Rahasia perjalanan 500 kilometer rombongan gajah di China – ‘pengembaraan terjauh gajah liar dari habitatnya’

0 Comments

Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

sejam dengan lalu

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Kawanan gajah dengan berjalan sejauh 500 kilometer telah tiba di sebuah kota di China yang dihuni jutaan manusia.

Belum jelas mengapa 15 gajah itu bertolak sebab bagian selatan Provinsi Yunnan ke ibu kota provinsi tersebut, Kunming.

Banyak orang menduga kawanan tersebut dipimpin seekor gajah yang tak berpengalaman sehingga membuat itu tersesat. Sementara ada pula yang mengira mereka boleh jadi sedang mencari habitat pertama.

Para ilmuwan mengucapkan perjalanan 15 ekor gajah itu adalah pengembaraan terjauh bagi kawanan gajah liar dari habitatnya.

Baca juga:

Surat kabar Kunming Daily melaporkan hampir 700 anggota polisi dan petugas tanggap darurat dikerahkan sebab pemerintah Kota Kunming serta Yuxi. Mereka dilengkapi 10 ton jagung, nanas, serta makanan lain.

Upaya para-para petugas disokong sejumlah truk dan drone yang memalingkan kawanan gajah itu ke jalur aman.

Tanpa memandang dari dekat, celik jarak, jangan kasih jagung atau garam, dan tanpa ganggu dengan petasan, begitu wanti-wanti para petugas pada penduduk.

Sumber tulisan, Getty Images

Sejauh ini upaya memutarbalikkan kawanan gajah tersebut telah gagal serta para ilmuwan mungkin kudu mencari tempat yang masuk untuk menampung mereka.

Para-para pakar satwa menilai gabungan gajah tersebut berjalan semakin jauh karena padatnya warga manusia membuat mereka semakin takut.

Gajah Asia adalah satwa yang terancam binasa. Di China, hewan itu hanya ada 300 ekor yang sebagian besar beruang di Provinsi Yunnan.

Baca juga:

Misteri perjalanan

Masih menjadi misteri mengapa kawanan gajah tersebut meninggalkan habitat mereka, yang diduga terletak dalam Cagar Alam Mengyangzi dalam Xishuangbanna, bagian barat daya Provinsi Yunnan.

Aparat pertama kali mengetahui pergerakan itu setelah diberitahu penduduk lokal yang melihat kawanan gajah itu berada sekitar 100km sebelah utara Xishuangbanna pada April lalu.

Jumlah pasukan tersebut awalnya dikira sebesar 17 ekor, namun perut di antara mereka tampaknya berjalan mengarah ke wadah asal ketika mencapai negeri Mojiang.

Laporan lainnya menyuarakan kawanan gajah itu semula berjumlah 16 ekor. Namun setelah dua ekor tak lagi turut serta, seekor bayi gajah dilahirkan. Jadi kini mereka berjumlah 15 ekor.

Ke-15 ekor gajah itu disebut terdiri sejak enam betina dewasa, tiga jantan dewasa, tiga muda, dan tiga anak.

Semasa perjalanan, kawanan gajah tersebut mengembara siang dan suangi melalui lahan pertanian, salur tanah, serta jalan aspal. Bahkan, pada suatu kala, mereka mengambil jalan pokok menuju Desa Eshan serta menggedor pintu rumah warga.

Sebuah video dengan beredar di media sosial memperlihatkan orang-orang berlarian seraya berseru “mereka datang”. Bagian itu disusul oleh kehadiran sebuah mobil polisi dan para gajah, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

Laporan pemerintah Provinsi Yunnan menyebut kawanan itu telah “menimbulkan masalah sebanyak 412 kali”.

Salah satu cerita yang muncul berasal dari saluran Jimu News . Media itu melaporkan seorang pria lansia bersembunyi dalam kolong tempat tidur lantaran belalai gajah menembus merembes kamarnya.

Kemudian seekor gajah dilaporkan mabuk akibat minum gandum fermentasi, namun laporan ini sulit diverifikasi kebenarannya.

Soal kerugian, kawanan gajah itu disebut merusak tanaman di lahan pertanian senilai US$1 juta. Untungnya, tiada korban selama perjalanan itu.

Mengapa mereka pergi daripada habitatnya?

Ada kelakar enak di media sosial China. Sebuah unggahan di Weibo menyebut hewan-hewan itu mungkin ingin menghadiri Konferensi Kedamaian Hayati PBB di Kunming. Namun, kawanan itu datang lebih awal karena konvensi PBB berlangsung pada Oktober mendatang.

Terlepas dari kelakar, perpindahan para gajah merupakan hal serius—yang melibatkan hilangnya habitat serta meningkatnya kebencian antara gajah dan petani di Yunnan.

Sumber tulisan, Reuters

Li Zhongyuan, seorang pejabat kehutanan di Xishuangbanna, mengatakan kepada Global Times bahwa makanan gajah dalam habitatnya telah menipis. Jadinya para satwa mengincar flora pertanian seperti jagung serta tebu.

Pengembaraan 15 punggung gajah ini bisa selalu diikuti kawanan gajah yang lain jika habitat mereka semakin berkurang untuk kemudian diganti dengan lahan karet dan tanaman yang ditumbuhkan untuk profit.