Urusan Kualanamu: Epidemiolog peringatkan lemahnya pengawasan di bandara mampu membuat pandemi Covid bahkan sulit dikendalikan, Kemenhub janji akan evaluasi

0 Comments

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

  • Pijar Anugerah
  • BBC News Indonesia

34 menit dengan lalu

Sumber gambar, Antarafoto

Epidemiolog memperingatkan bahwa lemahnya pengawasan di bandara dapat membina pandemi Covid-19 semakin sulit dikendalikan, apalagi memasuki zaman mudik lebaran.

Membuktikan Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), mengatakan pengawasan yang lemah akan memajukan kemungkinan masuknya kasus sejak luar negeri, baik dengan dibawa oleh warga negara asing (WNA) maupun awak negara Indonesia (WNI).

Hal itu, ditambah tingginya mobilitas masyarakat saat mudik porakporanda meski pemerintah sudah sah melarangnya – dapat menjadikan lonjakan kasus setelah lebaran seperti yang terjadi tarikh lalu. “Setiap mobilitasnya kekar akan diikuti dengan kenaikan kasus yang cukup agung, ” kata Pandu.

Cacat dalam pengawasan di bandara terekspos oleh dua kejadian yang terjadi baru-baru tersebut. Polisi mengungkap kasus penerapan alat bekas pakai buat tes usap (swab) antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Sementara itu dalam Bandara Soekarno-Hatta, empat karakter ditangkap karena diduga positif delapan orang yang baru tiba dari India menghindari karantina.

Spesialis bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan bahwa menyusul dua insiden tersebut, pihak berwenang akan melakukan pertimbangan terhadap proses pengawasan dalam bandara. Proses yang dievaluasi termasuk pemberian kartu tepat bandara yang diduga dimanfaatkan oleh pelaku di Bandara Soekarno-Hatta. “Kami akan membantu agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi, ” introduksi Adita.

Mengantisipasi lonjakan pengikut di masa mudik lebaran, Adita mengatakan Kemenhub hendak “meningkatkan koordinasi antar instansi yang melakukan pengawasan di prasarana transportasi dan menyelenggarakan sosialisasi intensif kepada operator transportasi. ”

Protokol kesehatan tubuh selama penerbangan

Insiden dengan mengungkap kelemahan dalam perlindungan, seperti yang terjadi dalam Bandara Kualanamu dan Bandara Soekarno-Hatta, menimbulkan kekhawatiran sebagian masyarakat akan keamanan berjalan dengan pesawat di periode pandemi.

Ferry Rusli, dengan rajin bepergian untuk perkara pekerjaan sejak Agustus tahun lalu, mengatakan beberapa maskapai penerbangan ekonomi atau low-cost carrier agaknya belum ideal menerapkan protokol kesehatan pada pengaturan tempat duduk.

Sumber gambar, Ferry Rusli

Taat Ferry, maskapai premium semacam Garuda Indonesia biasanya mengosongkan kursi tengah di pada setiap barisan. Tetapi ketika dia pergi ke Sumba menumpang Batik Air Oktober berarakan, dia kaget mendapati pesawatnya penuh. ” Full banget dan super rapat [tempat duduknya], ” ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Maskapai setimbang Garuda pun, kata Ferry, masih memberikan makanan selama penerbangan, yang membuat kira-kira penumpang mencopot masker dalam atas pesawat untuk santap. “Baru belakangan ada imbauan sebaiknya makannya nanti sekadar, ” ujarnya.

Hal tersebut membuat protokol kesehatan terasa seperti formalitas belaka, prawacana Ferry. “Oke ini prokes dijalanin jadi aturan aja, tapi dalam fungsinya ada yang miss . ”

Danang Zona Prihantoro, corporate communications strategic PT Lion Air, yang merupakan induk maskapai Batik Air, mengatakan bahwa tulisan edaran Kementerian Perhubungan no. 3 tahun 2021 tidak mengharuskan ada batasan daya maksimal penumpang di pada pesawat, namun operator penerbangan wajib menyediakan tiga saf kursi yang akan dipergunakan sebagai area karantina bagi penumpang yang terindikasi bergejala Covid-19 selama penerbangan.

“Pelaksanaan operasional penerbangan telah dijalankan sesuai aspek-aspek yang memenuhi unsur keselamatan dan ketenangan, serta sesuai dengan kaidah protokol kesehatan di sedang masa pandemi, ” prawacana Danang melalui pesan teks kepada BBC News Nusantara.

Sumber gambar, Antarafoto

Adita Irawati menjelaskan bahwa Kemenhub tidak lagi mengharuskan kapasitas pesawat maksimum 70% karena syarat untuk penumpang motor sudah sangat ketat. Misalnya, hasil tes baik PCR maupun antigen kini hanya berlaku 1 x 24 jam dibandingkan sebelumnya 3 x 24 jam. Selain itu, kata Adita, sirkulasi udara di pesawat serupa sudah baik karena menggunakan filter HEPA seperti dengan ada di ruangan ICU.

“Tentunya protokolnya memang kudu diketatkan. Protokol yang kami ketatkan itu antara lain masker tidak boleh dilepas selama di dalam pesawat, tak ada makanan untuk pengikut di penerbangan di bawah dua jam, dan juga tidak dibolehkan bercakap-cakap, ” ujarnya.

Adita mengatakan, pihaknya juga terus memperingatkan kepada maskapai agar awak kabinnya lebih tegas mengatur pengikut saat hendak naik dan turun supaya tidak terbentuk kerumunan. “Kami terus menodong maskapai melakukan perbaikan dalam pengawasannya, ” ujarnya.

Sumber gambar, Antarafoto

Khawatir serupa India

Memasuki masa pegangan Lebaran, pengawasan protokol kesehatan tubuh di moda transportasi menjelma krusial demi mencegah lonjakan kasus.

Usai Lebaran tahun lalu, meskipun pemerintah juga sudah melarang mudik, berlaku kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69 sampai 93 upah dalam 10 hingga 14 hari setelah libur Idul Fitri.

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog dari UI, memperkirakan pergerakan masyarakat hendak tetap tinggi selama libur Lebaran. Menurutnya, bukan tak mungkin akan terjadi lonjakan seperti di India.

Miko, begitu dia biasa dipanggil, mengatakan pemerintah perlu mengantisipasinya dengan menggencarkan penelusuran kontak dan tes serta memperketat pembatasan sosial.

“Mudik tersebut mungkin tidak seperti India, tapi tetap terjadi penambahan yang bisa lebih tinggi dari perkiraan karena peristiwa yang tidak di- contact tracing atau OTG (orang minus gejala) itu akan memperbesar penularannya, ” ujar Miko.