Muslim Uighur: Amerika Serikat blokir sebagian ekspor China produksi dari Xinjiang karena dugaan pelanggaran HAM, China sebut AS ‘bully’

0 Comments
Muslim Uighur: Amerika Serikat blokir sebagian ekspor China produksi dari Xinjiang karena dugaan pelanggaran HAM, China sebut AS 'bully'

China menuduh Amerika Serikat melanggar susunan perdagangan internasional setelah negara itu memblokir sebagian ekspor China yang berasal dari wilayah Xinjiang secara alasan diduga terjadi pelanggaran hak asasi manusia terutama yang dialami oleh kelompok minoritas Muslim Uighur.

Namun juru bicara Kementerian Asing Negeri China, Wang Wenbin, menentang tuduhan itu dan mengatakan hati atas langkah Amerika Serikat (AS).

“Amerika Serikat menggunakan apa yang disebut masalah tenaga kerja paksa sebagai dalih untuk menerapkan jalan pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan China, mengenai peraturan perdagangan internasional dan pabrik global, mengganggu jaringan industri global, rantai suplai dan rantai kadar.

“Ini adalah terang-terangan perilaku bullying. China menolak tegas itu, ” sirih Wang Wenbin dalam keterangan pers di Beijing.

Pernyataan itu dikeluarkan sesudah Amerika Serikat memblokir kaum jenis barang dari wilayah Xinjiang yang diekspor China.

AS mengatakan “kerja paksa” digunakan untuk memproduksi barang-barang, termasuk di pusat “pelatihan” yang oleh AS disebut “kamp konsentrasi”.

China selalu membantah tuduhan tersebut.

Larangan ekspor dari Xinjiang itu meliputi garmen, kapas, komponen komputer dan produk-produk rambut dari 4 perusahaan dan satu pabrik dalam Xinjiang dan juga Provinsi Anhui.

“Pelanggaran hak asasi manusia luar biasa itu memerlukan tanggapan luar biasa, ” kata Kenneth Cuccinelli, pemangku tugas wakil menteri keamanan di dalam negeri AS.

“Ini adalah perbudakan modern, ” tambahnya.

Sementara itu, seorang pejabat Badan Kepabeanan dan Pelestarian Perbatasan AS, Mark A. Morgan mengatakan larangan yang berlaku tiba Senin (14/09) “mengirim pesan terang kepada masyarakat internasional bahwa ana tidak akan membiarkan praktik gelap, tak manusiawi, dan eksploitatif sebab kerja paksa di jaringan suplai AS”.

“Pemerintahan Trump tidak bakal tinggal diam dan membiarkan perusahaan-perusahaan asing memaksa pekerja rentan melakukan kerja paksa sementara merugikan bisnis Amerika yang menghormati hak dasar manusia dan aturan main, ” jelas Morgan.

‘Kerja paksa’ di Xinjiang

Larangan barang masuk ke AS dari Xinjiang merupakan metode terbaru yang ditempuh Presiden Trump untuk menekan China terkait dengan kondisi di wilayah itu.

Negeri China diyakini menahan lebih sebab satu juga warga etnik Uighur selama tahun-tahun terakhir dengan tanda risiko keamanan. Mereka dimasukkan dengan paksa ke kamp-kamp konsentrasi.

Namun China mengisbatkan tidak ada kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang, melainkan balai-balai pelatihan bagi warga Muslim Uighur agar mereka “mengikuti pendidikan vokasi”.

Ribuan anak dipisahkan dari orang tua mereka dan berdasarkan penelitian baru-baru ini, rani dipaksa menjalani prosedur agar tidak mempunyai anak.

Larangan eskpor dari Xinjiang ke AS tidak datang mencakup larangan dari seluruh wilayah Xinjiang yang sebelumnya sempat dipertimbangkan.

Namun opsi itu masih dieksplorasi.

“Karena situasi unik, memberlakukannya kepada seluruh wilayah, bukan terhadap kongsi atau fasilitas, kita masih mempertimbangkan aspek hukumnya, ” jelas Kenneth Cuccinelli.

“Kami ingin memastikan begitu kami maju dengan pilihan tersebut, itu dapat dipertahankan. ”

China menghasilkan sekitar 20% dari produksi kapas di semesta dunia. Sebagian besar kapas China dihasilkan di Xinjiang. Wilayah tersebut juga memproduksi petrokimia dan barang-barang lain yang diserap oleh bengkel China.

Bulan ini, perusahaan hiburan Amerika Serikat, Disney, dikritik sebab melakukan syuting film baru Mulan di Xinjiang.