02) di Jawa dan Bali, mengambil laman resmi kemkes. go. id

Dante berharap penelaahan kontak erat bisa dikerjakan sesuai standar WHO sebanyak 30 orang yang sudah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif. Dari situ, kemudian dilakukan tes usap.

Menurutnya, penelusuran kontak erat menjadi kunci menekan kejadian karena suspek dapat ditemukan lebih dini.

“Yang kritis itu yang tidak mempunyai gejala karena mempunyai daya untuk menularkan kepada klub sekeliling. Kalau ini tidak dihentikan segera maka yang akan kita dapatkan merupakan kenaikan kasus terus, ” ucap dr. Dante.

Terus-menerus vaksin, incar ‘herd immunity’

Untuk menekan angka kejadian, pemerintah juga tengah gencar vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok atau ‘herd immunity’.

Vaksin dilakukan melalui besar jalur yakni vaksin percuma dari pemerintah dan menggunakan badan usaha bagi para pekerja, merujuk beleid Sistem Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2021.

Hingga 28 Februari, sebanyak 1. 691. 724 karakter telah divaksinasi dari bervariasi kelompok pekerjaan; tenaga medis, wartawan, lanjut usia (lansia), pedagang pasar, atlet serta tenaga pendukung cabang gerak, pendidik dan tenaga kependidikan, serta pelayan publik.

Sebanyak 59 persen telah sempurna menerima dosis kedua. Itu mendapatkan vaksin CoronaVac percuma dari pemerintah.

Angka ini baru 0, 5 upah dari total sasaran vaksin yakni 181 juta karakter; atau hampir 70 upah populasi Indonesia.

Untuk galur kedua, pemerintah mendesain Vaksin Gotong Royong bagi praktisi.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid., menjelaskan jenis vaksinasi ini diperuntukkan kepada praktisi yang biayanya ditanggung pranata usaha, seperti dilansir daripada laman kemkes. go. id.

Pandemi belum berakhir

Walaupun vaksin sudah berjalan, perkara ‘kapan pandemi berakhir? ‘ masih menghantui. Dari pemodelan matematika menggunakan model Richard yang dibuat Tim Tiruan dan Pemodelan COVID-19 Nusantara (Tim SimCovid), belum ada tanda pandemi berakhir di 2021.

“Kalau kami memprediksikan puncak kasus baru bisa sampai 20 ribu urusan per hari. Buat saya ini masih dalam iklim belum aman, ” logat Nuning.

Puncak diperkirakan terjadi pada 4 Agustus 2021. Hingga akhir 2021, awak juga menilai kasus anyar per harinya bisa bertambah dari 10. 000 kejadian.

Ia mengkhawatirkan terjadinya lonjakan orang bepergian lantaran jenuh, terutama pada saat libur lama dan lebaran, serta menganggap pandemi berakhir dengan adanya vaksin.

“Kita tidak mampu menganggap pandemi selesai karena kampanye vaksin dan vaksin sudah ada. Protokol kesehatan harus dijaga, mobilitas dipelihara, menghindari kerumunan, ” ujarnya.

Grafik dan ilustrasi oleh Arvin Supriyadi dan Davies Surya.