Setahun Covid-19 di Indonesia: ‘Tingkat kesulitan semakin berat’, ancaman ’20. 000 kasus for each hari’, hingga capaian vaksinasi ‘lambat’

0 Comments

Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

7 jam yg lalu

Setahun setelah kasus pertama Covid-19 terdeteksi, Indonesia masih menghadapi kemungkinan meningkatnya kasus disease corona hingga mencapai twenty. 000 per hari, menurut ahli pemodelan matematika. Rendahnya capaian vaksinasi dan penelusuran kasus yang belum mumpuni disebut sebagai penyebab.

Dalam refleksi satu tahun Covid-19 di Indonesia yang disiarkan melalui Youtube . com Kemenristek/BRIN (02/03), Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut penanganan penyakit terkait di Indonesia akan makin sulit.

Ia merujuk pada ditemukannya varian malware corona baru, B117, yg pertama kali terdeteksi di Inggris. Varian ini disebut lebih mudah menyebar di masyarakat.

“Artinya kita akan menghadapi pandemi terkait dengan tingkat kesulitan yang semakin berat, ” ujarnya.

Ia juga mengakui masih masih melimpah pekerjaan rumah (PR) pemerintah terkait vaksinasi hingga penelusuran kasus, sesuatu yang berdasarkan pemerintah akan terus dibenahi demi pengendalian wabah.

Capaian vaksinasi rendah

Hingga (02/03), menurut information Satgas Penanganan Covid-19, pemerintah baru melakukan vaksinasi dalam sekitar 1, 9 juta orang dari target sebanyak 181, 5 juta masyarakat.

Itu berarti, capaiannya masih sekitar 1%, lalu masih jauh dari focus on Presiden Joko Widodo buat memvaksinasi 900. 000 hingga 1 juta orang for each hari.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai capaian vaksinasi saat ini tak akan berpengaruh pada pemodelan matematika yang dibuatnya, yakni Indonesia masih dapat mencatat hingga 20. 1000 kasus per hari dalam tahun ini.

“Kalau dari sisi modeling, tidak berpengaruh karena jumlah yang divaksin, ” kata Nuning.

Timnya memperkirakan puncak fall dapat terjadi pada 4 Agustus 2021. Hingga akhir 2021, tim juga menilai kasus baru per harinya bisa lebih dari 10. 000 kasus.

Hal tersebut dapat terjadi, kata Nuning, karena orang-orang yang jenuh bepergian saat libur panjang dan lebaran, juga orang-orang yang semakin lengah oleh protokol kesehatan karena keberadaan vaksin.

“Ahli epidemiologi berpendapat bahwa dia [vaksinasi] akan punya makna jika yang divaksinasi antara 70-80 persen.

“Kondisinya sekarang penyebarannya masih sangat tinggi dan jumlah vaksinasinya sangt terbatas sehingga tak berpengaruh terhadap kondisi puncak, ” ujarnya.

Iqbal Elyazar, kolaborator ilmuwan LaporCovid-19, mengatakan cara vaksinasi terlalu “lambat”.

“Jika target pemerintah menyelesaikan vaksinasi ini sampai akhir tahun 2021, maka intensitas vaksinasi seharusnya sekitar 520. 000 orang per hari, ” ujarnya.

Ia mencatat, rata-rata harian vaksinasi Indonesia dalam satu minggu belakangan adalah sekitar 68. 000 orang perhari.

“Kenaikan kecepatan vaksinasi yang amat signifikan amatlah diperlukan untuk mempercepat pengurangan ganjalan kesehatan di masyarakat lalu faskes.

“Misalnya jika kapasitas vaksinasi kita sebatas 100. 000 orang per hari, dengan target 181, 5 juta orang, jadi diperkirakan butuh waktu lima tahun itu melakukannya. Terlalu lama, ” kata Iqbal.

Mengapa capaian rendah?

Juru bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, menyebutkan salah satu tantangan melaksanakan vaksinasi masif adalah jumlah vaksin.

“Tantangannya kali ini ialah memastikan jumlah vaksin yang tersedia sesuai dengan jumlah focus on vaksinasinya, ” ujarnya.

Sejauh ini, pemerintah sudah menerima vaksin Sinovac dari China sebanyak 38 juta dosis. Sebanyak 35 juta dalam ukuran bulk (bahan baku) lalu tiga juta dalam ukuran vaksin yang sudah menjadi.

Bahan baku itu selanjutnya diproses di REHABILITATION Bio Farma menjadi vaksin jadi. Hingga kini, tercatat sekitar tujuh juta vaksin jadi yang sudah beredar di masyarakat.

Pemerintah mengatakan akan menerima overall 185 juta dosis Sinovac, seraya berupaya mengadakan vaksin lain, seperti Pfizer, Astra Zeneca, dan Novavax.

Yg jadi prioritas vaksinasi pemerintah hingga kali ini adalah tenaga kesehatan, pekerja publik, lalu warga lansia. Sementara itu, vaksinasi lansia, baru dapat dilakukan di ibu kota provinsi saja.

Wiku mengatakan pemerintah akan menyajikan vaksinasi lebih fleksibel ke depannya.

“Pemerintah terus berupaya menjadikan vaksinasi terkait lebih fleksibel dengan menyarankan titik pelayanannya, yaitu diperluas tidak hanya di ibukota provinsi, ” ujarnya.

Di sisi lain, Iqbal Elyazar, kolaborator ilmuwan LaporCovid-19 menyorot masalah managerial yang menghambat pelaksanaan vaksinasi.

“Ada eksekusinya juga yang harus menunggu perintah dahulu, lalu ada perubahan eksekusi prioritas orang-orang yang dapat vaksin di daerah-daerah, ” ujarnya.

Perubahan prioritas itu, katanya, terjadi dalam kasus pemberian vaksin pada tahanan KPK dan keluarga anggota DPR.

Bagaimana mempercepat vaksinasi?

Pemerintah berupaya mengejar target vaksinasi oleh melakukan vaksinasi yang disebut ‘gotong royong’, meski program ini dikritik lantaran dikhawatirkan membuka pintu komersialisasi vaksin.

“Untuk percepatan vaksin, khususnya kepada pekerja publik, maka upaya terkini yg disusun pemerintah ialah vaksin gotong royong yaitu vaksin yang prosesnya akan diterapkan oleh swasta, namun tetap di bawah pengawasan pemerintah.

“Perlu ditekankan yakni vaksin gotong royong tidaklah vaksin mandiri sehingga tetap gratis untuk target penerimanya, yaitu para pekerja, inch kata Wiku Adisasmito.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan akan memakai data Pemilu yang dihimpun Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memperlancar proses vaksinasi.

Dalam penandatanganan MOU antara kementerian dan KPU (02/03), Menteri Kesehatan Budi Gunadi membeberkan proses vaksinasi pada tenaga kesehatan yang sempat terhambat data domisili yang belum termutakhir.

Hal tersebut terjadi pada tenaga kesehatan yang alamatnya tercatat pada Yogyakarta, tapi kini berdomisili di Jakarta.

“Jadi jatahnya dikasih ke Yogyakarta, begitu mau disuntik mereka ngomel karena tinggal di Jakarta kok disuruh pulang ke Yogya.

“Itu adalah contoh issue pertama dikarenakan data tidak update , ” ujarnya.

Penelusuran dan tes

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengakui masih banyak pekerjaan rumah yg harus dilakukan pemerintah terkait vaksinasi.

Namun, dia mengatakan program vaksinasi pun tak akan berhasil tanpa pelaksanaan protokol kesehatan, yang disebutnya 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), juga peningkatan 3T (testing, tracing, treatment) .

“Vaksinasi maka akan gagal kalau proses tracing dan examining tidak kuat, ” ujarnya.

Terkait penelusuran, pemerintah telah berupaya menambah jumlah petugas pelacak kontak hingga 30 kontak dalam satu kasus, sesuai standar WHO.

Dante mengatakan pemerintah akan fokus membenahi kekurangan di bidang penelusuran ini.

“Kita pakailah tracer (penelusur) yang lebih banyak lagi. Kira-kira 80. 000-100. 000 Babinsa, Bhabinkamtibmas, kader-kader puskesmas untuk membantu proses ini di hulu [untuk] mencari kontak erat orang yang belum terdiagnosis, ” kata Dante.

Menurutnya, hal itu penting untuk mendeteksi orang terinfeksi yang belum mengalami gejala berat, sehingga angka mortalitas pun jadi berkurang.