Virus corona: Kasus infeksi ulang Covid-19 terkonfirmasi, penyintas ‘trauma dan takut terpapar lagi’

0 Comments
Virus corona: Kasus infeksi ulang Covid-19 terkonfirmasi, penyintas 'trauma dan takut terpapar lagi'

Dua pasien Indonesia yang telah sembuh dari Covid-19 menceritakan kekhawatiran mereka terjangkit virus corona lagi setelah ilmuwan di Hong Kong mengungkap kasus infeksi ulang dengan galur yang berbeda, meski pakar kesehatan belum mengetahui tentang prevelansinya.

Ilmuwan Hong Kong melaporkan kasus seorang pria berusia 30-an tahun yang kembali terjangkit Covid-19 setelah empat setengah bulan setelah pertama kali tertular.

Para ilmuwan di Hong Kong mengatakan pengurutan genom menunjukkan dua galur virus yang “jelas berbeda” dan dengan demikian menjadi kasus infeksi ulang pertama di dunia yang terbukti.

Sementara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan untuk tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan kasus satu pasien.

Di Indonesia, konfirmasi kasus infeksi ulang dengan galur yang berbeda memicu khawatiran dua pasien yang telah sembuh dari Covid-19.

Apalagi bagi Safri Sitepu, seorang wartawan berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan, yang sempat mengalami gejala parah.

Pria berusia 42-tahun itu mengatakan ia terpapar Covid-19 pada awal Juli lalu.

“Tentu saya ada rasa trauma. Ketika bertemu dengan orang, itu selalu saya ada kayak paranoid, ‘waduh’. Takut terpapar lagi. Kita kan nggak tahu orang itu seperti apa,” kata Safri kepada BBC News Indonesia via telpon.

Safri pertama berobat ke rumah sakit ketika mengalami gejala batuk dan demam. Namun, saat itu, hasil pemeriksaan kesehatan belum menunjukkan ia terinfeksi Covid-19.

“Setelah empat hari atau lima hari kemudian, kok obat yang dari dokter yang saya minum itu kok tidak ada perubahan, malah batuk saya semakin menjadi? Batuknya itu sudah mulai berdahak kecokelatan dan suatu malam, saya sudah mulai merasa sesak,” kata Safri, mengikat awal timbulnya gejala Covid-19 yang ia rasakan.

Ia pun akhirnya memilih untuk berobat ke rumah sakit yang berbeda, tempat ia menjalani pemeriksaan saturasi oksigen, CT scan paru-paru, dan tes usap untuk Covid-19.

Meski hasil tes usap belum keluar, hasil observasi dokter menandakan mirip gejala penyakit virus corona baru itu, sehingga ia pun dirujuk ke sebuah Rumah Sakit Umum Daerah yang khusus menangani Covid-19.

Hasil tes usap keluar sekitar lima hari kemudian dan menyatakan Safri positif Covid-19.

‘Mudah ngos-ngosan sampai sekarang’

Safri menjalani perawatan selama 21 hari di rumah sakit. Hari-hari pertama perawatan, ia mengungkap bahwa ia merasakan sakit yang “luar biasa”.

“Itu hari pertama sampai hari kesepuluh, sudah mulai rasa sakit sesak yang sudah tidak lepas dari oksigen. Bahkan hari ketujuh itu saya dirujuk ke ICU (unit perawatan intensif) tingkat pertama karena saturasi oksigen saya menurun terus,” tuturnya.

“Pas masuk ke ICU di sana itu, saya lihat ada beberapa orang sudah pakai selang yang dimasukkan ke mulut, ventilator lah yah. Saya juga diminta dokter untuk diganti selang oksigen yang tadinya dimasukkan ke hidung, saya diminta ganti oksigen yang lebih besar,” tambah Safri.

Ia merasa beruntung tidak mesti sampai harus menggunakan ventilator karena tidak lama setelah itu saturasi oksigennya meningkat.

Meski demikian, Safri menjelaskan dampak dari penyakit itu masih ia rasakan setelah pulang dari rumah sakit.

“Saya masih rasakan, masih sesak, masih lemas kalau beraktivitas,” ujarnya.

“Jadi kalau lelah, capek, itu langsung ngos-ngosan, napasnya pendek-pendek. Sampai sekarang,” tambahnya.

Dengan adanya terkonfirmasi kasus infeksi ulang Covid-19, Safri mengakui ia kini menjadi semakin khawatir dan waspada.

Sebuah laporan oleh para ilmuwan University of Hong Kong yang akan diterbitkan di Clinical Infectious Diseases, mengatakan seorang pria menjalani perawatan selama 14 hari di rumah sakit sebelum pulih dari virus, tetapi kemudian, meskipun tidak memiliki gejala lebih lanjut, dia dinyatakan positif Covid-19 untuk kedua kalinya dari hasil tes liur saat pemeriksaan di bandara.

Pasien itu dilaporkan terinfeksi pertama kali pada bulan Maret. Kemudian pada bulan Agustus, dia pergi ke Spanyol dan sekembalinya ke Hong Kong melalui London ia dinyatakan terinfeksi.

Padahal, sebagai seorang seniman dan penari, Ratri sebelumnya tidak jarang harus pergi ke berbagai lokasi bagi pekerjaannya. Hal itu kini ia coba hindari.

Namun, suatu keperluan yang mendesak akhirnya memaksanya ke benua Eropa.

“Keberangkatan aku ke Eropa ini, kalau nggak terpaksa mengurus urusan pribadi, itu aku kemarin prefer nggak meninggalkan Indonesia sama sekali. Dan sebelum pergi pun, aku menelpon airline-nya dan mengecek mereka peraturan social distancing-nya seperti apa. Jadi deg-degan banget sih kemarin waktu mau pergi itu,” ujar Ratri via telpon.

Seberapa besar kemungkinan terinfeksi ulang?

Menyusul hasil penelitian ilmuwan University of Hong Kong yang pertama kali mengkonfirmasi kasus infeksi ulang Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingkatkan penting untuk tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan kasus satu pasien.

Meski demikian, juru bicara WHO Margaret Harris menyatakan penemuan tersebut penting untuk memahami imunitas dari penyakit Covid-19.

“Inilah sebabnya mengapa kami memiliki banyak kelompok penelitian yang benar-benar melacak orang, mengukur antibodi, mencoba memahami berapa lama perlingdungan kekebalan tubuh bertahan – perlindungan kekebalan alami – dan itu harus dipahami karena tidak sama dengan perlindungan yang disediakan vaksin,” kata Harris dalam sebuah pernyataan untuk media, (25/08).

Secara terpisah, pakar biologi molekuler, Ahmad Utomo, mengatakan pendataan dari tes usap adalah cara utama untuk mendeteksi terjadinya infeksi ulang karena memang sifat virus itu memungkinkan terjadinya kasus.

“Virus itu, SARS-CoV-2, kan dia memiliki protein spike dan dia juga mengenali reseptor kita yang sangat spesifik, yaitu ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2). Kalau misalnya ada virus yang membawa gen spike dan manusia juga punya ACE2, itu saya nggak perlu bertaruh, itu pasti akan bisa nempel,” kata Ahmad via telpon.

Namun, ia menambahkan bahwa penelitian-penelitian sejauh ini belum mengindikasikan tingkat infeksi ulang.

“Jadi tetap masih bisa menginfeksi kita, apalagi daya imun kita, antibodi yang kita miliki tidak cukup, atau kita punya banyak tapi di lokasi yang keliru. Jadi antibodi yang selalu diukur biasanya dari darah kan, padahal kita juga perlu antibodi yang berada di rongga napas,” tuturnya.