ISIS, terorisme dan pertobatan tiga WNI ‘eks jihadis’ di Suriah: ‘Kamu harus pulang, ayah dan ibumu tak restui kepergianmu’

0 Comments

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

  • Heyder Affan
  • Wartawan BBC News Indonesia

4 jam yang lalu

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Tiga orang warga Indonesia eks napi teroris, yang pernah menjadi petempur kelompok militan ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan berusaha menebusnya dengan menyebarkan narasi anti-ekstremisme di masyarakat.

Inilah kisah tiga pria asal Surabaya, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, yang terpapar gerakan ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, dengan berangkat ke medan perang di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Mereka terpikat menjadi ‘jihadis radikal’ melalui propaganda di internet, persinggungan dengan seorang perekrut ISIS, serta proses panjang dan perlahan yang membuat mereka makin terdorong ke dalam ekstremisme.

Ujungnya, atas nama persaudaraan dan, tentu saja, petulangan adrenalin, Abu Farros (nama sebutan), Wildan Bahriza, dan Syahrul Munif, meninggalkan ayah, ibu, anak dan keluarganya.

Dihadapkan kekejaman perang di Suriah, kekejian ISIS, dan perangai negatif sang perekrut, kesadaran intelektual dan ruhani, juga situasi di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan meninggalkan Suriah.

Apa yang terjadi setelah mereka diadili dan mendekam di penjara?

Di titik mana dalam kehidupan para eks jihadis ini sehingga mereka akhirnya berhasil keluar dari ideologi kebencian?

Bagaimana mereka beradaptasi di masyarakat ketika dihadapkan adanya stigma tentang latar belakang mereka sebagai mantan napi teroris?

Berikut kesaksian tiga orang itu dalam wawancara terpisah di Surabaya dan Malang:

Baca juga:

  • Anak korban Bom Bali 1 ke pelaku: ‘Saat umur 10 tahun, saya lihat jenazah ayah hangus, bayangkan kalau Bapak jadi saya’
  • Mengapa saya maafkan pelaku pengeboman: ‘Dia menggigil, minta maaf, dan bilang kisas, ambil mata saya, saya rela dieksekusi’
  • Pengakuan napi terorisme yang ‘menolak’ ikut baiat ISIS: ‘Saya was-was sekali, kalau lengah, bisa lewat’
  • Perang melawan radikalisasi: ‘Mereka menuduh kami lebih kafir dari polisi’, kata adik trio Bom Bali I terkait upaya ‘membina mantan napiter’
  • Putra Amrozi, pelaku Bom Bali 1: ‘Saya tak ingin anak saya seperti saya, sempat merasa seperti sampah dan dikucilkan’

‘Ibu yang membuka mata saya, saya bersumpah tak ulangi kesalahan’

(Abu Farros, 43 tahun, pernah ke Suriah dan berbaiat kepada ISIS, sudah bebas dari hukuman penjara, berusaha aktif kampanye melawan ekstremisme )

Abu Farros, begitu dia minta dipanggil, memiliki sahabat bernama Husni. Persahabatan itu terjalin semenjak mereka belia dan tumbuh dewasa di kawasan Ampel, Surabaya — wilayah yang didiami warga peranakan Arab dan etnis lainnya.

Keduanya kemudian berkongsi dalam bisnis jual-beli baju koko. “Saya percaya sekali dengan Husni,” akunya.

Sekitar 2013, ketika Suriah diguncang perang saudara, dua sahabat ini ‘terhubung’ dengan apa yang terjadi di sana setelah mengonsumsi antara lain berbagai film propaganda yang beredar di media sosial.

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Atas nama persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim, Husni dan Abu suatu saat saling bertanya “apa kontribusi kita terhadap mereka” — kata ‘mereka’ ini merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang melawan rezim Bashar al-Assad.

Husni, yang usianya lebih tua lima tahun, lantas mengajak Abu — kelahiran 1978 — berangkat ke Suriah untuk “memberikan bantuan khusus”.

“Ada teman yang bisa mengajak kita ke sana,” ujar Husni, seperti ditirukan Abu. Lalu mereka yang besar dengan tradisi Sunni ini bertemu ‘teman’ itu di Kota Malang. “Saya ingat pertemuannya di rumah makan sate.”

Dalam perjumpaan, Salim Mubarok Attamimi — nama ‘teman’ itu tadi kelak dikenal sebagai Abu Jandal, anggota ISIS yang bertugas merekrut orang-orang Indonesia untuk berangkat ke Suriah — akhirnya mampu membujuk Abu dan Husni.

Sumber gambar, Al Hayat

Keduanya kemudian diminta Salim — “kami memanggilnya Ustaz Salim,” akunya — menyediakan paspor dan uang US$500. “Saya juga diminta tidak ngomong [rencana ke Suriah] kepada keluarga.”

Akhirnya, pada Maret 2014, Abu Farros berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta, menuju Suriah. Mereka berangkat bersama 19 orang Indonesia untuk “berjihad” di Suriah.

“Tidak ada yang saya kenal, kecuali Husni dan Salim,” ungkap Abu Farros saat ditemui BBC News Indonesia di rumahnya di Jalan Ampel Kembang, Surabaya, pertengahan April 2021 lalu.

Saat itu, Salim meminta Abu dan orang-orang itu menggunakan nama samaran. “Saya memakai nama Abu Farros. Itu nama anak sulung saya, Muhammad Farros.”

Setelah transit di Kuala Lumpur, Malaysia, rombongan tersebut terbang ke Istanbul, Turki dan berlanjut ke Kota Gaziantep, sebelum menyeberang ke Suriah.

Baca juga:

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia ditempatkan di sebuah wilayah pedesaan di luar Kota Aleppo — situasinya mirip “desa-desa yang hancur akibat lumpur Lapindo di Sidoarjo,” kata Abu Farros.

Ketika rombongan itu tiba di lokasi tujuan, ISIS dan kelompok pemberontak lainnya berusaha dan bersaing satu sama lain untuk menguasai beberapa wilayah di dekat perbatasan dengan Turki.

Tujuh tahun kemudian, Abu Farros mengeklaim kehadirannya di Suriah semata untuk menolong anak-anak yang terlantar akibat perang saudara dan berharap ditempatkan di bagian logistik atau perbaikan bangunan.

Sumber gambar, Dokumen Abu Farros

Faktanya, mereka saat itu mengikuti latihan militer selama dua bulan di sebuah kamp di luar kawasan pedesaan.

Dua orang warga Ampel, Surabaya itu, bersama warga Indonesia lainnya, kemudian ditempatkan di pos penjagaan yang berjarak kira-kira 500 meter dari posisi musuh.

Mereka juga dipersenjatai dan melakukan baiat (bersumpah) mendukung ISIS. “Saya pegang AK-47, tapi saya bukan petempur utama,” akunya.

Dalam perjalanannya, Abu Farros menggambarkan, “situasinya mencekam, sesekali kita dihujani mortir, peluru tank.”

Ketika itu pesawat-pesawat pemerintah Suriah menjatuhkan bom di berbagai kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak.

“Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya…”

Rupanya kekejaman perang yang dia saksikan sendiri membuatnya “tidak siap”. “Nah, saya mulai sadar, saya memutuskan untuk pulang [ke Indonesia],” katanya dalam wawancara.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Setelah empat bulan berada di Suriah, Abu mengaku untuk pertama kalinya mendapat akses internet saat berkunjung ke Kota Al-Bab, kira-kira satu jam perjalanan dari kamp.

“Lewat internet, saya jadi tahu situasinya [aktivitas ISIS dan perang saudara di Suriah] seperti ini,” kata bekas mahasiswa Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini. Dia juga menjadi tahu bagaimana sikap pemerintah Indonesia tentang keterlibatan WNI di Suriah.

Dihadapkan situasi seperti itu, dia memutuskan untuk menelpon istri, ibu dan keluarganya di Surabaya.

“‘Pulang, pulang’… keluarga saya menangis. Saya pun menangis. Saya menyesal kenapa saya sudah sampai sini [Suriah].” Dia kemudian bertekad bulat untuk meninggalkan Suriah.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Namun masalahnya, paspornya ditahan Salim Attamimi alias Abu Jandal. Dia ditanya apa alasannya pulang. “Intinya, saya tidak boleh pulang.”

Di titik inilah, Abu Farros teringat ibunya. Dia meminta ibunya untuk meyakinkan Abu Jandal — pria yang membujuknya berangkat ke negeri yang luluh-lantak akibat perang saudara itu.

“Salim, Abu Farros itu punya ibu, yang mana jihad itu tidak harus ke Suriah. Bakti ke ke orang tua itu termasuk jihad,” Abu menirukan suara ibunya — melalui sambungan telepon — saat membujuk Salim agar mengizinkan anaknya pulang.

Singkatnya, Abu akhirnya berhasil pulang ke Indonesia sekitar Agustus 2014, namun sahabatnya, Husni, sejak awal ragu-ragu untuk pulang, karena takut ditangkap saat tiba di Indonesia.

Setelah sampai di Surabaya, Abu Farros mengetahui sahabatnya itu meninggal akibat bom. “Sampai sekarang, saya selalu memikirkan dia.” Nada suara Abu Farros terdengar sedikit bergetar.

Sumber gambar, Bruno Gallardo/AFP

Di hadapan ibunya, istri, anak-anaknya, dan keluarga besarnya, Abu kemudian menyadari kesalahannya bergabung ISIS ke Suriah.

Kondisi ibunya yang sakit akibat memikirkan tindakannya juga membuat “matanya terbuka”. Di hadapan ibunya dia bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. “Saya janji kepada ibu saya.”

Dia masih teringat perkataan yang diulang-ulang oleh ibu dan pamannya: “Jangan berlebihan dalam bersikap, jangan aneh-aneh. Ayahmu (yang meninggal saat dia masih kuliah), keluargamu, tidak ada yang aneh-aneh.”

Tiga tahun kemudian ayah tiga anak ini ditangkap Densus 88 dan divonis 3,5 tahun penjara pada 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena terbukti bergabung organisasi teroris ISIS.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Dia hanya menjalani hukuman 2,5 tahun penjara, karena mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menyadari kesalahannya di masa lalu dan menyatakan setia kepada NKRI.

“Ketika di dalam penjara, saya bertambah sadar bahwa setiap perbuatan, pasti ada pertanggungjawabannya,” ungkapnya. Dia kemudian mengikuti program deradikalisasi.

Pada 29 Mei 2020, Abu Farros menghirup udara bebas dan dia mengaku sepenuhnya sudah berubah.

“Islam itu rahmatan lil alamin, tidak meneror. Islam itu memberikan akhlak. Jadi dakwah itu bisa lewat akhlak (berbuat baik), bukan lewat yang lain-lain,” ujarnya.

Dia juga menerima Pancasila sebagai dasar negara dan semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Dan perlahan-lahan dia pun menekuni lagi bisnis baju koko yang dulu digelutinya.

Sumber gambar, ZEIN AL-RIFAI/AFP

Ketika saya bertanya apakah statusnya sebagai eks napi teroris menganggu aktivitas bisnisnya, Abu tak memungkiri. “Saya agak minder.”

Dan, kebetulan rekanan bisnisnya beragama Kristen. Dia awalnya merasa rekanannya itu “lebih bersikap hati-hati” terhadap dirinya. Namun ketakutannya itu, ternyata, terlalu berlebihan.

Buktinya, “saya tetap dihutangi lagi, karena saya baik dengan dia, dan dia baik dengan saya.” Abu Farros tertawa kecil.

“Kalau saya tidak menghormati mereka [rekanannya yang beragama Kristen], ngapain saya harus bayar hutang. Kewajiban saya [untuk bayar hutang] tetap kewajiban saya,” katanya, memberikan contoh.

Baca juga:

Namun tiba-tiba, sambil menarik napas panjang, Abu menyinggung nasib anak-anaknya. Dia sangat berharap apa yang terjadi pada dirinya tidak dialami oleh tiga anaknya. “Kasihan mereka.”

Kepada anak bungsunya yang masih kanak-kanak, dia menutupi ‘aktivitasnya’ di masa lalu. “Saya bilang abi (ayah) mondok.”

Sebaliknya dia menjelaskan lebih terbuka kepada anak sulungnya, Farros dan adiknya, bahwa ayahnya pernah dipenjara. Kebetulan anak pertamanya yang berusia 15 tahun itu pernah membesuknya di penjara.

Saat wawancara, dia lalu mengutarakan rencananya bersama eks napi terorisme lainnya, Syahrul Munif, untuk mendirikan organisasi Fajar Ikhwan Sejahtera.

Sumber gambar, ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

Mereka menginginkan organisasi itu kelak dapat membantu para eks napi terorisme supaya “memiliki kesibukan dan tidak lagi berpikir aneh-aneh… Juga agar negara peduli kepada mereka.”

Belajar dari pengalamannya dulu, dia berujar kepada siapapun agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. “Harus benar-benar dipahami. Jangan sampai setelah berbuat, menyesali.”

Termasuk memaknai jihad? Tanya saya. “Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad.”

Jadi, apa jihad Anda sekarang? “Mengayomi keluarga sebagai kepala rumah tangga dan bertanggungjawab, itu namanya jihad.”

‘Saya insaf, setelah tahu perangai pendukung ISIS tak sesuai ucapannya’

(Wildan bin Fauzi Bahriza, ikut bertempur bersama ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan kini mengampanyekan perdamaian)

Wildan Fauzi Bahriza masih berusia 22 tahun ketika bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah pada Juni 2013 lalu.

Dia merupakan salah-satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat ‘berjihad’ ke negara itu.

“[Di usia muda] Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana mengutamakan adrenalin daripada berpikir jernih,” katanya kepada BBC News Indonesia, pertengahan April lalu. Kami menemuinya di pondokannya di pinggiran Kota Malang.

Sumber gambar, Dokumen Wildan Bahriza

Hal itu dia utarakan ketika saya bertanya apakah saat itu dia tidak menyadari kompleksitas di balik perang saudara di Suriah.

“Semangat itu meluap-luap, apapun akan aku lakukan untuk mencapai target itu,” tambah sarjana strata satu bidang informatika di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jatim ini.

Pria kelahiran Pasuruan, 17 Juni 1991 ini nekad berangkat ke Suriah setelah bertemu anggota ISIS asal Pasuruan dan tinggal di Malang, Abu Jandal.

Sepekan kemudian dia berangkat ke negara yang saat itu dilanda perang saudara. “Sesederhana itu malah.”

Selain dorongan adrenalin, anak kelima dari enam bersaudara asal kota kecil Bangil, Jatim, ini mengaku semenjak kecil gampang tersentuh ketika bersentuhan dengan isu kemanusiaan.

Sumber gambar, Dokumen Wildan

Dalam situasi seperti itu, Wildan mendapat informasi — yang sangat mungkin tidak utuh alias sepihak — seputar konflik Ambon, perang Afghanistan, Irak, hingga Suriah.

Dan mirip yang dialami eks napi teroris lainnya, yaitu Abu Farros, Wildan mengaku ‘terpanggil’ untuk berangkat ke Suriah atas nama persaudaraan sesama muslim.

“Rentetan peristiwa itu yang membuat aku ingin membantu mereka [di Suriah], setidaknya aku ingin berguna,” katanya.

Baca juga:

Dari mana Anda mengetahui kondisi di Suriah, saat itu? Tanya saya. Wildan tidak memungkiri dia mendapatkannya dari media sosial.

“Aku melihat video-video anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya.”

Sumber gambar, Dokumen Wildan Bahriza

Setelah tiba di Suriah pada September 2013, Wildan dan sekitar sembilan orang WNI — di antaranya Abu Jandal, yang merekrutnya — dikirim ke kamp militer, dua pekan kemudian. Mereka dipersenjatai.

“Dan kami ditaruh di front-front pertempuran,” akunya. Jadi Anda ikut bertempur? Tanya saya. “Iya.”

Ketika itu Wildan mengaku nyaris dimasukkan dalam rombongan ‘bom syahid’ alias bom bunuh diri. Dia mengaku sudah dikarantina, namun akhirnya batal.

Belakangan dia mengaku dipindahkan ke rumah sakit untuk menjadi petugas evakuasi. “Ini sesuai keinginanku [menjadi petugas medis],” akunya.

Selama bertugas di rumah sakit, Wildan mengaku menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

“Sampai sekarang, saya kesulitan tidur, saya selalu terbayang-bayang apa yang saya saksikan,” Wildan menerawang, lalu menarik napas panjang. Matanya terlihat basah.

Dihadapkan situasi yang tidak terbayangkan itu, pada awal 2014, Wildan memutuskan kembali ke Indonesia dengan sikap ekstrim yang belum sepenuhnya berubah.

Baca juga:

Dua tahun kemudian dia ditangkap Tim Densus 88, setelah sempat menikahi perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, setahun sebelumnya.

Dia divonis bersalah karena terlibat organisasi teroris ISIS dan dihukum lima tahun penjara.

Sumber gambar, Maurico Morales/AFP

Di dalam penjara, Wildan semula menolak melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, karena dia mengaku “diancam keselamatannya oleh beberapa napi teroris ISIS”.

Namun dia kemudian mengalami titik balik — melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi — setelah mengetahui para pengancamnya itu disebutnya “akhlak dan sikapnya bertentangan jauh dengan apa yang diucapkannya.”

Akhirnya dia mendapatkan remisi dan hukumannya diubah menjadi tiga tahun sembilan bulan. Dia dibebaskan pada 2 Oktober 2019.

Dalam wawancara, Wildan menyebut peran orang tuanya yang “sangat luar biasa” saat dirinya berada di titik nol dalam kehidupannya — mendekam di balik terali besi.

Sumber gambar, Pablo Tosco/AFP

“Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan,” Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah.

Ketika diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya keluar dari jeratan gerakan ekstrim di berbagai acara diskusi, Wildan selalu menyisipkan pentingnya memelihara kedekatan dengan orang tua.

Hal penting lainnya yang sering dia utarakan adalah menyadari pentingnya perdamaian. “Jadi selagi diberi nikmat perdamaian, kenapa kita harus berperang.”

Wildan juga mengoreksi konsep ‘jihad’ yang dulu disebutnya identik dengan perang. Dia memahami jihad itu “banyak pintunya”, di antaranya membantu fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

“Apalagi di negara kita banyak fakir miskin,” ungkapnya. Kini Wildan aktif membantu memasarkan produk makanan sebuah yayasan yatim piatu di Malang.

Kritikan juga dia sampaikan kepada aliran-aliran di dalam kelompok Islam tertentu yang disebutnya “terlalu ekstrim”. “Misalnya suka mengkafirkan sesama muslim. Saya pun dikafirkan juga.”

“Mungkin itu yang memicu radikalisme yang begitu kuat karena kesalahan pemikiran seperti itu,” kata Wildan. “Padahal Islam itu agama yang rahmat, dan tidak ada yang mengekstrimkan seperti itu.”

Dia berharap nantinya dapat memiliki yayasan sendiri untuk membantu para yatim piatu yang terlantar.

“Karena semakin banyak berinteraksi dengan anak-anak itu membuat saya semakin merasa tenang,” ujarnya.

Saat ini Wildan memulai menekuni aktivitas baru sebagai fotografer dan videografer di Kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Malang.

“Yang lalu biarlah berlalu, case closed, aku sekarang membangun kehidupan yang baru.”

‘Kamu harus pulang, ayah-ibumu tak restui ‘jihadmu’ ke Suriah’

(Syahrul Munif, kelahiran 1982, bergabung ISIS di Suriah, dan setelah bebas dari penjara aktif menyuarakan nilai-nilai anti-radikalisme)

Dalam rentang sekitar tujuh tahun, Syahrul Munif, 39 tahun, yang dulu berangkat ‘berjihad’ ke medan perang Suriah dengan bergabung ISIS, dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini pria kelahiran Juli 1982 ini berulang-ulang menyebut ISIS sebagai “virus yang merusak citra Islam” — hal yang diakuinya tak “terpikirkan” saat dia bersumpah mendukung ISIS tujuh tahun silam.

Saya lantas bertanya kepada Syahrul — lulusan strata satu Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang — perihal bagaimana dia bisa berubah dalam rentang tujuh tahun.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Berubah dalam artian, misalnya saja, dia tidak lagi menganggap jihad itu harus mengangkat senjata atau tentang ketegasan sikapnya yang menolak konsep kekhalifahan.

“Saat di dalam penjara saya mulai berpikir,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia di rumah kontrakannya di Singosari, Malang, pertengahan April 2021 lalu.

Selama mengikuti program deradikalisasi yang disponsori pemerintah Indonesia, mantan aktivis dakwah kampus ini mengaku “banyak belajar” tentang konsep keislaman secara lebih luas.

“Termasuk jihad di Indonesia seharusnya seperti apa, jihad sesungguhnya menurut syariah seperti apa,” ungkapnya.

Baca juga:

Lalu, apa yang terjadi pada Anda ketika disuguhi video-video propaganda tentang apa yang terjadi di Suriah oleh Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, sehingga nekad ke Suriah? Saya bertanya lagi.

“Saya tidak berpikir ke sana,” jawab Syahrul, mencoba menggambarkan apa yang ada di benaknya, saat itu.

Dia menyebut posisinya saat itu sebagai murid yang “mencari ilmu” kepada Salim yang disebutnya sebagai ustaz alias guru.

“Dan saat itu, saya percaya kepadanya, berprasangka baik saja” — termasuk isi video itu.

Sumber gambar, Dokumen Arif Budi Setyawan

Mirip yang dialami Abu Farros dan Wildan, Syahrul juga menggunakan alasan persaudaraan sesama muslim dan alasan kemanusiaan yang membuatnya “berpikir sempit” untuk memberi penguatan makna jihadnya saat itu.

“Mungkin pikiran saya saat itu sempit dan berpikir, pokoknya saya bisa menolong dan bisa berarti bagi saudara-saudara saya di Suriah,” katanya.

Kalimat inilah yang mengantarkannya dalam perjalanan berisiko dan berbahaya ke medan perang di Suriah pada Maret 2014.

Demi tujuan ‘jihad’ itulah Syahrul saat itu membohongi ibu dan ayahnya, dengan mengatakan bahwa kepergiannya itu untuk umroh dan ambisi belajar agama di Arab Saudi.

Sumber gambar, ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

Kepada istrinya, Syahrul hanya bercerita sekilas tentang rencana kepergiannya. Sang istri saat itu sudah mengingatkannya bahwa dirinya harus bertanggungjawab untuk membesarkan dua anaknya yang masih kecil.

Syahrul dan Abu Farros terbang ke Malaysia dan bertemu beberapa orang lainnya, sebelum terbang ke Turki dan akhirnya melintasi perbatasan menuju “penampungan” di Kota Tell Abyad, Suriah.

Setelah mengikuti latihan militer oleh ISIS di Kota Raqqa selama 25 hari, mereka kemudian ditempatkan di lokasi “perbatasan” dengan Kota Aleppo.

Dalam perjalanannya, Syahrul mengaku mulai bimbang atas pilihan ‘jihadnya’ ke Suriah, setelah mengetahui ada peristiwa deklarasi kekhalifahan apa yang disebut sebagai Negara Islam.

Sumber gambar, Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Pemahaman saya khilafah itu rujukan seluruh muslimin di seluruh dunia, tahu-tahu kok ISIS deklarasikan khilafah. Ini menurut saya terburu-buru dan prematur,” katanya belakangan.

Syahrul mengeklaim dirinya mulai sedikit berubah setelah mengetahui perangai Abu Jandal yang dianggapnya mulai memurtadkan kelompok Islam lainnya.

“ISIS kok seperti itu,” ujarnya. Belum lagi informasi yang dia terima praktek kekejaman ISIS terhadap tawanan perang.

“Saya mendengar di alun-alun kota itu ada kepala-kepala [manusia] yang dipajang di pagar,” katanya. Pada titik inilah, katanya tujuh tahun kemudian, dia memutuskan untuk segera meninggalkan Suriah.

Apakah sebelum Anda berangkat ke Suriah tidak menyadari hal itu, saya bertanya. Syahrul dulu mengaku ‘mengidealkan’ ISIS. “Tapi itu sebelum saya lihat faktanya saat di Suriah.”

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Selama berproses mengikuti program deradikalisasi di dalam penjara itulah, Syahrul kemudian menyimpulkan bahwa “ISIS sudah melenceng dari konsep keislaman”.

“Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam,” katanya.

Namun momen puncak yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Suriah adalah saat dia memberanikan diri menelpon keluarga besarnya.

“Orang tua saya sangat terpukul ketika mengetahui saya berbohong untuk pergi ke Suriah, dan saudara-saudara saya bilang ‘mas, pokoknya kamu harus pulang, karena umi dan aba tidak merestui kepergian mas’,” katanya.

Pada momen itulah, dia merasa sangat berdosa. “Andaikata saya mati di Suriah, dan orang tua tidak merestui, itu sangat berdosa,” tambahnya.

Sumber gambar, Halil Fidan/Getty

Itulah sebabnya, masih dalam tahun yang sama, Syahrul akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhasil.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 2017, Syahrul ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatannya bersama ISIS di Suriah. Dia divonis tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2019 setelah mendapat remisi.

Dalam wawancara, kehadiran ayah dan ibunya disebutnya sebagai faktor paling penting yang membuatnya menyadari kesalahannya bergabung dengan ISIS di Suriah.

“Keajaiban itu saya kira dari doa orang tua yang senantiasa mendoakan saya,” katanya. Dia meyakini doa orang tua lah yang membuatnya berhasil kembali ke Indonesia.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Dan dua tahun setelah menghirup udara bebas, Syahrul belum menceritakan masa lalunya itu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Kelak saat mereka sudah dewasa, Syahrul akan mengungkapkannya — tanpa menutup-nutupinya.

“Paling tidak setiap orang pernah melakukan kesalahan, barangkali abi (ayah) dulu pernah salah dengan berangkat ke sana [Suriah], dan abi sudah berusaha memperbaiki diri, dan bahkan mendidik anak-anak untuk hati-hati melangkah, supaya tidak seperti abi,” kata Syahrul.

Saat ditemui BBC News Indonesia, Syahrul sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

“Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai,” ungkapnya.

Dari sisi pemahaman keislaman, Syahrul mengaku memperluas ‘pergaulannya’ dengan para ulama yang selama ini ‘di luar’ pemahamannya dulu tentang Islam.

“Yaitu ulama yang memiliki wawasan lebih longgar, luas dan luwes, karena Islam ternyata mengajarkan seperti itu,” katanya.

Sumber gambar, ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO

Ketika saya bertanya apakah dirinya mengalami stigma dari masyarakat terkait status eks napi teroris yang dilekatkan padanya, Syahrul tidak terlalu memusingkannya.

Dia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa dirinya adalah “orang baik” dengan membuktikan dengan dakwahnya sekarang yang disebutnya lebih humanis.

“Itu semua akan menjawab dari sebuah stigma, dan itu akan hilang dengan sendirinya, yaitu dengan kita tunjukkan dengan amal nyata yang lebih baik,” ujar Syahrul.

Saat ini Syahrul sedang menyelesaikan sebuah buku yang isinya tentang pengalamannya selama ini yang diharapkannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga rajin membagikan pengalamannya di berbagai kampus dan sekolah.

“Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir ‘Syahrul-Syahrul yang salah’ seperti saya,” tandasnya.