Kudeta Myanmar: ‘Kami tak bersetuju kembali ke masa kelam di bawah diktator, ‘ kata anak-anak muda dalam jantung aksi protes

0 Comments

Jackpot hari ini Result Sidney 2020 – 2021.

6 Maret 2021, 08: 41 WIB

Anak-anak bujang di Myanmar mengatakan mereka “tak mau kembali ke masa gelap di kolong diktator”, dalam aksi penentangan menentang kudeta militer dengan disebut pengamat bisa bertambah parah dari kerusuhan Nusantara pada Mei 1998.

Semangat menentang kudeta tentara mereka tunjukkan dengan langgeng turun ke jalanan pada Jumat (05/03), dua hari setelah Myanmar menyaksikan keadaan paling berdarah, dengan 38 orang meninggal terkena pelor tajam aparat.

Semenjak korban jiwa mulai bertetesan pada Minggu (28/02), total total korban meninggal sudah lebih dari 50 karakter.

Gelombang protes besar-besaran tiba muncul beberapa hari setelah militer melancarkan kudeta serta menahan Aung San Suu Kyi serta pemimpin biasa lain pada 1 Februari.

Anak-anak muda tersebut menyuarakan pesan yang pas, mereka akan berjuang supaya bisa hidup di tempat demokrasi.

Ma Thandar termasuk di antara ribuan anak muda di Yangon yang turun ke bulevar. Nama-nama dalam laporan ini bukan nama sebenarnya buat menjaga keamanan.

“Alasan saya bergabung adalah karena aku termasuk orang yang menderita di bawah diktator sejak saya lahir. Kami sudah memiliki demokrasi dan kami tidak bisa membayangkan memori berulang. Saya tak bisa membayangkan kembali ke periode gelap. Saya tak bakal generasi berikutnya hidup semacam kami, ” kata Ma Thandar kepada BBC News Indonesia.

Pemerintahan biasa di Myanmar baru dimulai pada 2011, mengakhiri hampir 50 tahun pemerintahan tentara.

Dalam pemilu perdana Myanmar pada 2015, Perserikatan Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai pimpinan Aung San Suu Kyi, menang tinggi dan demikian pula halnya pada November 2020 berantakan, kemenangan yang tak diterima oleh kubu militer.

Junta militer Myanmar tidak mengindahkan seruan Perhimpunan Negara Asia Tenggara, ASEAN, dan negeri2 lain untuk menahan muncul setelah puluhan korban anjlok akibat peluru tajam.

Kusukuan sangat kuat, kecurigaan antaragama tinggi

Pengamat masalah hubungan internasional Dinna Prapto Raharja mengatakan perkembangan di Myanmar dapat lebih parah dibandingkan kerusuhan dalam Indonesia pada Mei 1998.

“Dalam perkembangan terakhir, telah ada isu bahwa militer sebenarnya sudah tidak solid, sudah terbentuk faksi-faksi, makanya faksi yg kuat menunjuk untuk lebih keras memakai senjata, ” kata Dinna, praktisi dan pengajar Ikatan Internasional dari Synergy Policies, kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

“Tetapi karena NLD belum berhasil menguasai satupun faksi militer tersebut, risikonya adalah pertumpahan darah yang saya khawatirkan lebih buruk daripada Nusantara tahun 1998. Mungkin bahkan lebih buruk daripada Nusantara 1965, ” imbuh Dinna yang pernah menjadi pemangku Indonesia untuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights dari 2016-2018.

Demo reformasi mahasiswa 1998 berkembang menjelma kerusuhan besar di sejumlah kota besar termasuk Jakarta, Medan dan Solo. Era itu menurut kepolisian, jumlah korban yang meninggal pada Jakarta saja mencapai 200 orang.

Namun, Dinna mengatakan kondisi di Myanmar jauh lebih buruk dipadankan Indonesia dulu.

“Di Myanmar belum terbangun konsensus nasional tentang identitas negara, masih sangat kuat kesukuannya serta partai-partainya pun berbasis suku, kecurigaan antar agama masih sangat tinggi, dan tersedia negara-negara asing yang investasinya diuntungkan oleh kubu tentara, katanya lagi.

Negara totaliter, ekonomi buruk

Dalam satu gambar yang dikirimkan ke BBC News Indonesia oleh seorang demonstran di Myanmar, tampak anak-anak muda menggunakan tripleks tipis sebagai perisai serta topi plastik yang pelik digunakan pekerja bangunan dalam menghadapi aparat.

Aparat menggunakan peluru karet, gas air mata, dan peluru intelek dalam membubarkan massa.

U Aung Tun, yang mengirimkan video tersebut, sempat dikejar aparat namun berhasil kembali ke rumahnya dengan selamat.

“Kami tak mau beruang di bawah kediktatoran. Beberapa besar generasi kami dan yang berada di arah kami, tahu persis dengan jalan apa buruknya. Inilah peluang belakang kami. Bila kami berakhir sekarang, hidup akan kacau balau, ” kata U Aung Tun yang status di Yangon.

Cecep Yadi, WNI yang tinggal dalam pusat kota Yangon, menyaksikan demonstrasi ini setiap hari dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya berkomunikasi dengan teman-teman saya yang warga Myanmar dan ikut berdemonstrasi, semuanya memberi jawaban yang hampir sama, mereka ingin demokrasi, mereka tidak mau sedang hidup bernegara di bawah diktator militer, ” cerita Cevep.

“Melihat antusiasme serta semangat para demonstran dalam Myanmar, membuat saya merasa salut dengan orang Myanmar, terutama generasi mudanya. Itu menghadapi kudeta yang pantas terjadi dengan tetap mengutamakan persatuan dan kemanusiaan. Mereka melakukan demonstrasi, orasi pada jalan secara besar-besaran, akan tetapi berusaha tertib dan nyaman, ” imbuhnya.

Tekanan dengan dirasakan anak-anak muda tersebut sempat diamati oleh Eni Mulia, Direktur Perhimpunan perluasan media Nusantara, yang berkunjung ke Myanmar sekitar perut tahun lalu.

“Teman-teman pewarta muda yang saya temui mengatakan mereka sangat ingin bisa bekerja dengan tenteram dan bebas. Pemerintah dan aparat sudah mengontrol jalan dengan kekuasaan mereka semenjak lama sebelum kudeta. Independensi pers benar-benar di bercak yang terendah. Itu masa saya berkunjung pada 2019.

“Apalagi sekarang, sejak kudeta terakhir ini, ” sekapur Eni.

Sementara pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengutarakan kondisi di bawah tekanan dengan perekonomian buruk mewujudkan anak-anak muda semakin kausa untuk melakukan protes.

“Saya tidak terkejut dengan kelanjutan bahwa banyak anak bujang yang terlibat dalam tindakan pembangkangan sipil di Myanmar. Sebenarnya protes mahasiswa sudah berkali-kali muncul sebagai bentuk kekecewaan mereka karena negeri yang totaliter tetapi ekonominya buruk, pekerjaan tidak ada, lulusan sulit mendapatkan pekerjaan.

“Kita masih ingat perkara tersebut sebagai gerakan 8888 di tahun 1988 dengan ditumpas sangat keji sekali lalu diakhiri dengan kudeta berdarah, ” kata Dinna.

Kurang dari 72 jam setelah militer melakukan kudeta pada agenda 1 Februari lalu, karakter Myanmar menumpahkan kemarahan serta frustasi terhadap militer menggunakan media sosial paling kondang, Facebook.

Pembangkangan sipil tiba muncul di dunia siber dan menyatukan semua kalangan, mulai dari dokter, perawat, guru, aparat sipil negara dan bahkan polisi.

Lagak protes kemudian segera berpindah dari media sosial ke jalanan.

Lebih sejak dua minggu setelah kudeta, demonstrasi anti-kudeta terus tumbuh, sampai hari berdarah mula-mula pada Minggu, 28 Februari lalu.

Militer tidak cuma menggunakan peluru karet, konon air dan gas tirta mata untuk membubarkan pengikut, namun juga peluru garang. Rabu (03/03) lalu, Myanmar menyaksikan hari paling berdarah dengan korban meninggal 38 orang dan secara total korban meninggal lebih daripada 50 orang.

Mereka yang berada di jantung penentangan ini adalah Generasi Z, mereka yang lahir di dalam akhir 1990-an dan 2012. Generasi yang menolak kembali ke era militer setelah sempat merasakan singkat demokrasi.

Myanmar kembali ke tadbir sipil pada 2011, sesudah hampir 50 tahun berharta di bawah militer.

Pemilihan umum pertama dalam 2015 dimenangkan oleh Golongan Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD pimpinan Aung San Suu Kyi. NLD kembali menang besar pada pemilu November lalu, namun ditentang oleh militer.

Siapa Generasi Z Myanmar?

Sejarawan Myanmar, Thant Myint-U, menulis belum lama di Financial Times bahwa baik tentara dan Aung San Suu Kyi serta partai NLD patut disalahkan.

Ia mengutarakan generasi muda akan dapat mengubah arah negara.

Generasi Z Myanmar mencakup demografi yang cukup luas, termasuk para dokter, perawat, seniman, banjir, para-para guru dan para aktivis lain.

Mereka memiliki iktikad berbeda. Para demonstran selalu mendapatkan dukungan dari selebritas termasuk para aktor, musisi dan blogger.

Tatkala warga Burma yang letak di luar negeri juga memainkan peranan penting dalam mendukung protes melalui media sosial.

Kenangan buruk presentasi 1988

Keberanian yang ditunjukkan para demonstran ini muncul walaupun ada kenangan buruk dalam kebengisan selama kudeta militer pada 1988.

Para pengunjuk mengalami menyadari bahwa militer sanggup melakukan penahanan semena-mena serta militer bahkan dilaporkan merancangkan untuk menerapkan “hukum ketenteraman siber”, sehingga menyulitkan demonstran mengatur protes melalui internet.

Sejak timbulnya korban pada Minggu (28/02), militer menggunakan kendaraan lapis baja di Yangon dan sejak tersebut jumlah demonstran di jalan-jalan agak berkurang.

Para ahli mengatakan, gerakan yang berlaku di Myanmar sekarang tersebut serupa dengan protes dalam 1988.

Namun kemarahan sekadar tidak cukup.

Pengamat politik Min Zin, baru berumur 14 tahun saat bersatu dalam protes tahun 1988. Ia saat ini tinggal di pengasingan dan menjadi pengamat.

Belum lama, Zin mengatakan kepada New York Times bahwa “tekanan publik saja tidak akan membuka tiang bagi transisi politik”.

“Tanpa strategi yang dipikirkan mendalam untuk mencapai tujuan faktual, cepat atau lambat, awak akan selalu berakhir secara menghadapi represi, di lembah bentuk pemerintahan militer, ” katanya.