Tempe, ‘hadiah Indonesia untuk dunia’, perjalanan panjang dan pelik bisnis ‘makanan luar biasa’ di mancanegara

0 Comments

Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021.

  • Endang Nurdin
  • BBC News Nusantara

8 jam yang lalu

Sumber gambar, Rustono

Di kaki bukit di luar Kota Kyoto, Jepang, pada suatu sore, seorang pria menutup pintu rolling besi satu bangunan tinggi dan bergegas memperkenalkan muncul dengan senyum lebarnya.

“Saya Rustono, pengusaha tempe di Jepang, saya tumbuh di Grobogan [Jawa Tengah], saya punya dua pabrik salah satunya di belakang saya. ”

Rustono menunjukkan suasana di seputar pabriknya yang terletak “di tengah pegunungan”, banyak pohon saru dengan sungai kecil tak jauh dari situ.

“Inilah mimpi kami… Banyak hadiah dari alam. Kayu mampu untuk bakar boiler , air pegunungan untuk proses pembuatan tempe, ” katanya sambil menetapkan ke kejauhan sekitar kepala kilometer, tempat pabrik tempenya yang pertama.

Sumber gambar, Rustono

“Kami produksi 10. 000 sampul [setiap lima hari] serta dikirim ke lebih satu. 000 titik di Jepang, meliputi restoran, katering, madrasah untuk makan siang, hotel, toko-toko Asia, orang Indonesia di Jepang, maskapai penerbangan dan masih banyak sedang, ” katanya lagi.

Baca juga:

Tengah di Kota Meksiko, yang berjarak hampir 12. 000 kilometer dari Jepang, seorang perempuan muda bercerita alasannya memutuskan untuk mengolah dan memproduksi tempe.

Dengan penuh semangat, ia mengantar tempe dengan sepedanya ke para pelanggannya di pusat kebisingan dan kemacetan tanah air terbesar dan terpadat di Amerika Utara itu.

Pada kemasan tempe yang diproduksinya ada tulisan berbahasa Spanyol, “Hadiah Indonesia untuk dunia. ”

“Saya Luisa Vélez, saya membuat tempe… Aku jatuh cinta dengan tempe ketika pertama kali memeriksa di Yogyakarta, ” katanya bangga. Luisa ke Nusantara saat itu dalam program Darmasiswa, beasiswa dari Departemen Luar Negeri.

Sumber gambar, Luisa Velez

“Saya ingin orang-orang tahu, bahwa tempe adalah warisan yang pegari dari negara indah dengan kaya budaya. Saya merasakan mendapat kehormatan dapat menjalar makanan Indonesia luar lazim dan bergizi ini. ”

Luisa, seorang sarjana nutrisi yang mengaku sudah melaksanakan tempe lebih dari 15 tahun, mengatakan ia belajar membuat tempe dari Rustono.

“Saya terinspirasi dari tempat. Rustono menjadi mentor & mitra bisnis saya… Semenjak bertemu dengannya, hidup saya berubah dan saya benar berterima kasih kepadanya, ” kata Luisa lagi.

“Beberapa tahun lalu saya ke Indonesia dengan Rustono. Ada kalimat yang muncul dari hati kami, kata-kata itu adalah tempe adalah uang lelah Indonesia untuk dunia. Kata-kata itu tertulis di kemasan tempe kami di Meksiko. ”

Luisa adalah salah seorang murid dan pacar bisnis Rustono. Banyak sejak mereka yang datang langsung ke Jepang untuk bersekolah langsung.

Ingin jadi pionir tempe tapi ditolak bertahun-tahun

Sumber gambar, Rustono

Penjelajahan Rustono sampai memiliki perut pabrik dengan produksi ribuan bungkus tempe, dimulai bertambah dari 20 tahun berarakan, dengan berbagai kendala serta banyak penolakan.

Banyak yang tak tahu soal tempe, walaupun di Jepang sasaran berbasis kacang kedelai pas banyak, termasuk apa dengan disebut natto, cerita Rustono.

Ia mendatangi banyak restoran dan toko-toko sambil mendatangkan “bungkusan putih”.

Proses memproduksi tempe juga memiliki tantangan tersendiri. Ia belum sudah membuat tempe dan sebelumnya bekerja di satu hotel di Yogyakarta.

“Saya telepon ibu untuk menanyakan jalan membuat tempe, dan aku coba buat dan kasih ke tetangga, gak berhasil, karena di sini ada empat musim sehingga mempengaruhi pembuatan tempe. Saya cari akal untuk memberi penghangat… Kadang jadi, kadang enggak, ” ceritanya terkekeh.

Namun tekadnya sudah mantap untuk membuat tempe. “Saya bekerja bisa menjadi pionir dalam Jepang. ”

Produksi tempe pada tahun-tahun awal tak bisa digunakan untuk mengasuh keluarganya, kata Rustono yang menikah dengan perempuan Jepang dan dikaruniai dua dayang.

Ia menyambi di bermacam-macam cafe, perusahaan sayuran, makanan dan juga kerja main termasuk “potong rumput & mengaspal jalan. ”

Sumber gambar, Rustono

Memasuki tahun ke delapan membuat tempe, bisnisnya belum juga menghasilkan, namun Rustono malah berputar untuk memperluas tempat pengerjaan tempe dengan memasang “atap dan balok”.

Pada Desember 2005, saat hujan salju, dengan “perasaan terbakar dan semangat meluap untuk mengambil mimpi” mereka tetap hidup. Semangat yang terlihat “aneh dan ganjil” tetap bekerja di luar saat salju turun, diperhatikan seorang kuli, yang penasaran dan datang dua kali untuk mewawancarainya.

Pertanyaan soal tempe hanya bagian kecil dari artikel wartawan Jepang itu, sisanya berisi usaha Rustono buat meraih mimpi, termasuk dengan cara nekat tetap berfungsi saat salju turun. Tetapi inilah yang menjadi bintik balik.

“Dua hari kemudian, saya dapat telepon sejak orang-orang yang menolak saya, meminta dibawakan tempe. Tiba banyak yang order serupa, ” cerita Rustono memasukkan usahanya mulai menghasilkan di sekitar 2008.

Sumber tulisan, Rustono

Ia mendatangi banyak restoran dan membicarakan bermacam-macam kemungkinan menu dengan menggunakan tempe. Dan ada cukup banyak menu baru, cakap Rustono, termasuk miso tempe.

Makan tempe, pagi siang malam, namun tak tersedia yang tahu tempe

Pada Meksiko, Luisa mengalami pengalaman sulit serupa.

Sumber gambar, Luisa Velez

Setelah perdana kali mencicip tempe menyelar – yang semula dia pikir kacang goreng porakporanda tempe menjadi menu utamanya, dari sarapan sampai sajian malam.

“Saya terkejut secara rasa yang luar pokok. Saya jatuh cinta dengan tempe, dan sejak itu setiap hari makan tempe untuk sarapan, makan terang, dan makan malam. Sesudah kembali ke Meksiko tidak ada yang menjualnya dan saya memutuskan untuk membuat sendiri, ” cerita Luisa mengawali bisnis kecilnya.

“Saya mulai dari nol, tak punya modal, tapi beta terdorong dan terinspirasi sebab Rustono, untuk memperkenalkan tempe ke orang-orang Meksiko.

Sumber gambar, Luisa Velez

Dia mengatakan karena tak tersedia yang mengenal tempe, membuatnya sulit untuk menjalankan usaha.

“Tak ada yang cakap tempe, kecuali komunitas orang Indonesia atau orang asing dengan pernah ke Indonesia atau orang Eropa atau Amerika Serikat di mana menempa lebih popular. Jadi suram untuk mengembangkan tempe. Karena itu saya perlu waktu sampai tempe dapat men. ”

Sumber gambar, Luisa Velez

Keluarga menjadi andalan finansial untuk membantunya mengembangkan bisnis.

“Pembuatan tempe sangat sulit, perlu kerja tulang, banyak malam tanpa tidur, frustasi dan perlu menggubris ke detail. Proses pembuatan makanan ini perlu menghiraukan suhu dan terkadang tak bisa terduga kalau kelembaban berubah, ”

Sumber gambar, Luisa Velez

“Setiap sen yang saya dapat, hamba investasi lagi untuk bakal alat, membeli kedelai, sampai akhirnya mulai berkembang dan pelanggan semakin banyak. Oleh sebab itu makan waktu. Pelan-pelan pendapatan mulai ada, ” cerita Luisa bersemangat.

Beberapa tarikh terakhr ini, kata Luisa, ia sudah bisa tumbuh dari usaha tempenya.

“Saat ini, saya dibantu tim saya dalam produksi dan distribusi. Untuk Kota Meksiko, kami naik sepeda untuk mengirim tempe, dan ini membantu mengurangi polusi di kota besar ini. Sanga efisien dan tak terhambat macet. ”

Sebagian luhur distribusi tempenya di Praja Meksiko, namun pengiriman ke kota dan negara bagian lain semakin naik, katanya.

Jadi apa favorit karakter Meksiko dalam mengolah tempe?

Sumber gambar, Luisa Velex

“Ada yang dalam bentuk tempe burger, atau dicampur taco [makanan Meksiko] dan dicampur dengan bahan lokal, seperti guacamole. Banyak yang mereka campur secara resep sendiri karena tempe sangat fleksibel bisa dicampur dengan bahan apapun, ” katanya lagi.

Mimpi bergabung menyebarkan tempe

Sumber tulisan, Rustono

Bagi Rustono, jiwa “Raja Tempe” di Jepang, ia masih terus melacak mimpi-mimpinya yang lain.

Dia bertekad untuk terus memberi pelatihan bagi mereka yang tertarik membuat tempe di negara masing-masing.

Dari banyak muridnya, yang juga cerai-berai di Rusia, Polandia, Austria, Prancis serta di Asia termasuk China dan Korea Selatan, ia mengaku tidak semuanya berhasil.

“Tapi hamba tak risau. Saya cuma mencari satu orang dalam setiap negara yang bersetuju bermimpi bersama saya untuk mempopulerkan tempe di negeri masing-masing, ” tutupnya.