Hidup You and I: ‘Dialog dua generasi’ antara sineas muda dan dua perempuan eks tapol 65

0 Comments

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

  • Ayomi Amindoni
  • Wartawan BBC News Indonesia

3 jam yang lalu

Sumber gambar, kawankawanmedia

“Jas abang, ” ucap Kaminah singkat kepada Kusdalini kala menyaksikan tayangan televisi yang menunjukkan apa yang dia pendapat sebagai orang-orang yang dibantai dalam Peristiwa 1965.

“Jas merah piye? (Jas merah gimana? )” jawab Kusdalini dengan nada bingung.

Sudah kurang tahun belakangan ia menemui demensia hingga banyak situasi yang ia lupa.

Dengan sabar, Kaminah dengan lebih muda dari Kusdalini membalas, “Jas merah, jangan melupakan sejarah. ”

“Jangan…, ” perkataan Kusdalini dengan terbata-bata, masih dengan nada bingung.

“Jangan melupakan sejarah. Kok wis lali kabeh to mbah (Kok sudah lengah semua sih mbah)”, perkataan Kaminah, sambil mengelus dahi Kusdalini dengan lembut.

Di usia senja mereka, Kaminah terus menolak lupa atas sejarah kelam yang mereka lalui bersama, sementara memori Kusdalini perlahan-lahan memudar.

Baca selalu:

Itu adalah cuplikan dari film dokumenter You and I yang mengisahkan kehidupan Kaminah dan Kusdalini, dua sahabat yang bertemu di penjara 50 tahun lalu karena dituding terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka dijebloskan ke penjara tanpa metode pengadilan. Kusdalini menghabiskan besar tahun masa mudanya pada penjara, sementara Kaminah harus hidup di penjara lebih lama lagi.

Film yang dibuat pada 2016 dan dirilis tahun semrawut ini menyoroti persahabatan kedua eks tapol perempuan itu di usia senja semrawut setengah abad setelah pertemuan mereka di penjara kepala dengan trauma dan stigma yang melingkupi keseharian itu.

Karena stigma pula, Kaminah ditolak keluarganya selepas menghabiskan tujuh tahun pada balik jeruji besi, mematok Kusdalini mengajaknya tinggal bersama.

Di tengah upaya menyembuhkan luka, keduanya berikrar saling menjaga dan silih mengisi kekosongan dalam hidup masing-masing.

Sumber gambar, Kawankawanmedia

‘Ironi sebuah pertemuan’

Pertemuan dan persahabatan kedua perempuan yang tak lekang oleh waktu ini yang menginspirasi Fanny Chotimah untuk mengabadikannya lewat film dokumenter besutannya.

“Yang paling menginspirasi, pertemuan mereka sendiri tersebut sebuah ironi, ” sebutan Fanny kepada BBC News Indonesia.

“Mereka bersemuka di penjara untuk perdana kalinya, seperti kita bertemu dengan soulmate kita dalam situasi yang sungguh tak menyenangkan, ” ujarnya kemudian.

Kemalangan yang menimpa mereka tak usai sampai di situ, lanjut Fanny.

Lepas dari tangsi, mereka harus menjalani apa yang disebutnya “masa pendahuluan yang suram”.

Sumber gambar, Fanny Chotimah

Selain trauma akibat perlakuan dengan mereka terima selama ditahan, mereka harus hidup dengan stigma eks tapol dengan melekat dalam diri itu.

Fanny menuturkan, itu membuat mereka kehilangan banyak kesempatan untuk mencari penghidupan lebih baik, termasuk menetapkan tidak menikah hingga kematian mereka.

“Bahkan sudah ada statement dari Mbah Kam, ‘Ini risiko perjuangan, bahwa kami tidak menikah’ karena sangat trauma buat memasukkan orang lain di kehidupan mereka, ” katanya.

Ketakutan akan terulangnya tragedi yang mereka alamiah membuat mereka selalu was-was jika suatu saat itu ditangkap kembali.

Bahkan, keduanya selalu mengingatkan Fanny untuk tidak datang ke rumah yang mereka tinggali di Solo, Jawa Tengah, setiap pembahasan tentang Perihal 65 memanas di bulan September.

Sumber tulisan, kawankawanmedia

Merespons karya menjepret

Menurut Fanny, film dokumenter perdananya ini merupakan respons atas potret Kaminah serta Kusdalini dalam buku memotret karya fotografer Adrian Mulya dan penulis Lilis HS bertajuk Sang Pemenang Kehidupan , yang memotret profil 25 rani penyintas Peristiwa 1965.

Dari situlah ia kemudian berkenalan dan bertemu dengan intens dengan dua rani yang ia sapa Mbah Kam dan Mbah Kus, yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

“Mereka tahu kehadiranku juga tidak mencurigai apapun, karena memang aku datang bukan sebagai film maker , saat itu hanya sebagai anak muda, sebagai teman yang mau mendengarkan kisah-kisah mereka aja, atau makan bareng atau hang out aja cocok mereka, ” jelas Fanny.

Namun, setelah mengenal lebih dekat dengan Mbah Kam dan Mbah Kus, ia tergerak untuk menghasilkan film dokumenter tentang mereka. Sebab, menurutnya, “dunia perlu tahu keberadaan mereka, dunia perlu tahu suara mereka”.

Fanny mengatakan butuh masa empat tahun untuk melahirkan film dokumenter pertamanya tersebut.

Sumber gambar, BBC Nusantara

Tahun pertama ia habiskan untuk penelitian. Sambil mendengarkan kisah Mbah Kam dan Mbah Kus, ia mulai memperkenalkan alat-alat syuting yang ia gunakan bersama timnya.

“Kita bawa tapi nggak kita rekam. Jadi mereka pelik saja dengan kehadiran alat-alat itu karena memang kadang-kadang intimidatif gitu ya, mic yang besar dan kamera, jadi mereka tidak damai.

“Mungkin karena ada proses pengenalan dulu & juga sudah mengenal awak dan timku yang hawa juga jadi mereka bertambah nyaman, lebih senang, ” katanya.

Di dua tahun pertama proyek film ini, ia dibantu sebab camera jiwa dan sound recordist yang keduanya rani.

Sumber gambar, Fanny Chotimah

Hal itu dia pilih demi membuat Kaminah dan Kusdalini merasa enak dengan keberadaan mereka selama proses pembuatan film.

“Kadang kita punya bahasa tunggal sesama perempuan. Jika itu tidak nyaman atau tersedia hal sensitif, pasti aku sebagai perempuan tidak sedia ditanyakan itu atau diambil [gambar] secara cara begitu. Jadi pertimbangannya pasti itu, ” perkataan Fanny.

Sosok aki yang tak pernah lumrah

Perkenalan dan proses pengerjaan film yang memakan periode lama membuat hubungan Fanny dan kedua subjek filmnya tersebut kian dekat. Apalagi, ia menganggap keduanya seolah-olah neneknya sendiri.

“Aku punya pengalaman tidak dekat dengan nenekku. Jadi di setiap melihat sosok nenek itu selalu pengen tahu karena aku nggak pernah memiliki sosok nenek yang depan, ” akunya.

“Saat aku bertemu dengan Mbah Kam dan Mbak Kus kaya mengingatkan akan nenekku yang tidak pernah beta kenal, ” katanya.

Sumber gambar, Fanny Chotimah

Sayangnya, di tengah proses pembuatan film, tanpa diduga Kusdalini meninggal dunia sesudah dirawat beberapa kali dalam rumah sakit.

Fanny yang tak siap dengan kabar duka itu merasa kehilangan. Begitu juga secara Kaminah yang langsung kematian semangat hidup setelah kematian teman sehidup sematinya itu.

Setahun kemudian, dia menyusul Kusdalini.

Fanny tak pernah menyangka kalau filmnya akan menjadi dokumentasi terakhir kehidupan Mbah Kam dan Mbah Kus, namun kematian keduanya jusru menjelma lecutan untuk menuntaskan filmnya.

Sumber gambar, kawankawanmedia

Pendekatan observasional

Hidup You and I yang dirilis pada September 2020 berhasil menyabet sejumlah penghargaan, baik di luar maupun dalam negeri.

Terbaru, film ini menyabet penghargaan dalam CPH: DOX 2021, festival film dokumenter Kopenhagen, Denmark, untuk kategori pendatang baru terbaik pada awal Mei 2021.

Para wasit menilai Fanny sebagai sutradara, berhasil “memadukan untaian memori dan pengamatan” serta “membawa pemirsa ke momen katarsis yang kuat”.

Sebelumnya, hidup berdurasi 72 menit dengan menguras air mata penontonnya ini sempat memenangi penghargaan Asian Perspective Award di dalam ajang festival film DMZ International.

Sumber gambar, kawankawanmedia

You and I serupa mendapat Official Selection pada Asian Vision dalam Singapore International Film Festival 2020.

Di dalam negeri, film ini memenangi kategori hidup dokumenter panjang terbaik di dalam Festival Film Indonesia 2020.

Ketika ditanya mengenai gaya penyutradarannya, Fanny mengiakan bahwa awal mulanya ia tak pernah “mengambil pusing” dengan teknik penyutradaraan film You and I yang ia sebut “eksperimental” ini.

Yang ia kerjakan, katanya, hanya mengamati dan merekam interaksi Kaminah serta Kusdalini dengan tetap membentengi jarak dengan keduanya.

“Karena dengan karakter-karakter dengan kuat itu sepertinya sudah cukup mewakili visiku sebagai sutradara atau mewakili wujud mereka, nggak perlu ditambahin ini-itu lagi, ” jelas Fanny.

Membaca juga:

Betapapun, status Kusdalini dengan demensianya, mendatangkan tantangan tersendiri, kata Fanny.

Namun di situlah ia jadi lebih mampu bereskperimen dengan filmnya.

“Kadang Mbah Kam pengen ngobrol , ya udah aku rekam, terus tiba-tiba Mbah Kus lalu pegari, ya udah aku tentu rolling (merekam) aja gitu. Karena aku pikir masa itu aku belajar, oleh karena itu semua hal rekam aja. Meskipun nggak tahu nanti hasilnya seperti apa terpangkal rekam aja, ” akunya.

Kritikus film, Hikmat Darmawan, memandang film itu “penting” karena menggunakan ragam obsevasional – salah satu metode dalam film dokumenter yang memerlukan pendekatan dengan sangat intim dengan para-para subjek – sehingga mereka “sampai pada tahap tak sadar kamera”.

Sumber gambar, kawankawanmedia

Pendekatan itu, kata Hikmat, membuat spektator merasa “duduk bersama” serta “mengamati” para subjek dalam film itu.

“Sehingga meskipun ditaruh di belakang semrawut Peristiwa 65 – kita merasakan betul bahwa dampaknya panjang sampai sekarang dan belum selesai, ” katanya.

“Walaupun dia tidak menawarkan wacana, sejarah, ramah, pendidikan, tapi justru kita bisa merasakan benar tragedi tuh kaya apa gerangan. ”

Pergeseran narasi cerita

Lebih jauh Hikmat mengucapkan, You & I ialah salah satu dari sedikit film dokumenter bertema Kejadian 65.

Ia mengutarakan film bertema 65 merasai “perubahan penting” pada 2000-an, ketika sutradara Garin Nugroho membuat film Puisi Tak Terkuburkan .

Dari film itulah, kata Hikmat, terjadi modifikasi narasi dalam film bertema 65. Tak lagi memakai sudut pandang penguasa bagaikan masa Orde Baru (Orba), namun dari sudut pandang korban.

Sejak saat itu, bermunculan film-film bertema 65, baik film khayalan maupun dokementer. Setidaknya, ada sekitar 200 film bertema 65 hingga saat tersebut.

Di tengah naiknya minat terhadap persoalan 65 sebagai tema film, Hikmat memandang dua film dokumenter karya sutradara Joshua Oppenheimer, Jagal dan Senyap , adalah “dua narasi yang sangat kuat menggugat” narasi sebelumnya mengenai Peristiwa 65.

Sumber gambar, Final Cut For Real

“Kita bisa lihat kalau ini adalah sebuah pengungkapan lewat media audio visual – yang secara sinematik juga layak – untuk mempertanyakan ulang seluruh prinsip masa Orba tentang barang apa itu Peristiwa 1965. Tersebut sangat kuat dua tersebut, ” tutur Hikmat.

Lebih jauh, Hikmat melahirkan, yang membedakan You and I dengan film-film dokumenter bertema 65 terdahulu ialah meski berpijak pada kemanusiaan, film-film seperti Senyap dan Jagal berfokus pada inti persoalan dengan perspektif para pelaku.

Sementara di film You and I , sekapur Hikmat, pijakan humanis itu didekati secara observasional ataupun pengamatan intim.

“Kamera itu menjadi wahana untuk kita untuk berada pada sisi para korban. ”

Sumber gambar, kawankawanmedia

Perubahan narasi ini dipahami betul oleh sejarawan Bonnie Triyana, yang menekankan adanya adagium bahwa “setiap generasi menulis sejarahnya sendiri”.

Bonnie menjelaskan setelah 1998 terjadi “arus balik ingatan sejarah” sekaligus “pertarungan ingatan” tentang Peristiwa 65.

Pra 1998, selama 30 tarikh pada masa Orde Anyar narasi yang disebarluaskan pemerintah adalah narasi penguasa dengan tak memberikan tempat bagi narasi lain. Akibatnya, narasi itu menempel di negeri bawah sadar warga Indonesia.

Baca serupa:

Namun setelah runtuhnya Orde Baru pada 1998 dan diikuti oleh Reformasi, banyak generasi muda dengan mulai mempertanyakan sejarah 65. Periode ini ia tutur sebagai “transisi demokrasi”.

“Mereka mulai mempertanyakan, mereka mulai ingin mempersoalkan itu dan kemudian ujung-ujungnya ada sewarna rekonsiliasi atau semacam keterangan terhadap sejarah itu sendiri.

Film You and I , menurut Bonnie, adalah arah dari adagium bahwa setiap generasi akan menulis sejarahnya sendiri dengan menawarkan riwayat lain dari Peristiwa 65 dan yang terjadi sesudahnya.

“Sekarang dengan kelanjutan teknologi informasi yang sedemikian hebatnya cara-cara menampilkan cara sejarah alternatif yang mengkontestasi narasi penguasa itu makin kreatif dan mengena, ” katanya.

Sumber gambar, Bettmann / Getty Images

Melalui dua sosok dalam film itu dengan lakon yang menyentuh rasa kemanusiaan, lanjut Bonnie, kita bisa memahami ada yang lengah dengan masa lalu kita.

“Dan penampilan mereka dalam film dokumenter ini menunjukkan bahwa mereka ini saja puncak gunung es, dalam bawahnya ada banyak masalah, ” katanya.

“Tidak hanya soal Tapol rani, bagaimana dengan anak-anak dengan bapaknya nggak ada, dengan ibunya ditahan. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya, ada yang beruntung, ada yang sukses ada terpuruk. ”

Bertambah jauh, Bonnie menuturkan bahwa film ini menampilkan “realita historis” yang menjadi muatan generasi saat ini, yakni stigma terhadap mereka yang dituding terlibat dan penegakkan keadilan terhadap para penyintas.

Sumber gambar, Bettmann / Getty Images

“Kondisinya adalah mereka yang dulu dikalahkan setelah penguasa Sistem Baru jatuh, lengser, itu tetap pada posisi yang dikalahkan, karena stigma tersebut kuat. ”

Melawan ciri yang sudah terlanjur menempel selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah, kata Bonnie.

Mengutip sastrawan Milan Kundera, ia mengatakan bahwa “perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa”.

“Jadi caranya kita banjiri daerah publik di media sosial dengan narasi-narasi yang kaya tentang peristiwa ini, sejak berbagai sudut pandang, dibanding berbagai angle, dari bervariasi perspektif, salah satunya ya film You & I ini. ”

Sumber tulisan, Getty Images

‘Dialog dua generasi’ dan ‘berkejaran dengan waktu’

Sementara itu, motor hak perempuan sekaligus komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, mendeskripsikan film You and I sebagai “dialog dua generasi antara penyintas 65 dan perempuan tingkatan saat ini”.

“Dan sungguh dalam konteks ini, patuh saya film ini bisa menjadi semacam upaya buat memahami apa yang sebenarnya terjadi tahun 65, yang diwakili oleh dua arsitek ini, ” katanya.

Pada 2007, Komnas Perempuan melakukan pemantauan terhadap 112 perempuan penyintas 65.

Dari kesaksian mereka, Komnas Perempuan mengkategorikan Peristiwa 65 dan keberlanjutannya adalah barang apa yang disebut sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Misalnya, kebengisan berbasis gender.

Baca juga:

“Walaupun dalam film ini tidak dinarasikan demikian (kekerasan berbasis gender), tapi seperti dimunculkan bahwa ‘Ini perempuan-perempuan yang sebab Peristiwa 65 mereka ditahan, dipenjara tanpa pengadilan, lalu mendapat persekusi dan ciri berkelanjutan dan di masa tuanya menjadi miskin [dan] marginal serta ibaratnya tidak ada jalan untuk pengembalian hak-hak mereka’, ” jelas Ami.

Kesaksian para perempuan penyintas 65, kata Ami, penting untuk diketahui generasi rani saat ini “agar tak semata-mata mendapat informasi dengan belum teruji atau tidak imbang”.

“Sementara, kita bersaing dengan waktu karena para-para penyintas ini semakin gaek, satu per satu semakin lupa akan apa yang terjadi dan kemudian wafat. ”

“Sementara upaya-upaya buat keadilan, kebenaran dan pemulihan, maupun rekonsiliasi itu belum dilakukan, ” katanya.

Sumber gambar, kawankawanmedia

Generasi saat ini yang berkejaran dengan waktu dalam menyampaikan para penyintas 65, disadari betul oleh Fanny, yang tanpa sengaja mendokumentasikan momen-momen terakhir kehidupan Kaminah & Kusdalini.

“Penyintas itu sudah sepuh, kita susul-menyusul dengan waktu sebetulnya sebab kupikir setiap penyintas memiliki kisah berharga untuk didokumentasikan. ”

“Dan ini pun sudah semakin berguguran”.

Betapapun, film ini menjadi arsip bagi semua kalangan, baik tua maupun muda, supaya tidak mengabaikan sejarah, semacam salah satu dialog dengan disampaikan Kaminah: “Jasmerah, tanpa melupakan sejarah”.