Kudeta Myanmar: Aparat keamanan tembaki pengunjuk rasa, ‘setidaknya 18 orang tewas, puluhan luka-luka’

0 Comments

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

28 Februari 2021, 17: 23 WIB

Diperbarui sejam yang lalu

Alat keamanan di Myanmar menembaki para pengunjuk rasa menewaskan setidaknya 18 orang, menurut organisasi HAM PBB, mendaulat aksi protes hari Minggu (28/02) sebagai yang paling banyak memakan korban semenjak kudeta militer pada 1 Februari.

Korban mati dilaporkan jatuh di Yangon, Dawei, dan Mandalay masa polisi menggunakan peluru garang, peluru karet dan konon air.

Lebih dari 30 orang mengalami luka-luka pada sejumlah aksi unjuk menemui, kata organisasi HAM PBB.

“Rakyat Myanmar berhak untuk menggelar aksi damai dan berhak untuk menyuarakan permintaan pemulihan demokrasi, ” kata juru bicara organisasi PEDOMAN PBB, Ravina Shamdasani said.

“Penggunakan senjata mematikan terhadap unjuk rasa damai tidak pernah bisa dibenarkan menurut biasa hak asasi manusia global, ” imbuhnya.

Aparat keamanan mulai memakai cara-cara kekerasan pada keadaan Sabtu (27/02) setelah berlaku aksi unjuk rasa besar-besaran menentang kudeta. Sebelumnya, sebagian besar unjuk rasa ini berlangsung damai.

Dalam kudeta ini, pemerintah hasil pemilihan umum digulinglan dan banyak pejabat, termasuk pemimpin de facto , Aung San Suu Kyi dimasukkan ke dalam penjara.

Rekaman kejadian hari Minggu yang disebar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa melarikan diri kala polisi merangsek ke ajaran mereka, penghalang jalan didirikan sementara, dan beberapa orang dibawa pergi dalam laksana berlumuran darah.

Tindakan tulang polisi, yang dimulai keadaan Sabtu, diintensifkan di pusat upaya para pemimpin kudeta mengatasi gerakan pembangkangan sipil, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Apa yang terjadi di lapangan?

Aktivis, dokter dan pekerja kesehatan kepada BBC mengatakan bahwa setidaknya 10 tewas dalam ulah hari Minggu.

Di media sosial disebutkan bahwa korban meninggal mencapai bertambah dari 20 orang namun laporan tersebut belum mampu diverifikasi.

Puluhan lainnya menemui luka-luka.

Setidaknya empat orang tewas di kota terbesar, Yangon, ketika polisi menembakkan peluru tajam, granat kejut dan gas air serampangan.

Gambar-gambar di media baik menunjukkan darah di jalanan ketika orang-orang dibawa pergi oleh sesama pengunjuk mengalami.

Seorang dokter berkata kepada kantor berita Reuters bahwa satu orang meninggal pada rumah sakit dengan luka tembak di dadanya.

Para-para pengunjuk rasa terus membangkang, sebagian dari mereka membuat barikade.

“Jika mereka mendorong awak, kami akan bangkit. Bila mereka menyerang kami, ana akan bertahan. Kami tidak akan pernah berlutut di sepatu militer, ” kata pendahuluan pengunjuk rasa Nyan Win Shein kepada Reuters.

Demonstran lainnya, Amy Kyaw, berkata kepada AFP, “Polisi mulai menembak sejak saya datang. Mereka tidak mengatakan satu pun kata rujukan. Beberapa orang terluka dan beberapa guru masih menjatuhkan di rumah tetangga. ”

Beberapa pengunjuk rasa dibawa pergi dalam mobil van polisi.

Sementara itu pada kota Dawei , pasukan keamanan berjalan untuk membubarkan aksi.

Outlet media Dawei Watch mengatakan setidaknya satu orang mati dan lebih dari selusin terluka. Seorang pekerja darurat berkata kepada Reuters tersedia tiga korban jiwa, di dikhawatirkan masih ada lebih banyak lagi.

Polisi juga menindak keras aksi habis-habisan di Mandalay, tempat petugas menggunakan meriam air serta menembakkannya ke udara.

Muncul rasa telah berlanjut di tempat lain, termasuk kota Lashio di timur laut.

Jumlah penangkapan sejak unjuk rasa dimulai belum dikonfirmasi. Grup pemantau Asosiasi Tumpuan untuk Tawanan Politik menyebut angkanya 850, namun ratusan lainnya tampak telah ditangkap akhir pekan ini.

Di mana Aung San Suu Kyi?

Kepala sipil Myanmar itu belum pernah terlihat di depan umum sejak dia ditahan di ibu kota Nay Pyi Taw ketika kudeta dimulai.

Para pendukungnya dan banyak orang dalam komunitas internasional telah menuntut pembebasan Suu Kyi.

Mereka juga menuntut pengembalian hasil pemilu pada November yang dimenangkan telak sebab partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpin Suu Kyi.

Suu Kyi dijadwalkan untuk menghadiri persidangan pada hari Senin atas perkara kepemilikan walkie-talkie yang tak terdaftar dan melanggar susunan virus corona. Namun pengacaranya berkata ia tidak bisa berbicara dengan Suu Kyi.

Para pemimpin militer menjemput alih kekuasaan dengan menuduh terjadi kecurangan masif dalam pemilu, klaim yang dibantah oleh komite pemilu.

Kudeta ini telah dikecam secara luas di luar Myanmar, mendorong sanksi terhadap pihak militer Myanmar dan kesibukan sanksi lainnya.