Komnas HAM klaim temukan bukti ‘memperjelas’ insiden tewasnya anggota FPI, pemulihan polisi menuai kritik, apa dengan diketahui sejauh ini?

0 Comments
Komnas HAM klaim temukan bukti 'memperjelas' insiden tewasnya anggota FPI, pemulihan polisi menuai kritik, apa dengan diketahui sejauh ini?

Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

5 jam yang lalu

Komisi Nasional Hak Asasi Bani adam (Komnas HAM) menyatakan berhasil menemukan sejumlah bukti yang dinilai “memperjelas” insiden bentrok yang menewaskan enam anggota Front Pembela Islam (FPI).

Komnas HAM menegaskan akan tetap melakukan pemeriksaan dan penelusuran dengan independen tanpa berafiliasi dengan bagian manapun, meski kepolisian telah melayani rekonstruksi terkait tewasnya enam anggota FPI, yang mengawal perjalanan majikan FPI, Rizieq Shihab.

Sebelumnya, tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi kontak tembak antara polisi dan Barisan FPI di empat titik di Karawang, Jawa Barat.

Polri menetapkan rekonstruksi ini sebagai “bentuk kejernihan polisi”.

Namun FPI memandang adanya kejanggalan dalam pemulihan yang dilakukan polisi.

FPI mengatakan kejanggalan ini karena dalam bahan sebelumnya polisi menyebut anggota FPI tewas dalam baku tembak secara polisi. Namun, hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI mati di tangan polisi karena dikenal merebut senjata polisi ketika ditangkap.

Pengamat kepolisian menyebut rekonstruksi tersebut menuai pertanyaan publik sebab di rekonstruksi terungkap bahwa “polisi tidak melakukan langkah preventif” dan “bertindak tidak sesuai SOP” (standard operation procedure ), serta mendesak dibentuknya tim mandiri pencari fakta.

Bentrokan antara polisi dan Laskar FPI terjadi Tol Jakarta – Cikampek pada Senin (07/12) dini hari. Dalam kejadian tersebut, enam anggota FPI mati ditembak oleh aparat kepolisian.

Ragam polisi menyebut enam anggota FPI itu ditembak mati karena mencari jalan menyerang petugas kepolisian yang membuntutinya. Namun versi FPI menyebut mereka diserang terlebih dulu.

Bagaimana dengan penyelidikan independen Komnas HAM?

Di bagian lain, Komnas HAM yang selalu melakukan penyelidikan di lapangan serta mengklaim telah memiliki bukti kejadian penembakan anggota FPI, yang disebut bisa memperjelas peristiwa tersebut.

Komnas HAM melakukan pemeriksaan terhadap Kapolda Metro Jaya dan Direktur Sari PT Jasa Marga pada Senin (07/12) terkait tewasnya enam anggota FPI di Tol Jakarta – Cikampek.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menjelaskan Dirut Pertolongan Marga Subakti Syukur memberikan keterangan tambahan terkait rekaman CCTV, sedangkan Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menerangkan kronologi kejadian mulai dari sebelum peristiwa hingga sesudah peristiwa meninggalnya keenam anggota FPI.

“Ada bukti baru, bahan tambahannya juga semakin memperjelas peristiwa yang terjadi dan juga soal temuan-temuan lain. Artinya, ini menutup puzzle-puzzle yang ada sehingga tinggal saya analisa, ” ujar Beka Utama.

Ketika ditanya apa bukti-bukti dengan memperjelas insiden itu, Beka Mampu menjelaskan: “Pertanyaan mendasar kan begini, apakah kemudian memang terjadi patokan tembak atau tidak. Atau lalu saksi-saksi mendengar tembakan, ini membentuk membedakan antara mendengar tembakan & melihat baku tembak kan asing. ”

Kendati begitu, ia menjelaskan tersedia beberapa yang memerlukan pendalaman bertambah lanjut.

“Terkait misalnya bagaimana kedudukan fisik mobil, baik mobil petugas maupun dari FPI. Yang kedua, soal uji balistik dan juga forensik, ini perlu pendalaman karena kami harus juga melihat dengan fisik, ” jelas Beka.

Beka menjelaskan Komnas HAM menargetkan pengkajian akan usai dalam waktu kepala bulan mendatang.

Apa bukti yang terungkap dalam rekonstruksi?

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan rekonstruksi dilakukan di empat bercak tempat kejadian perkara (TKP) secara total 58 adegan pada Senin (14/12) dini hari.

Kegiatan dikerjakan di malam hari agar menyelaraskan dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

“Rekonstruksi ini merupakan hasil informasi acara pemeriksaan, dari olah TKP dan bukti-bukti petunjuk yang tersedia, ” ujar Argo usai rekonstruksi, seraya menambahkan pihaknya telah mengontrol 26 saksi terkait insiden tersebut.

“Rekonstruksi kita lakukan biar polisi transparan dalam menangani kasus itu. Jadi kita bisa melihat semuanya adegan per adegan, peran sebab saksi seperti apa. Biar semua kita bisa lihat bersama, ” katanya kemudian.

Empat titik pemulihan terdiri dari TKP di bundaran Hotel Novotel Karawang, Jembatan Badami, Rest Area KM 50 dan KM 51+200.

Dalam rekonstruksi, tersibak bahwa dua laskar FPI terluka di Jembatan Badami sedangkan 4 lainnya di mobil polisi di Rest Area KM 50 Pungutan Jakarta – Cikampek.

Bagian rekonstruksi dimulai dengan beberapa anggota kepolisian yang mengendarai mobil Toyota Avanza berwarna silver dihalangi oleh dua mobil yang dikendarai anggota Laskar FPI, yakni mobil Toyota Avanza berwarna silver dan Cheverolet spin warga abu-abu.

Mobil Toyota Avanza yang dikendarai Laskar FPI menabrak kendaraan yang ditumpangi aparat polisi kemudian melarikan diri, taat petugas yang melakukan rekonstruksi.

Kemudian, mobil Laskar FPI yang asing menghadang mobil petugas. Empat orang keluar dari mobil disebut muncul sambil membawa senjata tajam, kemudian melakukan penyerangan terhadap mobil aparat.

Petugas lalu mengeluarkan tembakan rujukan yang disambut oleh tiga tembakan dari mobil Laskar FPI ke arah mobil polisi kemudian lari diri.

Di Jembatan Badami, mobil yang memuat enam anggota FPI itu kemudian disalip oleh mobil petugas dari sisi sebelah kiri.

Dalam rekonstruksi, salah seorang laskar membuka kaca mobil dan menodongkan senjata ke salah seorang aparat di dalam mobil yang menyimpan empat petugas polisi itu.

Dalam lokasi itulah, baku tembak kurun polisi dan laskar FPI dikenal terjadi.

Usai kejar-kejaran sekitar 200 – 300 meter, mobil petugas tertinggal jauh dari mobil yang ditumpangi anggota FPI.

Namun, mobil Chevrolet yang ditumpangi anggota FPI terhambat sebuah mobil ketika akan keluar dari Rest Area KM 50 Tol Jakarta – Cikampek.

Dalam saat itulah, aparat mengepung mobil tersebut dan meminta penumpang buat menyerahkan diri.

Dalam rekonstruksi, terungkap kalau dua orang anggota FPI terluka. Sebab, keduanya tampak keluar daripada mobil dengan jalan terpincang.

Patuh Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, ke-2 orang itu terluka saat gerak-gerik baku tembak di TKP sebelumnya.

“Di dalam proses pengejaran, melihat sebab gelagat pelaku yang mencoba menodongkan tembakannya kepada petugas, daripada didahului, anggota melakukan tindakan tegas. Ternyata sampai TKP 3 begitu jadi di blok, begitu dibuka dua dari pelaku sudah dalam keadaan terluka, ” terang Andi, tanpa merinci lebih lanjut luka dengan dialami kedua orang tersebut.

Kemudian, kedua anggota FPI yang terluka dibawa menggunakan mobil polisi. Tengah empat orang lain dibawa menggunakan mobil Daihatsu Xenia milik petugas lainnya, yang tiba untuk menolong polisi yang melakukan pengejaran.

Di TKP terakhir, yakni KM 51+200 empat anggota FPI itu ditembak polisi karena diduga mencoba merebut senjata petugas.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, menjelaskan satu anggota FPI duduk di bangku tengah bergabung anggota polisi, sementara tiga yang lain duduk di bangku buntut. Keempatnya tidak diborgol.

“Dalam kunjungan yang tidak jauh jaraknya, sejak KM 50 Rest Area datang dengan KM 51 sampai KM 51, 2 terjadilah penyerangan atau merebut senjata anggota. Terjadi pemeriksaan untuk merebut senjata anggota dibanding pelaku yang ada di di dalam mobil, ” jelas Andi yang menggambarkan aksi yang dilakukan oleh petugas polisi itu sebagai “tindakan pembelaan”.

“Di situlah terjadi upaya daripada penyidik yang ada di di dalam mobil untuk lakukan tindakan pembelaan sehingga keempat pelaku di dalam mobil itu semuanya mengalami tindakan tegas dan terukur dari anggota yang ada di dalam mobil, ” katanya kemudian.

Dalam insiden itu, enam orang anggota FPI dengan meninggal dunia yakni Andi Oktaviawan (33 tahun), Lutfi Hakim (24 tahun), Faiz Ahmad Syukur (22 tahun), M Reza (20 tahun), Muhammad Suci Khadafi Poetra (21 tahun) dan Akhmad Sofian (26 tahun).

Apa respons FPI dan kepolisian hasil rekonstruksi?

Benny Mamoto dari Kompolnas, yang turut serta dalam rekonstruksi itu melahirkan “bahwa memang benar terjadi penyerbuan yang aktif” dari anggota FPI.

“Ini kiranya menjadi pemahaman kita bersama apa yang sesungguhnya terjadi, ” ujarnya.

Hal itu ditegaskan juga oleh Direktur Tindak Kejahatan Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, yang menjelaskan dari TKP 1, mulai terjadi penyerangan kepada anggota kepolisian.

“Sehingga tentu menanggapi penyerangan tadi, anggota Polri di hal ini penyidik dalam instrumen tersebut melakukan pengejaran, ” akunya.

Sekretaris Ijmal FPI, Munarman, mengungkap adanya kejanggalan dalam rekonstruksi yang dilakukan petugas.

Ia mengatakan kejanggalan itu terlihat dari keterangan polisi sebelumnya kalau anggota FPI tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Namun buatan rekonstruksi mengungkap bahwa keempat bagian FPI tewas di tangan petugas karena disebut merebut senjata petugas ketika ditangkap.

“Kalau serangannya dalam atas mobil, kita pertanyakan. Jika empat orang sudah di mobil artinya sudah diakui sekarang itu bahwa empat masih hidup, itu dulu poinnya.

“Empat masih hidup bilamana itu tidak terjadi tembak menujukan, kemudian dibawa pakai mobil serta di dalam mobil dikatakan, difitnah bahwa mencoba merampas senjata petugas. Jadi ini ceritanya berubah, ” ujar Munarman ketika ditemui kuli usai menjenguk pemimpin FPI, Rizieq Shihab yang ditahan sejak Sabtu (12/12) lalu.

“Pertanyaan yang patut diajukan, berapa orang itu di mobil? Masak empat-empatnya cuma dikawal besar petugas? Nah ini makin ajaib, ” imbuhnya kemudian.

Masih banyak pertanyaan yang belum terungkap porakporanda tanggapan pengamat kepolisian

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies, Jelas Rukminto menganggap “masih banyak pertanyaan” yang belum terjawab dalam pemulihan yang dilakukan polisi.

“Bagaimana karakter yang sudah tertangkap kemudian mengabulkan penyerangan. Ini yang akan memunculkan pertanyaan banyak pihak juga, ” kata dia.

Ia juga menyebut kalau “polisi tidak melakukan langkah preventif”.

“Bila sebelumnya mereka melakukan penyerangan, lalu terjadi penangkapan, mengapa bisa terjadi empat orang itu dikumpulkan di dalam satu mobil kemudian mereka mampu melakukan penyerangan.

“Artinya di danau tidak ada rasio yang harmonis antara tersangka dengan polisi yang mengawal yang tertangkap, ini menjadikan penyerangan kembali kemudian muncul insiden dan memunculkan korban meninggal itu, ” katanya.

Dalam Peraturan Kapolri tahun 2009, kata Bambang, petugas seharusnya melakukan standar preventif buat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan semacam itu.

Senada, Ketua Presidium Nusantara Police Watch (IPW) Neta S Pane menganggap aparat polisi telah “melanggar standar operasi dan metode (SOP)” dalam kasus kematian anggota FPI tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa keempat anggota FPI yang diamankan tidak diborgol saat dimasukkan ke mobil polisi.

Neta juga menganggap anggota polisi yang seharusnya terlatih, tidak mampu melumpuhkan anggota FPI dengan tak bersenjata yang sudah diamankan.

“Sehingga para polisi main hajar menembak dengan jarak dekat had keempat anggota FPI itu mati, ” kata Neta.

Menyikapi aksi petugas yang diduga tidak melakukan metode preventif dan tidak sesuai SOP, Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menjelaskan bahwa lembaganya “akan menganalisa dengan instrumen HAM & instrument internal kepolisian”.

Khususnya, kata Beka Ulung, Peraturan Kapolri nomor 1 tahun 2009 soal penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian dan Sistem Kapolri nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi nilai dan asas hak asasi manusia dalam suruhan sehari-hari kepolisian.

“Di situ belakang akan terlihat bagaimana tahapan-tahapan dengan digunakan kawan-kawan kepolisian dalam menyikapi situasi yang ada, ” mengatur Beka Ulung.

Bagaimana dengan permintaan dibentuknya tim independen pencari keterangan?

Neta S Pane mendesak Mabes Polri mau mengakui adanya pelanggaran SOP tersebut.

Ia pun mendesak Komnas HAM dan Komisi III DPR mau mencermati pelanggaran SOP yang kemudian menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dalam kematian anggota FPI yang mengawal Rizieq

“Sebab itulah, Komnas PEDOMAN dan Komisi III perlu mendesak dibentuknya Tim Independen Pencari Bukti agar kasus ini terang benderang, ” ujarnya kemudian.

Namun, Bambang Rukminto dari Institute for Security and Strategic Studies menganggap tim swasembada pencari fakta menjadi langkah terakhir.

“Yang terpenting, bagaimana saat ini semangat kepolisian menjaga profesionalisme, membukanya dengan penuh transparan. Kemudian pada situ terjadi kesalahan-kesalahan, tentunya harus ada pertanggungjawaban yang bisa diterima publik, ” kata Bambang.

Pada pernyatannya pada Minggu (13/12), Kepala Joko Widodo menegaskan jika tersedia perbedaan pendapat perihal proses penegakkan hukum, ia meminta semua bagian menggunakan mekanisme yang ada, yaitu melalui proses peradilan.

Jika menggunakan keterlibatan lembaga independen, katanya, umum dapat menyampaikan pengaduannya melalui Komnas HAM.

“Tidak boleh ada warga dari masyarakat yang semena-mena mengenai hukum yang merugikan masyarakat, makin membahayakan bangsa dan negara & aparat hukum tidak boleh tertinggal sedikit pun, ” kata Jokowi.

“Tapi aparat penegak hukum selalu wajib mengikuti aturan hukum di menjalankan tugasnya, melindungi HAM dan menggunakan kewenangannya secara wajar dan terukur, ” ujarnya kemudian.

Sementara Beka Ulung Hapsara dari Komnas HAM memastikan bahwa lembaganya akan berlaku secara independen tanpa berafiliasi secara apapun.

“Komnas HAM ialah lembaga independen artinya kami tak punya atasan atau kemudian bertanggung jawab kepada yang lain. awak hanya kepada negara yang tersedia saja.

“Tentu saja kami akan berjalan secara independen, objektif dan tentu saja transparan supaya akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. ”