KRI Nanggala 402: Dari patungan di masjid beli pesawat selam baru hingga serbuan revolusi anggaran alutsista MENODAI naik ‘tujuh kali lipat’

0 Comments

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

sejam yang lalu

Sumber gambar, Antara Foto/Budi Candra Setya

Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 menjadi “pukulan keras” untuk segera dilakukannya revolusi kebijakan modernisasi metode utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya TNI Angkatan Laut – mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Penyelidik militer dari Universitas Nusantara Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, revolusi perlu dilakukan dengan cara meningkatkan secara tajam anggaran dan juga menggunakan kebijakan geopolitik pertahanan secara memanfaatkan posisi strategis Nusantara di kawasan.

“Harus dilakukan revolutionary on budget affair dengan threat atau capability base , bukan budget base seperti sekarang karena tak akan terkejar. Lalu dengan memanfaatkan kekuatan geopolitik Indonesia seperti yang dilakukan Bung Karno, miiter Indonesia terkuat di bumi bagian daksina, ” kata Connie era dihubungi wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau, Rabu (28/04).

Kekuatan tentara Indonesia termasuk Angkatan Lautnya – yang sempat menjelma terbaik di masa Presiden Sukarno – kini tertatih-tatih untuk menjaga laut seluas 5, 8 juta kilometer persegi atau 71% daripada keseluruhan wilayah Indonesia, tambah Connie.

Malang ini juga membangkitkan gerakan kepedulian masyarakat – kaya yang dilakukan anak-anak bujang dari Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, yang menggalang dana buat membeli kapal selam. Hasilnya, dalam dua hari terkumpul hampir Rp800 juta.

“Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada kapal dengan lebih banyak terutama pesawat selam, ” kata Ketua Dewan Syuro Takmir Langgar Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Julius Widjojono mengapresiasi empati dengan ditunjukkan masyarakat yang melintasi agama, sektoral hingga negara atas duka KRI Nanggala 402.

Terkait dengan perlu dilakukannya penambahan anggaran & peningkatan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan itu kepada Kementerian Pertahanan & Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan kebutuhan mengacu pada grand strategi AL. Keputusan ada di bagian atas, mau diberikan barang apa, seperti apa, kami siap melaksanakannya, ” kata Julius.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista secara cepat dikarenakan “keterpaksaan & karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Seperti pada tahun 2020, dari sekitar Rp117 triliun anggaran pertahanan, hampir 50% nya atau sebesar Rp53 trilun digunakan untuk honorarium pegawai, dan sekitar Rp30 triliun untuk belanja barang serta Rp34 triliun buat belanja modal.

‘Gerakan membeli kapal selam’

Sumber gambar, Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho

Sekumpulan anak bujang di Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang merasa berduka dengan musibah Kapal Selam KRI Nanggala 402 berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk santunan dan mengganti kapal menyelundup tersebut.

“Mereka pikir beli kapal seperti kulak mobil, tapi ini niat dan imajinasi yang jalan, kami dukung. Lalu sorenya, anak-anak bergerak mengumpulkan derma di pasar sore Ramadhan Kampung Jogokariyan, ” rencana Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Hasilnya, terkumpul Rp15 juta untuk santunan dan Rp6, 5 juta untuk membeli kapal. Beberapa saat kemudian, muncul antusias dari asosiasi agar dibuat rekening pemberian.

“Hasilnya, ternyata respon sangat luar biasa. Keadaan kedua rekening dibuka sudah hampir Rp800 juta, ” tambah Jazir.

Menggunakan donasi ini juga, Jazir berharap agar kekuatan alutsista pertahanan dapat diperkuat pertama untuk TNI AL dengan memiliki tantangan tugas mengandung.

“Laut itu suram sekali diawasi sehingga perlu banyak kapal selam buat negara maritim yang sangat luas ini, sementara bala AL kita hanya kurang. Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada kapal yang lebih banyak terutama kapal selam, ” kata Jazir.

Revolusi anggaran alutsista perlu ‘meningkat tujuh kala lipat’

Sumber gambar, Antara Foto/Teguh prihatna

Senada secara itu, menurut pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie perlu dikerjakan revolusi anggaran pertahanan secara menggunakan basis kemampuan maupun basis ancaman – tak seperti sekarang yang menggunakan basis anggaran.

“Hitungan dalam disertasi saya tersebut tujuh persen dari PDB (produk domestik bruto), bermakna tujuh kali lipat lantaran hari ini sebesar Rp137 triliun. Jadi dilakukan revolusi modernisasi besar-besaran mengejar ketertinggalan. Lalu tahun berikutnya mendarat bertahap, karena tinggal pemeliharaan, ” kata Connie.

Musibah KRI Nanggala ialah “pukulan keras” untuk cepat dilakukan revolusi anggaran pertahanan. Jika tidak dilakukan serta masih menggunakan basis perkiraan, maka musibah-musibah di periode mendatang sulit terelakan.

“Kalau masih menggunakan budget base , jangan kaget kalau besok-besok ada musibah lagi, ditambah lagi dari anggaran yang ada 70% nya bagi anggaran rutin, jadi buat modernisasi dan peremajaan itu hanya 30%, ” kata Connie.

Connie mencontohkan, Nusantara harusnya memiliki setidaknya 12 kapal selam, namun kenyataanya hanya ada 5 unit dan satu telah masuk. Sementara itu, Indonesia pula memilik 282 kapal perang yang terdiri dari tujuh fregat, 24 jenis korvet, 5 unit kapal menghunjam, 156 kapal patroli dan 10 kapal penyapu ranjau.

Sementara di sisi lain, luas perairan Indonesia bertambah dari 5, 8 juta kilometer persegi sementara daratan hanya 2 juta kilometer persegi yang tersebar pada 17. 499 pulau.

Buat alokasi anggaran militer Nusantara, sebagian besar tersalurkan pada belanja matra darat. Keterangan yang dihimpun dari Sentral Kajian Anggaran Badan Kesarjanaan Sekretariat Jenderal DPR RI 2020 mengungkapkan pada tarikh 2019, anggaran untuk TNI AD sebesar Rp44, 96 miliar, TNI AL sejumlah Rp17, 44 miliar & TNI AU sebesar Rp13, 76 miliar. Di tahun 2020, anggaran untuk TNI AD sebesar Rp55, 92 miliar, TNI AL sejumlah Rp22, 08 miliar dan TNI AU sebesar Rp15, 50 miliar.

Sementara untuk program modernisasi alutsista dalam tahun 2020, Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran sebesar Rp10, 86 triliun, yang terdiri dari Rp4, 59 triliun untuk matra darat, Rp4, 16 triliun untuk matra laut dan Rp2, 11 triliun untuk matra hawa.

Kecelakaan-kecelakaan alutsista TNI

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Pra tenggelamnya KRI Nanggala 402, di era kepemimpinan Pemimpin Joko Widodo setidaknya telah terjadi belasan kali bencana alutsista TNI dengan banyak korban jiwa.

Pada antaranya adalah jatuhnya Motor Hercules C-130 TNI AU di Medan pada 30 Juni 2015 yang membuahkan 122 orang meninggal, kemudian jatuhnya pesawat tempur Hawk Mk-209 di Riau 15 Juni 2020.

Berarakan, beberapa helikopter milik TNI AD jatuh di Papua, Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Sulawesi Tengah yang membuat belasan orang meninggal dunia.

Kemudian di TNI AL, beberapa kapal mengalami kecelakaan.

Memainkan peran geopolitik

Sumber gambar, Antara Foto/Maulana Surya

Setelah melakukan revolusi anggaran, cara selanjutnya adalah dengan cara memanfaatkan letak geopolitik Indonesia yang memiliki peran penting di daerah – berada di jarang dua samudera dan perut benua – seperti yang dilakukan presiden pertama RI, Sukarno.

“Bayangkan, setelah lima tahun merdeka, dalam era Bung Karno kita terkuat di bumi bagian selatan. Apakah kita ada uang? Tidak saat itu, tapi semua takut. Apalagi Australia, Amerika saja bimbang, ” kata Connie

Saat itu, Indonesia memiliki 12 kapal selam jenis Whiskey, puluhan kapal menyerbu, ratusan pesawat tempur serta alutsista lainnya.

“Kuncinya di mana? Kemampuan memainkan geopolitik, posisi penting Indonesia menjadi nilai di saat tersebut Perang Dingin. Sekarang di tengah kebangkitan China, pokok Barat ke Asia Pasifik, seharusnya posisi tawar kita sangat besar untuk memajukan alutsista, ” kata Connie.

Apresiasi kepedulian umum

Sumber gambar, AMPELSA

TNI Angkatan Laut sementara itu mengapresiasi empati yang ditunjukan masyarakat seperti dilakukan bujang muda Masjid Jogokariyan dan pihak lain.

“Kami benar surprise dengan empati dengan diberikan berbagai lapisan kelompok, lintas agama, lintas sektoral bahkan lintas negara, dari beberapa kelompok pelaut asing negeri juga mau menyumbangkan.

“Jadi kalau mau menyumbangkan itu, tidak mungkin TNI AL akan menerima sebab menyalahi UU, yang awak garis bawahi empati ini sangat luar biasa & sangat berterima kasih, ” kata Kadispenal Laksamana Baru Julius Widjojono.

Sementara itu, terkait dengan perlu dilakukannya penambahan anggaran dan pengembangan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan tersebut pada Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan kebutuhan mengacu di dalam grand strategi AL, kesimpulan ada di pihak untuk, mau diberikan apa, sesuai apa, kami siap melaksanakannya, ” kata Julius.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista dengan cepat dikarenakan pengadannya “cukup mahal” dan “keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Kementeriannya, kata Prabowo, sudah menyusun rencana induk 25 tahun untuk membenahi urusan pertahanan.

“Tapi intinya memang, kita akan investasi lebih gembung tanpa memengaruhi usaha pendirian kesejahteraan. Kita sedang merumuskan pengelolaan pengadaan alutsista buat lebih tertib, lebih efisien, ” kata Prabowo.

Semacam pada tahun 2020, daripada sekitar Rp117 triliun perkiraan pertahanan, hampir 50% nya atau sebesar Rp53 trilun digunakan untuk belanja pegawai, dan sisanya sekitar Rp30 triliun untuk belanja bahan serta Rp34 triliun buat belanja modal.