Covid di India: WNI mengarang soal warga kasta atas, orang kaya yang ‘merasa hebat dan boleh tabrak protokol kesehatan’

0 Comments

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

sejam dengan lalu

Sumber gambar, Arif/Agoes/Ayu

Sebesar mahasiswa Indonesia yang letak di India bercerita salah satu fenomena unik yang itu saksikan adalah warga lantaran kasta atas yang ‘merasa hebat dan boleh menentang protokol kesehatan’ di sedang lonjakan kasus yang menyentuh ratusan ribu sehari.

Mereka juga bercerita pada tengah lonjakan kasus harian Covid-19 di negara tersebut, warga masih ada dengan “tetap abai dalam mengarahkan protokol kesehatan”.

Pada keadaan Kamis (22/04) kasus tentu virus corona bertambah hampir 315. 000, angka harian tertinggi di dunia.

Penuh rumah sakit kewalahan serta muncul laporan penjarahan tabung-tabung oksigen karena pasok buyung ini menipis. Yang serupa menipis adalah pasok obat-obatan penting.

Meroketnya kasus positif menyusun warga khawatir, termasuk awak Indonesia yang berada di India.

Arif Sorayaman Hulu, mahasiswa Indonesia pada Rajkot, Gujarat di India barat, mengatakan yang jarang lain membuat dirinya kacau adalah “abainya warga di menerapkan protokol kesehatan”. Padahal penerapan protokol ini betul penting dalam menekan pandemi.

“Aktivitas warga berjalan umum, padahal pemerintah sedang menerapkan lockdown (karantina wilayah), ” kata Arif.

Baca juga :

Ia juga melihat di pusat praja banyak warga yang tak mengenakan masker.

Suatu masa Arif berada di vila sakit di Rajkot yang menangani pasien-pasien Covid-19.

“Saya berdiri di pendahuluan rumah sakit itu & saya melihat ambulans berlalu-lalang… belum selesai satu pasien ditangani, sudah datang teristimewa pasien yang baru… aku [juga] melihat ada pasien yang benar parah, keluarganya menangis sejadi-jadinya, namun penanganannya saya menentang lamban, lamban sekali, ” tutur Arif.

‘Diperparah oleh sistem sosial’

Sumber tulisan, Arif Sorayaman Hulu

Pandai mengatakan dirinya melihat “fenomena unik” di mana ikatan masyarakat dari kasta pada, dari kelompok kaya serta elite, “sepertinya boleh menentang protokol kesehatan”.

“Karena mereka merasa sudah berkuasa, berasal dari kelompok sosial yang tinggi, mereka merasa bisa melakukan apa sekadar, ” kata Arif yang mengambil jurusan hukum.

Bertemu situasi seperti ini, Cerdas dan beberapa mahasiswa Nusantara di Rajkot, berusaha ingat-ingat dengan selalu menaati protokol kesehatan.

“Kami terang, kami sadar Covid-19 tersebut sangat berbahaya, kami mengindahkan protokol, tapi lagi-lagi saya melihat mahasiswa lain invalid serius, ” katanya.

Yang membuatnya khawatir adalah ia tinggal di asrama yang dekat dengan gedung dengan dipakai untuk menampung orang-orang yang sedang menjalani isolasi karena terkena Covid-19.

“Dan mereka dibiarkan keluar [dari gedung]#@@#@!!… sepertinya mereka menganggap Covid-19 itu nothing (tak ada bahayanya), ” kata Arif.

“Dua teman satu kamar aku terkena Covid-19 dan kudu isolasi [di gedung di depan asrama] dan mereka dibolehkan lalu-lalang, ” kata Arif.

‘Merasa sudah menang lawan pandemi’

Sumber gambar, Mohd Agoes Aufiya

Situasi berbeda dirasakan oleh mahasiswa Indonesia pada Delhi, Mohd Agoes Aufiya.

Agoes mengatakan karantina wilayah dan sejumlah pembatasan — yang diberlalukan lagi mulai hari Minggu (18/04) — ditaati warga dalam kota ini.

“Semua warga tinggal di vila, tidak ke mana-mana, kecuali bagi mereka yang memiliki alasan valid untuk muncul rumah, ” kata Agoes.

“Toko yang menyediakan kebutuhan bahan pokok sibak, tapi toko-toko yang menjual bahan atau produk nonesensial tutup… toko sepatu ataupun toko ponsel, itu menutup, ” katanya.

Ia mengutarakan secara umum warga dalam Delhi mematuhi protokol kesehatan tubuh, misalnya mengenakan masker.

Baca juga :

“Mungkin sekitar 95% memakai masker, tapi ya tetap saja masih ada dengan tidak mengenakan masker. Aku merasa ketakukan atau kewaswasan [warga] tidak seperti saat gelombang baru, ” kata Agoes, mahasiswa doktoral jurusan hubungan internasional ini.

“Ketika itu orang-orang pakai masker, pakai menyarung tangan, pakai face shield dan menerapkan jaga langkah. Tapi dengan berjalannya waktu, mungkin karena merasa telah menang [melawan pandemi virus corona], karena angka kasus memang tahu turun di bulan November, Desember, Januari, Februari, kira-kira membuat kekhawatiran atau ketakutan warga tidak sebesar zaman, ” kata Agoes.

Perasaan seperti ini ia perkirakan menjadi penyebab masyarakat tidak lagi patuh sepenuhnya melaksanakan protokol kesehatan.

Sumber gambar, Reuters

“Saya pernah ke daerah Jakhal di Haryana, itu tak ada masyarakat yang memakai masker, ” kata Agoes.

Di pusat naiknya angka kasus, Agoes dan para mahasiswa Indonesia di India mengintensifkan hubungan melalui grup Whatsapp.

“Kami berbagi informasi, mengingatkan kalau keadaan sekarang sulit dan kita semua harus waspada, terutama di wilayah-wilayah episentrum, seperti di New Delhi, Kerala, Karnataka, Tamil Nadu dan Uttar Pradesh… itu yang ada di kawasan-kawasan itu diminta untuk waspada, ” katanya.

Informasi serupa dibagikan ke warga Nusantara lain, antara lain soal jika ada warga yang menghadapi kesulitan atau tersentuh Covid-19 untuk memberi terang pihak KBRI, untuk membenarkan tersedia bantuan bagi awak Indonesia yang memerlukan.

Rumah sakit di Uttar Pradesh kewalahan

Sumber gambar, Ayu Andriyaningsih

Pembatasan juga diterapkan oleh pemerintah di negeri bagian Uttar Pradesh. Mahasiswi Indonesia di Lucknow, pokok kota negara bagian, Manis Andriyaningsih, mengatakan warga diwajibkan berada di rumah.

“Terasa sekali ketika lockdown diberlakukan… jauh lebih mati. Alhamdulillah, di sini asosiasi taat, ” kata Molek.

“Masyarakat tidak keluar rumah, kecuali untuk perkara atau alasan yang berlaku… jadi kalau lockdown terasa sekali sepinya, ” tambahan Ayu. “Tak ada orang di jalan, kebetulan asrama saya di dekat kalan raya, ” katanya.

Uttar Pradesh, negara bagian secara populasi 240 juta sukma, sangat terdampak pandemi.

Semenjak pandemi bermula, tercatat lebih dari 851. 000 peristiwa di negara bagian tersebut dengan angka kematian setidaknya 9. 800 orang.

Rumah-rumah sakit menolak pasien sebab sudah tidak ada wadah tidur, sementara kremasi jenazah seakan tak akan pernah berhenti.

Sumber gambar, Reuters

“Pernah dalam satu hari, kasus bertambah sekitar 30. 000 jadi mungkin panti sakit kewalahan, ” kaya Ayu.

“Saya sendiri merasa antara stres tak stres… sekarang kami pula puasa, kemudian dalam posisi dikurung dengan situasi seperti ini, jadi kami misalnya susah cari bahan sasaran. Sekarang ini susah mengaduk-aduk sayur segar, ” introduksi Ayu.

“Kadang ada vendor (pedagang) yang datang ke asrama, tapi kan tidak semuanya 100% segar, ” katanya.

Ia membenarkan dirinya sangat khawatir dengan pandemi yang memburuk.

“Kami khawatir sekali karena kasusnya melonjak, jadi takut… ini membuat kami waspada, ” kata Ayu.

Banyak dengan meyakini meroketnya kasus dipicu oleh festival-festival agama serta kampanye pemilu negara periode, yang dihadiri banyak karakter dan penyelenggara gagal membenarkan protokol kesehatan benar-benar ditaati.

Pemerintah negara bagian & federal mengeklaim situasinya masih bisa dikendalikan, namun penuh pihak mengatakan pemerintah sudah “gagal mengantisipasi gelombang kedua” ketika situasi melandai jarang Oktober 2020 hingga Februari 2021.