Sanksi Uni Eropa terhadap China terkait ‘pelanggaran HAM’ terhadap Muslim Uighur: Empat pejabat dibekukan aset dan dipakai larangan perjalanan

0 Comments

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

19 Maret 2021

Diperbarui 6 jam dengan lalu

Sumber gambar, Getty Images

Uni Eropa menerapkan sanksi atas empat penguasa China, termasuk pejabat keamanan, terkait pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, sanksi mula-mula terhadap Beijing dalam lebih 30 tahun.

Para-para menteri luar negeri Asosiasi Eropa menyepakati larangan penjelajahan dan membekukan aset terhadap empat pejabat termasuk besar polisi di Xinjiang dan drektur biro keamanan publik, Chen Mingguo.

Uni Eropa mengatakan Chen bertanggung jawab atas “pelanggaran serius sah asasi manusia. ”

China menyanggah melakukan pelanggaran HAM di Xinjiang dan mengutarakan kamp di provinsi tersebut ditujukan untuk pelatihan serta diperlukan untuk memerangi ekstremisme.

Tuduhan Amnesty International

Sumber gambar, AFP

Pekan lalu, organisasi PEDOMAN Amnesty International menuduh China memisahkan secara paksa suku minoritas Muslim Uighur dengan mengambil anak-anak dan membawa mereka ke panti-panti ajaran pemerintah.

Dalam laporan terakhir yang dikeluarkan Amnesty, lembaga ini menyerukan China membatalkan anak-anak yang saat ini berada di panti-panti asuhan tanpa izin orang gelap mereka.

Kasus-kasus pengambilan bujang secara paksa ini terungkap setelah Amnesty berbicara dengan orang-orang Uighur yang membiarkan China untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah organisasi HAM membuktikan pemerintah China menahan lebih dari satu juta awak Muslim Uighur di Xinjiang.

Pemerintah China menghadapi dakwaan pelanggaran-pelanggaran HAM seperti kerja paksa, sterilisasi paksa, pelecehan seksual dan pemerkosaan yang diyakini dilakukan oleh negara terhadap Muslim Uighur serta anggota etnis minoritas lain.

Tuduhan ini dibantah serta Beijing mengatakan yang mereka lakukan adalah “mengirim mereka ke kamp-kamp reedukasi” di dalam upaya memerangi terorisme.

Karena akses ke Xinjiang sangat dibatasi, Amnesty mengumpulkan kesaksian dari orang-orang Uighur yang meninggalkan kawasan itu pra represi meningkat pada 2017.

Kesaksian tersebut antara lain didapat dari Mihriban Kandidat dan Ablikim Memtinin.

Mereka menyelematkan diri ke Italia pada 2016 setelah menerima perlakuan buruk dari petugas. Saat itu, polisi jarang lain memaksa mereka menganjurkan paspor.

Empat anak Mihriban Kader-Ablikim Memtinin dititipkan ke kakek dan nenek itu. Amnesty mengatakan, yang berlaku kemudian sang nenek dikirim ke kamp reedukasi tatkala sang kakek diinterogasi polisi.

“Keluarga kami yang asing tak berani merawat anak-anak kami setelah kejadian dengan menimpa wali kami, ” kata Mihriban kepada Amnesty.

“Mereka takut mereka akan dikirim ke kamp [jika berani mengambil anak-anak kami]. ”

‘Ditangkap polisi’

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Pada November 2019, Mihriban & Ablikim mendapat izin sebab pemerintah Italia untuk mengakibatkan anak-anak mereka, namun di perjalanan anak-anak ini ditangkap oleh polisi dan ditempatkan di panti asuhan pemerintah, kata Amnesty.

“Sekarang anak-anak kami berada di lengah pemerintah China… saya tidak tahu apakah kami bisa menemui mereka lagi, ” kata Mihriban.

Kesaksian serupa didapat dari Omer serta Meryem Faruh, yang menyelamatkan diri ke Turki di 2016. Dua anak terkecil mereka dititipkan ke kakek-nenek karena tak punya paspor, kata Amnesty.

Kemudian Omer dan Meryem mendapat kabar bahwa pengampu mereka ditangkap dan sejak itu mereka tak pernah tahu kadar dua anak mereka.

Amnesty meminta agar China mengambil akses tak terbatas bagi para pemantau HAM, pengkaji independen, dan wartawan ke Xinjiang.

Baca juga:

Sumber gambar, Reuters

Mereka juga mendesak biar anak-anak Uighur yang diambil paksa ini dikembalikan ke pihak keluarga.

“China menerapkan kebijakan yang sewenang-wenang di Xinjiang yang memisahkan keluarga… anak-anak dilarang membiarkan [panti asuhan]. Orang primitif menghadapi persekusi dan interpretasi jika mereka pulang & mengambil anak-anak ini, ” kata Alkan Akad, peneliti Amnesty International untuk masalah China.

China membantah sudah melakukan pelanggaran HAM kepada minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Namun sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Belanda menyatakan China melakukan genosida terhadap masyarakat Uighur.

Legislasi serupa yang diusulkan di Inggris ditolak oleh parlemen.