Nanggala 402: Kapal-kapal China tolong cari para awak, temukan sekoci darurat kapal menyelundup

0 Comments

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

21 April 2021

Diperbarui 20 menit yang lalu

Sumber tulisan, Zabur Karuru/Antarafoto

Upaya pencarian seluruh jasad kapal selam KRI Nanggala-402 yang gugur dalam kesialan di perairan Bali terus dilakukan dengan bantuan 3 kapal dari China.

Hingga saat ini bagian badan tekan atau pressure h u ll dengan diduga menjadi tempat peristirahatan terakhir para awak pesawat belum ditemukan, kata Pemimpin Koarmada II Laksamada Muda TNI Iwan Isnurwanto.

“Dengan tidak ada temuannya [personel KRI Nanggala-402], maka kemungkinan hendak ada di sana, ” kata Iwan dalam bertemu pers, Selasa (18/05).

Dia menambahkan, badan tekan diperkirakan berada di dalam gua berdiameter 38 meter serta kedalaman 10-15 meter yang terletak di dekat arah haluan (bow), anjungan (sail), dan buritan (stern) pesawat selam ditemukan. Ada serupa kemungkinan badan tekan tertimbun oleh lumpur di dasar laut.

B aca juga :

“Tapi saat ini pun menggunakan sonar beam tidak bisa membaca, ” kata Iwan.

China mengerahkan tiga kapal untuk membantu pencarian KRI Nanggala-402 yang tenggelam di kedalaman sekitar 838 meter di perairan Bali. Mereka merupakan Yongxingdao-853, Nantuo-195, dan Tan Suo Er Hao-2. Dua kapal pertama merupakan kapal militer, sedangkan yang ke-3 merupakan kapal riset.

Pada melaksanakan survei, kapal-kapal China didampingi oleh enam pesawat dari Koarmada II, termasuk KRI Rigel.

Kapal Tan Suo Er Hao jadi mengangkat sekoci darurat ataupun liferaft KRI Nanggala-402. Belum ada bagian-bagian besar asing yang berhasil diangkat.

Laksda Iwan mengatakan kepada wartawan bahwa operasi pencarian bersama-sama kapal-kapal China akan terus dilanjutkan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

‘Seluruh awak KRI Nanggala-402 telah gugur’

Sumber tulisan, Antara

Sebelumnya, seluruh badan kapal selam KRI Nanggala-402 dipastikan telah “gugur”.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan kesimpulan itu didasarkan “bukti-bukti” yang didapatkan dari “citra bawah air” KRI Rigel dan MV Swift Rescue dari Singapura yang melakukan pencarian tenggat Minggu pagi.

Disebutkan kalau bukti-bukti itu antara asing bagian luar kapal, pemimpin vertikal belakang, jangkar, tenggat baju keselamatan awak kapal selam.

“KRI Rigel sudah melakukan pemindaian secara lebih akurat di lokasi tersebut menggunakan multibeam sonar dan magnetometer , ” kata Hadi Tjahjanto.

“Dan telah menghasilkan citra bawah air yang bertambah detil. MV Ship Rescue juga telah menurunkan ROV-nya untuk memperkuat citra bawah air secara visual memakai kamera, ” paparnya.

Sejak upaya itu, menurutnya, sudah diperoleh citra yang telah konfirmasi sebagai bagian lantaran KRI Nanggala-402.

“Meliputi kemudi vertikal belakang, jangkar, bagian luar badan tekan, pemimpin selam timbul, bagian kapal yang lain, termasuk baju keselamatan awak kapal, ” ungkap Hadi.

Berdasarkan bukti-bukti otentik tersebut, Panglima TNI menyatakan, bahwa “KRI Nanggala-402 telah tenggelam dan semesta awaknya telah gugur, ” kata Hadi, dalam jumpa pers di Bali.

“Saya nyatakan bahwa 53 personil yang on board KRI Nanggala-402 telah gugur, ” tambahnya.

Sumber gambar, Antara

Panglima TNI kemudian membuktikan “dengan kesedihan yang mendalam” menyampaikan belasungkawa atas kejadian ini, terutama kepada rumpun para awak kapal selam tersebut.

“Atas tanda prajurit dan keluarga luhur TNI saya sampaikan mengecap dukacita yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga prajurit dengan gugur, ” kata Hadi.

‘Kapal selam terbelah menjadi tiga bagian’

Sumber gambar, Maulana Surya/ANTARA FOTO

Sementara itu, Kepala Pekerja TNI Angkatan Laut, Laksamana Yudo Margono, mengatakan temuan mereka menyebutkan bahwa “kapal selam terbelah menjadi tiga bagian” di dasar bahar di kedalaman sekitar 838 meter.

“Jadi di sana KRI Nanggala terbelah menjelma tiga bagian, ” sebutan Yudo Margono dalam bertemu pers bersama Panglima TNI.

Di hadapan wartawan, Yudo memperlihatkan citra visual kurang bagian dari badan kapal selam tersebut, termasuk baju keselamatan awak kapal beragam oranye.

“Biasanya ini diletakkan dalam kotak, tapi ini bisa lepas, bermakna ada kedaruratan, sehingga diambil dari kotak dan dipakai, ” kata Yudo.

Peluang, sambungnya, awak kapal tersebut belum sempat memakainya, kondisinya sudah darurat sehingga rontok.

Apakah kapal selam hendak diangkat ke atas?

Ditanya wartawan apakah kapal selam Nanggala akan diangkat ke atas, Yudo Margono mengatakan, pihaknya akan mencari jalan untuk mengangkatnya.

Dia mengiakan sudah ada sebuah badan dari luar negeri dengan menawarkan untuk mengangkatnya.

“Namun demikian, ini menetapkan keputusan pemerintah, saya hendak mengajukan ke Panglima TNI yang nanti secara berjenjang ke atas. Kalau sudah ada keputusan [pemerintah], akan kita angkat pesawat itu, ” ujarnya.

Barang apa penyebab kapal selam masuk?

Menjawab pertanyaan mengenai faktor penyebab tenggelam KRI Nanggala-402, Yudo Margono mengutarakan “bukan karena human error atau kesalahan manusia”.

“Dari awal saya sampaikan bahwa kapal ini, tidak atau tidak human error. Jadi bukan human error. Karena saat proses menyelam itu sudah melalui modus yang betul, ” katanya.

Menurutnya, kapal selam itu sudah melaksanakan “prosedur pendalaman dengan benar”. Saat menyelam, katanya, lampu kapal menyelundup juga masih menyala.

“Saat menyelam juga diketahui lampu masih menyala semua. Berarti tidak black out . Nah saat menyelam langsung hilang. L ah , ini belakang yang akan diinvestigasi tentunya setelah badan kapal tadi bisa kita angkat, ” katanya.

“Sebenarnya sudah kita evaluasi dari awal mengenai kejadian ini. Tapi tentunya, saya berkeyakinan ini tidak human error tapi lebih pada mungkin faktor zona, ” kata Yudo.

Barang apa temuan sebelumnya?

Sebelumnya, status ‘hilang kontak’ pesawat selam KRI Nanggala telah berganti setelah sejumlah serpihan dan barang-barang menjadi ‘bukti otentik’ bahwa kapal sudah ‘tenggelam’.

Dalam petunjuk kepada media pada Sabtu (24/04), Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Yudo Margono, mengatakan kepingan & bagian yang diyakini bagian atau komponen kapal selam “tidak akan terangkat ke luar kapal apabila tak ada tekanan dari asing atau terjadi keretakan dalam peluncur torpedo. ”

Kondisi ini terjadi mengingat lokasi terakhir kapal berada pada kedalaman 850 meter.

Barang-barang yang ditemukan antara asing, botol oranye berisi grease pelumasan naik-turunnya periskop pesawat selam. Kemudian alas yang biasanya dipakai ABK buat salat.

Menurut Laksamana Yudo Margono, barang-barang tersebut dipercaya bagian dari KRI Nanggala berdasarkan kesaksian mantan ABK Nanggala dan komunitas pesawat selam.

“Dengan demikian, adanya bukti-bukti otentik diyakini milik KRI Nanggala sehingga zaman ini kita isyarakatkan sub-miss kita tingkatkan menuju periode sub-sunk. Fase sub-sunk kita siapkan untuk evakuasi ABK, ” ujarnya.

Sumber gambar, EPA

Ditambahkannya, tim pencarian yang mencakup pesawat serta kapal sejumlah negara mendeteksi KRI Nanggala pada kedalaman 850 meter.

“Ini sangat riskan dan memiliki kesulitan tinggi. Dengan pengganggu ini kita tetap jalankan untuk melaksanakan prosedur pengangkatan maupun evakuasi berikutnya, ” kata KSAL.

Sumber gambar, Kurun Foto

Sebelumnya, Laksamana Yudo Margono, mengungkapkan kalau KRI Nanggala 402 mempunyai persediaan oksigen untuk 72 jam, atau sekitar tiga hari setelah hilang relasi pada Rabu (21/04) jam 03. 00 WITA.

Artinya, cadangan oksigen pada kapal tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Sabtu (24/04) dini hari.

Meski tenggat telah terlampaui, sebanyak 20 kapal dan lima pesawat dikerahkan untuk memeriksa kapal selam berawak 53 orang itu pada Sabtu (24/04) pagi.

Di antara kekuatan tersebut, terdapat kepala kapal HMAS Ballarat lantaran Australia dan satu udara P-8 Poseidon milik Bala Laut Amerika Serikat.

P-8 Poseidon dilaporkan telah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada Sabtu (24/04) pukul 03. 00 waktu setempat.

Dalam keterangan kepada media, juru bicara Departemen Pertahanan AS, John F Kirby, mengatakan pengiriman pesawat P-8 adalah “untuk positif pencarian kapal selam Nusantara yang hilang”.

“Indonesia ialah sahabat yang baik & mitra strategis, Kami seluruh sangat bersedih melihat laporan mengenai kapal selam itu. Simpati dan doa awak untuk para pelaut Indonesia, Angkatan Laut Indonesia, serta tentu semua keluarga mereka, ” kata Kirby.

Kirby mengatakan bahwa Pesawat P-8 Poseidon adalah pesawat perondaan maritim yang didesain dengan khusus untuk mencari beraneka macam hal, khususnya kapal selam.

“Alat yang canggih itu dapat membantu menuntun negeri Indonesia untuk mendapatkan pendirian lokasi [pencarian] yang lebih baik, ” ujarnya.

Sumber gambar, Antara Foto

Salah satu kedudukan pencarian yang bakal dimaksimalkan adalah titik ditemukannya kemagnetan kuat yang dideteksi KRI Rimau pada Kamis (22/04).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Achmad Riad, mengatakan, KRI Rigel akan dikerahkan untuk memeriksa titik kemagnetan kuat itu.

KRI Rigel 933 merupakan kapal survei hydro oseanografi. Kapal ini memiliki kemampuan deteksi bawah tirta. Kapal ini juga yang digunakan untuk beberapa proses SAR yang lalu, seolah-olah saat kejadian jatuhnya udara Lion Air di Semenanjung Karawang dan Sriwijaya Tirta di Kepulauan Seribu.

“KRI Rigel saat ini pantas berada dekat, diharapkan burit bisa merapat, bisa membuat dan merencanakan kegiatan buat (mencari) hasil yang kemarin dari KRI Rimau bahwa ada satu titik magnet yang cukup kuat tidak berubah. Itu akan dikejar, semoga jadi titik benar, ” ujar Riad saat konferensi pers, Jumat.

Sebelumnya, pada Kamis (22/04), Kepala Staf TNI Laskar Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, menuturkan bahwa pihaknya mendeteksi kemagnetan tinggi di salah satu lokasi pencarian KRI Nanggala-402.

“Tadi baru kita temukan masa Panglima ke sana, ada kemagnetan yang tinggi dalam suatu titik di kedalaman 50-100 meter melayang, ” ucapnya saat konferensi pers, Kamis.

Sumber gambar, Dok. puak

Selagi operasi pencarian digencarkan atas KRI Nanggala 402, keluarga para raga kapal selam tersebut masih menunggu kepastian.

Ratih Wardhani mengaku “menunggu dan berdoa” atas nasib kakaknya, Utama Laut Wisnu Subiyantoro, dengan merupakan satu di antara 53 awak kapal selam tersebut.

Menurut Ratih, kakaknya terakhir berjumpa dengan dua anak dan istrinya pada Surabaya sebelum pergi berlayar pada Senin (19/04).

“Kami semua masih syok, ” sebutnya kepada BBC Indonesia.

Ratih kini berencana bertolak dari rumahnya di Kebumen, Jawa Pusat, ke Surabaya untuk mendampingi kakak iparnya dan ke-2 keponakannya sekaligus menunggu keyakinan nasib Mayor Laut Wisnu Subiyantoro.

Sebelum menjadi jasmani KRI Nanggala, pria kelahiran 24 Agustus 1971 tersebut merupakan awak KRI Cakra—kapal selam serupa yang juga dibuat di HDW (Howaldtswerke Deutsche Werft) Jerman.

Dia memulai pendidikan Madrasah Calon Bintara TNI AL sekitar 1989, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Calon Perwira.

Kecelakaan alutsista TNI/Polri sejak 2015

21 April 2021

Kapal selam KRI Nanggala-402 milik TNI AL buyar kontak di perairan Bali. Belum diketahui jumlah objek dan titik lokasi pesawat.

14 Juli 2020

KRI Teluk Jakarta-541 tenggelam di segara Masalembu, Jawa Timur.

16 Juni 2020

Pesawat tempur Hawk 209 milik TNI AU jatuh di dekat Kampar, Riau.

enam Juni 2020

Helikopter MI-17 HA5141 milik TNI AD jatuh saat latihan terbang di Kendal, Jawa Tengah. 4 orang anggota TNI AD meninggal dunia.

28 Juni 2019

Helikopter M1-17 milik TNI jatuh di kawasan Oksibil, Papua.

10 Maret 2018

Tank M113 milik TNI AD terperosok ke kali di Purworejo, Jawa Sedang, saat membawa siswa PAUD dan TK sehingga menimbulkan dua orang meninggal negeri.

18 Mei 2017

Peluru nyasar akibat meriam Giant Bow milik TNI AD yang tidak bisa diarahkan menyebabkan empat orang meninggal.

18 Desember 2016

Hercules Bell C-130 HS dengan bagian registrasi A-1334 milik TNI AU dari Timika menuju Wamena jatuh menabrak Gunung Pugima, di Jayawijaya, Papua. 12 awak dan kepala penumpang meninggal dunia.

3 Desember 2016

Pesawat Skytruck Polri dari Pangkalpinang menuju Batam jatuh di perairan Dabo dan mengakibatkan 13 karakter meninggal

24 November 2016

Helikopter Bell 412 EP yang membawa logistik dibanding Tarakan, Kalimantan Utara, lepas di Pegunungan Malinau & menewaskan tiga orang bagian TNI AD.

8 Juli 2016

Helikopter Bell 205 A-1 jatuh di Yogyakarta saat mengamankan kunjungan Presiden Jokowi. Tiga orang meninggal.

20 Maret 2016

Helikopter Bell 412 EP menetes karena cuaca buruk dan tersambar petir saat amblas beroperasi menangkap teroris dalam Poso, Sulawesi Tengah. 13 orang meninggal termasuk penumpang dan awal pesawat.

10 Februari 2016

Pesawat pelajaran Super Tucano milik TNI AU jatuh di pemukiman di Malang saat pelajaran aerobatik. Dua pilot dan dua warga pemukiman meninggal dunia.

30 Juni 2015

Motor Hercules C-130 yang mendatangkan logistik dari Medan menuju Kepualauan Natuna jatuh. Musibah ini menyebabkan 110 penumpang dan 12 awak pesawat meninggal.

15 Maret 2015

Motor TNI AU jatuh zaman latihan aerobatik di Langkawi, Malaysia. Tidak ada korban jiwa meski pesawat menghantam kawasan pemukiman.

KSAL mengungkapkan bahwa KRI Nanggala 402 pra hilang kontak tengah mengikuti latihan penembakan rudal dan torpedo. Latihan yang digelar TNI AL itu diikuti 21 kapal KRI, 5 pesawat dan 2 kapal selama, termasuk KRI Nanggala 402.

Namun, sejak hilangnya kapal selam secara 53 awak itu, pelajaran dihentikan dan kini segenap terfokus pada pencarian.

Kepala Sentral Penerangan TNI, Mayjen Achmad Riad, mengatakan sebanyak 21 kapal perang dan utama pesawat patroli maritim sudah dikerahkan untuk mencari KRI Nanggala.

TNI selalu telah menerima bantuan sebab Singapura, Malaysia, Australia, & India.

Singapura bakal mengirim kapal Swift Rescue yang berfungsi sebagai pesawat penyelamat kapal selam dengan mengalami kendala di bawah air. Adapun Malaysia mau mengirimkan Kapal Rescue Mega Bakti yang diperkirakan tiba Senin (26/04).

Selain ke-2 negara itu, Australia mengutus dua kapal (HMAS Ballarat dan HMAS Sirius) & India mengirim satu pesawat (SCI Sabarmati).

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selalu akan membantu pencarian dengan mengerahkan gabungan BPPT, Basarnas dan P3GL (Pusat Studi dan Pengembangan Geologi Kelautan) dengan menggunakan kapal Basarnas.

Sumber gambar, TNI AL

Jejak bahan bakar

Meniti pengamatan udara dari helikopter, pada pukul 07: 00 WIB ditemukan tumpahan patra di sekitar posisi pangkal kapal menyelam.

Temuan seragam dilaporkan KRI REM 331 pada area seluas 150 meter persegi.

Keterangan sejak TNI AL menyebutkan analisa sementara menunjukkan, “kemungkinan zaman menyelam statis terjadi black out (atau mati listrik) sehingga kapal tidak terkendali dan tidak melakukan metode kedaruratan sehingga kapal menetes pada kedalaman 600-700 meter.

Di seputar area tenggelam menunjukkan “kemungkinan terjadinya tuangan minyak di sekitar kawasan tenggelam, kemungkinan terjadi keburukan tangki BBM (retak) sebab tekanan air laut ataupun pemberian sinyal posisi dibanding KRI NGL-402. ”

Mau tetapi, berdasarkan keterangan Kapuspen TNI, Mayjen Achmad Riad, temuan tersebut “belum mampu disimpulkan sebagai bahan mengobarkan kapal selam”.

Ditambahkannya, KRI REM 331 mendeteksi pergerakan di bawah air secara kecepatan 2. 5 knots.

“Kontak tersebut lalu hilang, sehingga masih tidak cukup data untuk mengidentifikasi kontak dimaksud sebagai kapal selam, ” papar Mayjen Achmad Riad.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI Pasukan Laut Laksamana Pertama Julius Widjojono mengungkapkan kepada BBC News Indonesia bahwa pencarian tidak hendak berhenti dan akan dilakukan 24 jam. Dia pula mengungkapkan ini baru kala pertama kapal selam TNI AL hilang.

Julius mengatakan pencarian dilakukan pada perairan Bali Utara secara kedalaman sekitar 700 meter.

TNI AL juga telah mengirimkan distres ISMERLO ( International Submarine Escape and Rescue Liaison officer ). Data lain menyebutkan terdapat tumpahan minyak di lokasi kontak terakhir.

Ketika ditanya kok bisa hilang, Julius mengatakan, “Kapal ini sudah 40 tahun lebih, dengan risiko tekanan yang cukup gede, materialnya cukup bisa lelah. ”

KRI Nanggala 402 dibuat di HDW (Howaldtswerke Deutsche Werft) Jerman di 1977 dan mulai dimanfaatkan pada 1981, dengan kemajuan jelajah 21, 5 knot.

Tercatat KRI Nanggala beberapa kali melaksanakan pelestarian dan overhaul di Jerman, PT. Pal dan terakhir di Korea Selatan dalam tahun 2007 hingga 2012.

Kapal selam ini kering kontak ketika tengah pelajaran penembakan senjata strategi pada perairan Selat Bali.

Bagaimana kronologinya?

Dalam jumpa pers pada Kamis (22/04), Besar Pusat Penerangan TNI, Mayjen Achmad Riad, mengatakan KRI Nanggala melaksanakan penyelaman di dalam pukul 03. 46 periode setempat

Kemudian pada memukul 04. 00, kapal tersebut melaksanakan penggenangan peluncur torpedo no. 8. Aksi ini, menurut Mayjen Achmad Riad, adalah komunikasi terakhir secara KRI Nanggala.

Di dalam pukul 04. 25 saat Komandan Gugus Tugas Latihan akan memberikan otorisasi penembakan torpedo, komunikasi dengan Nanggala sudah terputus.

Sumber gambar, Jarang Foto

Apa dengan dapat menyebabkan kapal menyelundup hilang?

Kecelakaan kapal menyelundup di dunia militer tercatat jarang, kata Muhammad Haripin, pengamat pertahanan LIPI.

Peralatan militer punya kaki yang lebih tinggi dibandingkan produk komersial atau keluaran sipil, katanya.

Haripin mengucapkan ada dua faktor penyebab kecelakaan kapal selam.

“Yang pertama, kendala teknis. Jadi ada kerusakan teknis yang tidak terdeteksi atau yang dibiarkan berlarut-larut. Yang ke-2, human error, atau ciri manusia, ” kata Haripin.

“Bisa jadi, awak kurang latihan atau dihadapkan pada medan atau lapangan yang menantang atau tak lazim, ” tambahnya.

Pesawat selam ini mengangkut 53 orang, terdiri dari 49 anak buah kapal, utama komandan dan tiga orang pakar persenjataan.

Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengatakan seperti dikutip sejumlah keterangan, seluruh kapal pencari dikerahkan untuk melacak KRI Nanggala-402.

Kapal selam KRI Nanggala 402 adalah satu dari lima kapal selam dengan dimiliki Indonesia.

Kapal selam ini sempat diperbarui & dilengkapi lagi selama dua tahun di Korea Selatan dan selesai pada 2012, menurut kantor berita Reuters.

Kesusahan kapal selam pernah terjadi pada 2017 di Argentina di selatan Samudra Atlantik dengan 44 awak.

Puing-puing kapal ditemukan setahun kemudian dan para pejabat memastikan kapal selam itu berserakan karena tekanan.