Kongres Rusia akan berikan ‘kekebalan hukum’ bagi Putin di tengah tudingan ‘berniat jadi presiden seumur hidup’

0 Comments
Kongres Rusia akan berikan 'kekebalan hukum' bagi Putin di tengah tudingan 'berniat jadi presiden seumur hidup'

Majelis Federal Rusia, Duma, mendukung rancangan undang-undang (RUU) yang akan memberikan imunitas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Jika peraturan itu disahkan, upaya hukum apapun tak akan bisa menjerat Putin serta keluarganya setelah orang nomor kepala Rusia itu turun dari puncak kekuasaan.

RUU itu adalah bagian daripada amandemen konstitusi Rusia yang disepakati lewat referendum, Juli lalu. Kebanyakan kursi di Majelis Federal & Dewan Federasi Rusia diduduki pembantu Putin.

Masa kepresidenan Putin yang keempat akan berakhir tahun 2024. Tetapi amandemen konstitusi memungkinkannya untuk balik mencalonkan diri dan menjadi presiden setidaknya hingga dua periode teristimewa.

Era ini Putin berusia 68 tarikh. Belum jelas kepada siapa tempat akan memberikan tongkat estafet kepemimpinan.

Hak imunitas yang diajukan ini meneruskan spekulasi tentang masa depan politik Putin. Sejak tahun 2000 tempat telah memimpin Rusia, menjadi pola, dan memiliki pengaruh yang sungguh biasa.

“Mengapa Putin membutuhkan undang-undang yang memberikannya kekebalan sekarang? ” kata salah satu pengkritik terbesar Putin, Alexei Navalny, di Twitter.

Navalny serupa bertanya, “Bisakah diktator mundur berasaskan kehendak bebas mereka sendiri? ”

RUU tersebut lolos dari forum pertama dalam Duma, Selasa (17/11). Sebagian mulia anggota parlemen berasal dari golongan pro-Putin, Partai Rusia Bersatu. Ada 37 anggota parlemen dari Golongan Komunis yang menentang rancangan tersebut.

RUU itu masih harus melalui perut forum lanjutan di Duma, pra diteruskan ke Dewan Federasi (majelis tinggi) dan diteken Putin.

Dengan sah imunitas, mantan presiden dan keluarganya tidak akan bisa digeledah serta diinterogasi polisi. Aset mereka pun akan kebal dari penyitaan.

Mereka tidak akan dituntut atas kejahatan yang dilakukan seumur hidup mereka, melainkan atas tuduhan pengkhianatan atau kejahatan berat lainnya dalam keadaan asing biasa.

Saat ini satu-satunya mantan pemimpin Rusia yang masih hidup adalah sekutu Putin, Dmitry Medvedev.

Mantan Pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev tidak mau mendapatkan kekebalan seperti itu, sebab dia bukan presiden Rusia.

Anggota parlemen dari Partai Rusia Bersatu sekaligus salah satu penggagas RUU tersebut, Pavel Krasheninnikov, menyebut hak imunitas bertujuan memberikan “jaminan stabilitas negara dan masyarakat” kepada presiden.

Mayoritas pemilih Rusia mendukung reformasi konstitusi dalam Juli lalu yang menjadikan Vladimir Putin sebagai presiden sampai 2036 mendatang.

Reformasi itu akan membuat zaman jabatan Putin sebagai presiden balik ke nol pada 2024, jadi dia akan dapat mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk perut masa jabatan hingga 2036 mendatang.

Benteng oposisi menuding Putin mencoba menjadi “presiden seumur hidup”, yang kemudian dibantah Putin.