Ramadan di tengah cengkeraman militer Myanmar: ‘Penahanan tanpa tanda, pembunuhan dan rasa tak aman berada di masjid’

0 Comments

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

54 menit yang selanjutnya

Sumber gambar, Tweets Kyaw Min

Di salah satu sarana di tengah kota Yangon, tempat banyak warga Muslim bermukim, Ramadan kali ini menyisakan trauma mendalam.

Pada pekan pertama Ramadan lalu, banyak warga yg melayat seorang pemuda yang ditemukan tergantung di masjid dengan kondisi dipakaikan baju perempuan. Tidak ada keterangan resmi apa yang terjadi namun di media sosial, warga banyak membicarakan berkaitan yang terjadi adalah aksi militer.

Daw Zi termasuk di antara yang melayat pemuda yang sering menjaga masjid itu.

“Sangat menyedihkan dan sangat sulit kondisi di sini… Pemuda itu sendiri di masjid ketika ditangkap dan meninggal, ” kata Daw Zi, bukan nama sebenarnya, perempuan berusia 35 tahun.

Warga Muslim yang tinggal di seputar tempat tinggalnya itu termasuk orang Myanmar sendiri, orang Rohingya serta Muslim dari Asia selatan.

“Kami takut ke masjid pada malam hari. Tak ada yang berani. Kami pulang ke rumah sebelum maghrib dan melakukan tarawih di rumah. Kami buka puasa juga di rumah. Tak aman salat pada masjid, ” tambah perempuan keturunan Rohingya ini kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Kabar yang terjadi di Mandalay dalam hari pertama Ramadan juga terdengar oleh mereka pada Yangon.

Seorang pria berusia 28 tahun meninggal saat tentara melepaskan tembakan ke arah masjid Maha Aungmyay, Mandalay, ketika pria itu tengah tidur, setelah menunaikan ibadah di masjid, menurut Myanmar Now, media online independen.

Media ini mengutip para saksi mata yang mengatakan tentara langsung melepaskan tembakan dan Ko Htet, pemuda itu, ditembak, di dada dan meninggal di tempat.

Daw Ma Aye, perempuan berusia pertengahan 20an, yg tinggal di Yangon mendengar kabar ini dan mengatakan, “Kami sama sekali tak aman. Mereka seolah memberi kami kebebasan semu yang dapat diambil kapan tertentu. ”

“Akan selalu ada penahanan tak terduga-duga sama sekali tanpa alasan apapun. Jadi sama sekali tak aman tuk salat di masjid, inch katanya lagi kepada BBC News Indonesia.

Ketakutan menjadi sasaran

Selain Daw Zi, dan Daw Ma Aye, anak muda Muslim lain, U Jee, bukan nama sebenarnya, juga merasa was-was dan selalu berwaspada, serta takut menjadi incaran.

“Tidak, kami tak bisa tarawih karena jam malam. Namun militer juga secara rutin dan random memeriksa masjid. Mereka dapat menahan orang yang berkunjung ke masjid dan membuat orang takut pergi ke masjid, dikarenakan itu sejumlah masjid tutup, ” cerita U Jee.

Sumber gambar, U Jee

“Selama siang hari, sebelum buka puasa, orang-orang di tengah kota mencoba menjual makanan di tengah situasi penuh risiko dan bahaya. Mereka perlu menjual sesuatu untuk menyambung hidup. ”

Sumber gambar, U Jee

“Setelah jam 19: 00 malam, semuanya tutup, orang-orang di dalam rumah lalu berdiam. Sepanjang malam, banyak polisi dan tentara yang berpatroli di seputar tengah kota, ” tambahnya.

Daw Zi, Daw Ma serta U Jee termasuk anak-anak muda yang ikut serta di dalam protes besar yang pecah setelah militer melancarkan kudeta pada 1 Februari selanjutnya.

Dari ketiga mereka, hanya Daw Zi yang jamaah Rohingya.

Cecep Yadi, seorang warga Indonesia yang berteman baik dengan ketiganya ketika tinggal di Yangon, mengatakan kondisi saat ini benar-benar traumatis buat semua.

“Ramadan tahun lalu sangat relaxing (damai) yah… Aktifitas seperti biasa… Tempat belanja, ocurrir, restoran buka seperti biasa.. Warga Muslim juga berpuasa dengan lancar dan damai, ” kata Cecep.

Namun dalam dua bulan terakhir, anak-anak muda Myanmar, tak terkecuali termasuk yang Muslim berada dalam kondisi kekhawatiran.

“Mereka benar-benar trauma dan sedih, melihat orang meninggal setiap hari, di depan mata… Meninggal karena disiksa, dibunuh oleh polisi dan tentara, ” kata Cecep Yadi, yang meninggalkan Myanmar akhir Maret.

“Saya sendiri sangat trauma dua bulan di zona perang, menyaksikan apa yang terjadi dan dengan perjuangan keluar dri Myanmar. Kesedihan dan trauma terberat yang pernah saya alami, ” tambah Cecep.

Ia mengatakan cara untuk keluar dari negara itu cukup berat dengan surat dari KBRI serta penjagaan tentara di polisi sampai ke bandara.

Protes besar yang diikuti ribuan orang di banyak kota di Myanmar sepanjang Maret lalu dibalas militer dengan kekerasan dan menyebabkan paling tidak 700 orang meninggal, termasuk puluhan anak-anak, sementara banyak lainnya ditahan.

Tambah suram bila militer meraih kekuasaan lebih

Sumber gambar, Oughout Jee

Ronan Lee, seorang pengamat dari Worldwide State Crime Initiative — komunitas yang meneliti file kejahatan negara – mengatakan kondisi Muslim di Myanmar khususnya warga Rohingya akan “tetap suram. ”

Shelter mengatakan kondisi Muslim Rohingya akan semakin parah bila junta mendapatkan kekuasaan lebih.

Ia mengatakan, seperti dikutip South China Morning Post, mereka “sangat rentan arah penyiksaan lebih lanjut oleh militer. ”

Sumber gambar, Oughout Jee

Lee, yang juga penulis buku Myanmar’s Rohingya Genocide: Identity, History and Hate Speech, mengatakan sering matinya internet dan penahanan para wartawan juga membuat kondisi lebih susah untuk mengangkat nasib warga Rohingya.

Nasir Zakaria, pimpinan eksekutif Rohingya Culture Centre yang berkantor di Chi town, Amerika Serikat, memperingatkan yakni warga Muslim Rohingya berada “di ambang bahaya besar. ”

“Tidak ada tutorial untuk melindungi mereka. Militer sangat kuat. Orang Rohingya bisa ditahan, dibunuh, diculik dan diperkosa, ” kata Nasir.

Sementara Ronan Lee mengatakan kekejaman yang dihadapi warga sipil Rohingya dalam 2017 termasuk pembunuhan, penahanan, perkosaan dan mereka sama sekali tak berdaya menghadapi tentara dengan senjata lengkap.

Lee mengatakan sekitar a hundred and forty. 000 warga Rohingya dikumpulkan di kamp konsentrasi di negara bagian Rakhine, tempat mereka dipaksa tinggal sejak 2012.

Ia mengatakan mereka yang berada di luar kamp menjalani apa yang ia sebut “sistem aparteid” dengan pembatasan bergerak termasuk ke desa-desa sekitarnya, akses pendidikan, kesehatan dan bekerja juga terbatas.

“Genosida yg didokumentasikan oleh PBB tak berubah banyak dalam tahun-tahun terakhir ini dan di desa-desa Rohingya terlihat kemiskinan dan ketakutan terhadap militer, ” kata Lee mengacu pada laporan PBB dalam 2019 tentang kondisi Rohingya.

Sumber gambar, Getty Images

Dalam laporan itu PBB menyimpulkan terjadi “risiko serius aksi genosida akan kembali terjadi. ”

Sejak kudeta 1 Februari lalu, pra pengamat mengatakan mayoritas etnis Bamar lebih bersimpati atas nasib warga Rohingya.

Salah satu kelompok sipil bulan lalu bahkan berjanji untuk mencari keadilan untuk kelompok minoritas itu. Tetapi tak banyak yang mereka lakukan untuk melindungi Rohingnya dari militer.

Nay San Lwin, pendiri Free Rohingya Coalition – jaringan worldwide para aktivis Rohingya — menyatakan kekhawatiran bahwa pemimpin militer Min Aung Hlaing, yang merebut kekuasaan dri pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi, akan meluncurkan kekerasan lagi terhadap warga Rohingya.

“[Min Aung Hlaing] pernah mengatakan bahwa krisis Rohingya adalah masalah yang belum selesai sejak Perang Dunia II, ” kata Nay San Lwin.

Bagi Daw Zi serta teman-temannya, anak-anak muda Myanmar, di tengah ketidakpastian terkait, ia hanya mengatakan, “Kami tak tahu apa yang akan terjadi namun kami tetap ingin demokrasi untuk kebebasan. ”